Aku, Kamu dan Dia

Aku, Kamu dan Dia

Aku tercenung lama di depan komputer yang tak digunakan.  Mataku memang memandangi layar di hadapan namun pikiran jelas sedang berkelana.  Berkas yang sejak tadi harus kuperiksa pun tak tersentuh.  Kubaca sekali dua kali pun pikiranku tetap saja tak mau hinggap disana.  Ia kembali beterbangan mengingat pertanyaan seniorku tadi malam.  “Man, kamu itu sudah saatnya menikah.  Gimana kalau kujodohkan dengan Ratih?”, tanya Bang Irfan. “Hah?  Ratih, Bang?”, aku kaget bukan kepalang!  Aku mengenalnya cukup baik.  Ia rekan sekantor Bang Irfan yang dipindahtugaskan kemari beberapa bulan lalu.  Aku memang baru mengenalnya sebentar namun sudah cukup banyak berinteraksi dengannya.  Kami terlibat kepanitiaan bersama dalam kegiatan kantor dan masyarakat.  Lagipula tempat tugas kami ini terpencil.  Aktivitas kecil sekalipun bisa diketahui tetangga di ujung kampung sehingga sepak terjangnya sering mampir di telingaku meski tak kulihat langsung.  Belum lagi kami terhubung kedekatan pada Bang Irfan.  Aku bersahabat dengan seniorku itu sejak pertama kali bertugas sementara gadis itu dekat dengan istri seniorku tersebut karena mereka satu pengajian. “Serius?”, tak...
Read More
Markesot Bertutur

Markesot Bertutur

Kolom Markesot Bertuturnya Emha Ainun Najib yang dibukukan ini saya temukan di detik-detik terakhir saat berada di toko buku.  Demi buku ini, saya rela menggusur novel milik penulis favorit saya.  Maklumlah, kuota dana terbatas... *Ups...^_* Membaca sinopsis  di bagian belakang buku itu saja sudah bikin penasaran berat.  Apalagi setelah membaca lembar demi lembar isinya!  Terasa benar idealisme yang disuarakan  sang penulis.  Kebanyakan isi kolom ini adalah kritik pada penguasa ala Cak Nun yang memang bikin saya sukses merasakan nano-nano.  Sentilan-sentilan ala Markesot, Markendi, Markembloh dan Mar-Mar lainnya yang tergabung dalam KPMb (Konsorsium Para Mbambung) yang bernas dan cerdas itu mampu membuat saya hanyut bersama mereka.  Kadang prihatin, kadang sedih, kadang ikut marah dan tak terima!  Namun akhirnya tertawa juga!  Tak percaya? Mari kita baca bersama salah satunya! *** Kepekaan Untuk Mengamankan Demokrasi Tatkala sedang asyik-asyiknya para penghuni rumah Markesot mendiskusikan dan memperdebatkan isi Majalah Dinding yang makin hari makin aneh-aneh saja, mendadak datang seorang tamu yang tergopoh-gopoh dengan wajah pucat dan ketakutan. “Hei!  Kamu...,” Markesot...
Read More
Pretty Woman in Magnificent Land

Pretty Woman in Magnificent Land

Seperti Alice yang menemui hal-hal menarik saat memasuki Wonderland, pengunjung Taman Nasional Tanjung Puting pun akan mengalami hal serupa.  Inilah sebabnya, aktris sekaliber Julia Roberts pun menginjakkan kaki kemari, bahkan jauh sebelum ia terlibat dalam film Eat, Pray and Love di Bali.  Tahun 1992 aktris yang juga populer lewat film Pretty Woman itu mengunjungi Taman Nasional Tanjung Puting, bahkan membuat film dokumenter yang semakin mempopulerkan destinasi wisata ini di mata dunia. Saat wisatawan asing beramai-ramai kemari ingin menyaksikan primata langka yaitu Orang Utan di habitat aslinya ini, saya seperti sebagian penduduk asli Kalimantan Tengah lainnya malah belum pernah menginjakkan kaki kesana.  Dan saya merasa malu!  Terlebih saat menyadari fenomena seringnya saya bertualang ke kota lain dan melupakan keindahan daerah sendiri.  Itulah yang menyebabkan saya memutuskan salah satu destinasi yang dikunjungi tahun ini adalah Taman Nasional Tanjung Puting.  Yep, saya adalah wisatawan lokal! Kesempatan berkunjung tiba saat menemukan tanggal merah di Kalender pada hari sabtu, minggu dan senin di bulan April.  Saya pun...
Read More