Jejak Literasi di Masa Kejayaan Islam

Jejak Literasi di Masa Kejayaan Islam

Konon ada pelajaran tertentu yang ditekuni oleh orang-orang hebat. Pertama bahasa dan yang kedua adalah sejarah. Para negarawan mempelajari bahasa salah satunya agar bisa menjalin komunikasi efektif. Mereka juga menyelami sejarah agar bisa mengambil pelajaran. Tak mengulangi kesalahan dan mampu menorehkan prestasi lebih baik dibanding pendahulunya. Dalam sejarah dunia, Islam pernah menempati posisi sebagai poros peradaban. Di saat bangsa Eropa masih berada dalam masa kegelapan, Islam telah menerangi manusia dengan peradaban gemilang. Kegemilangan ini dimulai dari masyarakat arab jahiliyah terbelakang yang bermetamorfosa menjadi sebuah kekuatan besar. Awalnya hanya berpondasi di Madinah. Namun seiring berjalannya waktu, wilayah kekuasaan Islam terus berkembang di semenanjung arab dan sekitarnya. Lalu meluas melintasi benua dan samudera. Beberapa sejarahwan bahkan menuliskan, wilayah kekuasaan Islam itu hampir meliputi sepertiga bagian dunia. Luar biasa! Tak heran jika akhirnya Islam menjadi poros peradaban dunia. Aqidah yang menghujam kokoh di sanubari, syariat yang selalu terjaga dalam keseharian kaum muslim menjadikan mereka generasi terbaik. Tak hanya menaklukkan peradaban besar yang telah mapan ratusan tahun...
Read More
Hijrah dan Istiqamah

Hijrah dan Istiqamah

Hijrah. Kata ini demikian populer akhir-akhir ini. Banyak yang mengatakan sedang mencoba berproses menjadi lebih baik. Berhijrah. Kata ini makin populer di media sosial memasuki tahun baru Islam seperti sekarang. Sebagaimana kita ketahui, tahun baru Islam ini memang menjadi sebuah momentum yang menandai peristiwa penting dalam sejarah Islam. Ya, peristiwa hijrah Nabi Muhammad Saw dari Kota Makkah ke Madinah. Saat membaca sirah, tergambar jelas perjuangan dan pengorbanan Rasulullah SAW beserta para sahabat untuk mempertahankan risalah Islam 14 abad silam. Tak terbayang penderitaan yang harus ditanggung mereka di siang terik dan malam gulita.  Berjalan kaki, naik turun gunung terjal berbatu juga melewati padang pasir tandus. Itu pun dengan perbekalan seadanya. Padahal di Makkah mereka bisa hidup nyaman jika berkompromi dengan orang-orang musyrik. Namun semua itu tak mereka lakukan! Berhijrah hakikatnya merupakan sebuah langkah strategis guna membangun basis kekuatan baru kaum muslimin. Institusi yang menaungi kaum muslim dan dipimpin langsung oleh Rasulullah SAW, dilanjutkan Khulafaur Rasyidin hingga Turki Ottoman. Empat belas abad lebih telah berlalu dari peristiwa...
Read More
Anak Ayam Kehilangan Induk

Anak Ayam Kehilangan Induk

Suatu hari saya menyaksikan televisi dipenuhi berita tentang serangan brutal yang dilakukan tentara Israel pada penduduk Palestina.  Pagi, siang, petang, semua mengupdate kondisi terkininya.  Rumah dan gedung porak-poranda.  Darah berceceran dimana-mana.  Meski korban terus berjatuhan dan mata dunia semua tertuju kesana, namun tak banyak yang bisa dilakukan selain doa. Awal melihat kejadian ini, saya dan beberapa kawan menangis berjam-jam di depan televisi.  Mata bengkak dan hati dipenuhi rasa sakit.  Naasnya kejadian serupa terus berulang tahun berikutnya, berikutnya dan berikutnya lagi sampai terbiasa! Hal yang sama kali ini terjadi pada Rohingya.  Ketika beberapa tahun lalu manusia-manusia perahu itu luntang-lantung di tengah lautan, semua mengutuk.  Sepakat merasakan hal ini sebagai tragedi kemanusiaan.  Maka mengulurkan tangan sebisanya membantu mereka adalah kewajiban.  Tapi kemudian kejadian ini berulang!  Naasnya, lagi-lagi kita sudah terbiasa.  Terbiasa melihat manusia-manusia lainnya dibantai.  Terbiasa menyalurkan bantuan berupa makanan, pakaian, obat-obatan.  Bahkan kadang cukup puas membantu dengan doa.  Ahhh, itu pun kalau ingat! Belakangan isu Rohingya menjadi polemik baik tingkat akar rumput hingga...
Read More
Berjuang Lalu Bersyukur

Berjuang Lalu Bersyukur

“Setidaknya diriku merasa tenang sudah diperjuangkan walaupun nggak ada hasilnya”, kalimat ini melintas dalam chat bersama seorang rekan.  Saya langsung ngakak.  Geli ketika mendengar kalimat milik saya itu dilontarkan kembali oleh orang lain.  Tapi kalimat ini memang pernyataan terjujur yang pernah saya ungkapkan padanya.  Ada sejarah panjang kemunculan kalimat sederhana itu. Pada suatu keadaan, saya pernah mengambil satu keputusan ekstrim.  Entahlah.  Mungkin setelah diterpa berbagai badai kehidupan (duh, bahasanya yah? :lol: ), saya mulai nekad memintas jalan.  Salah??  Tentu saja!  Tapi namanya manusia, pasti aja selalu punya pembenaran atas keputusan-keputusannya.  Termasuk saya yang saat itu lagi dilema.  #Eaaa.... Ah, mengenangnya aja masih terasa manis asem asinnya!  Singkatnya, masa itu bisa dibilang masa kegelapan saya deh.  Akibatnya semua serba salah.  Ehm...bukannya nggak tahu sih bakal ada buntut panjang begini.  Tahu...tapi itulah keputusan terbaik kala itu yang bisa saya lakukan.  Titik! Apa yang terjadi kemudian??  Saya perlu waktu  hampir empat tahun untuk memperbaikinya.  Tahun pertama yang terberat karena saya harus menelan semua tudingan dan amarah. ...
Read More