Gigi Palsu Untuk Bunda

Gigi Palsu Untuk Bunda

Eri baru saja sampai di rumah, masih basah oleh keringat.  Maklum, cuaca akhir-akhir ini sangat panas.  Kemarau lebih panjang dari biasanya.  Mungkin inilah salah satu dampak perubahan iklim seperti yang ramai dibicarakan orang-orang.  Ah, mboh lah…!!!  Yang pasti Eri baru datang dari desa Suka Makmur, tempatnya ditugaskan sebagai bidan desa.  Sebenarnya desa ini hanya berjarak 95 km dari rumah orang tuanya di Pangkalan Bun, salah satu ibukota kabupaten di Kalimantan Tengah.  Namun karena sulit ditempuh lewat jalur darat, maka mayoritas penduduk disana menggunakan speedboat sebagai sarana transportasi utama.  Bagi Eri sendiri, perjalanan lewat jalur air lebih mengasyikkan.  Pemandangannya indah.  Kalimantan terkenal sebagai pulau seribu sungai.  Nah, salah satu sungai besarnya adalah Sungai Lamandau, lebarnya hampir lima puluhan meter.  Sumber air yang tak pernah kering meskipun musim kemarau panjang seperti saat ini.  Di sepanjang sungai itu, hidup berbagai jenis pohon besar dan kecil.  Akar-akar gantung berlomba menjuntaikan ujung-ujung kakinya ke air.  Monyet kadang terlihat bergelantungan di daerah yang masih perawan.  Burung-burung...
Read More
Udin

Udin

Udin menahan pedih yang menyayat hatinya saat mendengarkan cercaan Acil1 Minah.  Bahkan matahari masih malu-malu menampakkan sinarnya pada dunia, namun Acil Minah sudah membeberkan aibnya pada seluruh tetangga. “Coba kamu ingat Udin...uang yang kamu pinjam itu sudah berapa lama???  Saya juga perlu duit buat hidup!  Saya lihat kamu kalau punya uang bukannya membayar utang malah kamu hambur-hamburkan.  Harusnya kamu mendahulukan membayar utang pada saya kan?”, ujar Acil Minah penuh Emosi.  Dia bicara dengan suara keras yang bisa didengar dalam radius sekian puluh meter.  Sengaja...mempermalukan Udin dan keluarganya yang tak juga membayar utang. “Bukan begitu, Cil....   Tapi memang saya belum ada duit buat bayar utang dengan Acil.  Saya benar-benar minta maaf jika waktu pengembaliannya lama.  Selalu ada yang lebih mendesak, makanya saya mohon kebijaksanaan Acil untuk memberi tambahan waktu”, sahut Udin menekan perasaan. Enor, istri Udin memilin-milin ujung dasternya.  Sesekali ia menyusut air mata yang menetes diam-diam di sudut matanya.  Isaknya tertahan.  Uji dan Yakin, dua anaknya yang masih duduk di kelas enam dan lima...
Read More