Terminal Cinta Alya

Terminal Cinta Alya

Namaku Alya. Aku dua puluh tiga tahun lewat dua bulan. Usiaku sudah bukan mainan dalam memutuskan perkara penting dalam hidupku. Apa yang ingin kulakukan, apa yang benar-benar kuinginkan dalam hidup, aku jelas mengetahuinya dan sedang menuju ke sana. Termasuk cinta. Dalam kepalaku, profil laki-laki impian dan gambaran cinta seperti apa yang ingin kujalani sudah tergambar dengan jelas. Pernikahan dengan seorang laki-laki sholeh yang akan menjadi pemimpin bagiku, juga anak-anakku kelak dengan landasan cinta karena Allah. Pernikahan barokah yang diawali dengan proses yang halal, tanpa melanggar syariah-Nya dari awal hingga akhir. Ya, aku sedang menuju kesana saat tiba-tiba tujuanku terhenti. Aku merasa seperti penumpang bus, sedang berdiri di terminal untuk beberapa lama. Menunggu bus yang akan mengantar ke tujuan dengan selamat. Bus yang searah dengan tujuanku. Tapi tiba-tiba saja aku tergoda untuk menaiki bus lainnya. Bukan hanya satu tapi dua. Oh, kupikir aku gila!!! Hari itu…di bandara Syamsudinnoor semuanya dimulai. Jadwal penerbangan pukul 13.50 Wita telah membuatku berada di sana satu setengah jam lebih...
Read More
Jeng Kelin

Jeng Kelin

Episode Alin “Itu perlu pendampingan, Mbak! Kalo sampeyan biarkan, bisa kacau nanti!”, sembur Jeng Kelin serta merta. Sang terdakwa, Alin, perempuan awal tiga puluhan yang baru menyesuaikan diri dengan amanah barunya sebagai ibu itu tersentak kaget. Belum pernah dalam pengalamannya berinteraksi dengan manusia-manusia dari komunitas ini diperlakukan begini. “Itu amanah lho, Mbak! Kita dimintai pertanggungjawaban...”, serbunya lagi. Alin, ibu muda itu menelan ludah. Pahit. Namun lebih pahit terasa di hatinya. Ia tak menyahut sepatah kata pun, hanya mengeluarkan senyum kecut yang dipaksakan. Sungguh, jika bisa ia ingin tenggelam dalam retakan bumi secepatnya. Ia sukses dipermalukan dihadapan junior-juniornya! Episode Aisyah “Kamu gimana? Masihkah permasalahanmu yang dulu itu?”, lagi-lagi Jeng Kelin mencecar korbannya. Kali ini Aisyah, ibu muda, benar-benar muda karena ia menikah tepat di awal dua puluhan. Ia bahkan masih berstatus anak kuliahan saat menikah dua tahun lalu. “Masalah apa, Mbak?”, tanya Aisyah pelan sambil menggendong putrinya. Meskipun tersenyum, namun mulai terlihat ketidaknyamanan dalam gerak-geriknya. “Lho...dulu masalahmu apa?”, tembak Jeng Kelin kembali. “Hehe...”, Aisyah mencoba mengatasinya dengan tawa...
Read More
Hujan dan Jas Hujan

Hujan dan Jas Hujan

Aku menyukai hujan.  Begitu menyukainya hingga sering menantikannya.  Semakin lebat, semakin dingin, semakin aku menyukainya.  Tak seperti orang lain yang otomatis berteduh saat tetes-tetes bening itu turun, aku dengan senang hati bermain dengannya.  Tak peduli dengan rasa dingin yang menusuk tulang, tak menghiraukan petir yang kadang menghiasi suasana.  Sejak aku mengenalnya di usia belia, aku selalu mencari cara agar bisa bersamanya.  Menunggu di ujung talang air di samping rumah, agar curahannya bisa menghujaniku semakin deras. Biasanya Ibu akan memberi kesempatan bermain sejenak sebelum beliau menghentikan cengkeramaku bersama hujan, memandikan lalu membungkusku dengan pakaian tebal.  Tak lupa segelas susu cokelat yang mengepul hangat.  Begitu selalu.  Bahkan jika hujan turun saat aku pulang sekolah, aku akan menerobosnya penuh suka cita.  Mungkin itu juga salah satu alasan aku tak menyukai jas hujan. Logikaku begitu sederhana...aku menyukai hujan ini, jadi mengapa aku harus berlindung darinya?  Bukankah takkan menyenangkan jika aku memakainya? “Kriiiiing...”, telfon di ruang tamu membuatku meletakkan gelas berisi teh beraroma melati yang menghangatkan dua telapak...
Read More
Rapunzel

Rapunzel

“Why I can’t go outside?”, Rapunzel ask to her mother. “The outside world is a dangerous place, filled with horrible, selfish people.  You must stay here, where you’re safe”, her mother said. Haruskah aku juga mengurung diri di menara untuk menjauhi dunia yang kejam ini? *** “Aaaaaa....”, seseorang berteriak histeris.  Dina mendengarnya merasakan seolah suara itu berasal dari tempat yang jauh.  Sangat-sangat jauh.  Dengan semua sisa tenaga yang dimilikinya, gadis kecil berusia tujuh tahun itu mencoba membuka matanya.  Sakit.  Ia menangkap seberkas sinar di belakang seorang wanita yang berteriak tadi.  Lalu semuanya menjadi gelap. *** “Dina...dimana kamu, nak?”, Ibu Rani, pengawas panti asuhan memanggil.  “Dina...?”, ia memanggil lagi dan tersenyum saat mendapati orang yang dicari sibuk dengan kuas-kuas cat airnya.  “Rupanya kamu di sini, nak.  Apa yang kamu gambar kali ini?”.  Ibu Rani melihat lukisan di atas kanvas itu dan terbelalak.  “Nak, mengapa masih melukis ini?”, tanyanya dengan suara tercekat di tenggorokan.  Yang ditanya tak menjawab atau mengubris satu pun pertanyaan.  Ia melanjutkan pekerjaannya seperti semula,...
Read More
12