Kubisik Namamu

Kubisik Namamu

Aku menahan nafas melihat sebuah foto dalam kolom pencarian diaplikasi instagram handphone-ku.  Diakah?  Aku refleks menggerakkan jari mengklik gambar itu.  Lupa dengan tujuan awal yang ingin mencari tahu destinasi wisata Bandung yang direkomendasikan teman.  Gambar di tengah pada baris kedua itulah yang kutuju.  Dan demi melihat senyum lebar agak malu itu, hatiku pun seketika jatuh berdebar. Ya, ini laki-laki yang kutemui lima tahun lalu di sebuah seminar kepenulisan.  Mahasiswa fakultas teknik di almamaterku dahulu.  Panitia ikhwan yang diutus kakak sepupunya memberikan tiket gratis padaku.  Sebuah hadiah karena lama tak bersua. Ungkapan rindu pada saudara seperjuangan di kampus pada masa lalu. Seorang kurir yang meninggalkan jejak dalam hatiku. *** “Desember nanti kamu pulang kesini kan?  Ada seminar kepenulisan nih!  Aku udah pesenin tiket buat kamu.  Pembicaranya Boim Lebon lho...”, ujar Kak Rina saat menelfonku. “Yang bener, Kak?”, aku diliputi perasaan senang.  Zaman kecil dulu, novel lupusnya pernah menjadi salah satu bacaan favoritku!  “Rencananya memang mau pulang sih soalnya udah kangen banget sama rumah.  Tapi ya...
Read More
Mengenang Tanda Seru (!)-ku

Mengenang Tanda Seru (!)-ku

Teknologi bertambah maju. Dunia pun berubah. Dulu kalau ingin menyampaikan opini, kita harus mengirimkan tulisan ke berbagai media cetak. Entah itu koran atau majalah. Itu pun belum tentu dimuat! Kalau tidak memenuhi standar media yang dituju, tulisan kita pun berakhir disana.  Tapi sekarang, hanya berbekal gawai saja kita sudah bisa langsung membagikan opini. Baik melalui media sosial maupun blog. Saya sendiri tertarik ngeblog sejak "diracuni" oleh tulisan "seleb kampus" zaman kuliah dulu, wkwk... :lol Saat membaca tulisan yang bergaya cuek tapi analoginya ngena banget itu, saya pun jatuh cinta. Saya sering menanti-nanti kapan tulisan berikutnya muncul? Tema konyol apa lagi yang ia angkat?? Fakta kekinian, analisis tajam dengan bahasa renyah, jadi deh bikin betah!  Rasanya jadi pengen juga bikin rumah maya, tempat mengeluarkan semua ide di kepala. Terutama ketika saya merasa juga punya banyak kisah ajaib saat menjalani tugas di daerah pedalaman. Anak manja yang terbiasa di kota, demikian keraguan Ama. Apakah anak gadisnya ini akan survive menghadapinya? ;) Di hari-hari awal, tentu saja...
Read More
Lonely

Lonely

“Popularitas tidak mengakhiri kesepian” ~ Claire Danes ~ “Dear passengers, in a few minutes we will arrived and landed in Incheon International Airport of South Korea.  Please straighten your seat and fasten your seatbelt.  Please be sure to take all of your belongings...”, suara pramugari mengingatkan penumpang.  Aku menarik nafas panjang.  Agustus tiba!  Sebagaimana dijadwalkan, aku akhirnya menjejakkan kaki di negeri ginseng, Korea.  Berbagai perasaan campur aduk menjadi satu.  Bahagia sebab mimpi melanjutkan studi di luar negeri akan segera terpenuhi.  Namun juga gugup jika mengingat jauhnya jarak dengan tanah kelahiran.  Juga perbedaan budaya dan bahasa. Ah, bahkan bandara Incheon yang megah tak mampu mengusir rasa terasing yang mulai mengusik.  Orang-orang berbicara dengan kata yang seolah semuanya berujung “O”.  Yo, haseyo, jusipsiyo, murago!  Alamak, rasanya seperti mimpi!  Biasanya aku cuma nonton drama korea di televisi.  Tapi hari ini, seolah aku masuk ke dalam plot dan menjadi salah satu aktornya! *** Sebuah taman dengan pohon-pohon besar berkanopi lebar menggodaku.  Lelah setelah menelusuri kampus baruku sejak siang...
Read More
Cado Cado (Catatan Dodol Calon Dokter)

Cado Cado (Catatan Dodol Calon Dokter)

Judul Buku  : Cado Cado (Catatan Dodol Calon Dokter) Penulis         : Ferdiriva Hamzah Penerbit      : Bukune Tebal Buku : 200 Halaman Genre          : Non Fiksi - Komedi Cetakan       : Kesepuluh, Tahun 2014 Banyak diantara kita yang ketika kecil ditanya tentang cita-cita, akan menjawab : dokter! Kenapa? Karena bagi kita dokter itu profesi yang keren. Ya kan ya kan?? Nah, ternyata kerennya mereka itu nggak tetiba jadi ketika terucap mantra sim salabim. Ada proses panjangnya. Biasanya sih proses panjang ini akan digambarkan secara serius demi menjadi inspirasi kawula muda yah?? Tapi Riva (panggilan penulis yang saat ini berprofesi sebagai dokter spesialis mata itu) justru menceritakan pengalamannya selama berjuang menyelesaikan ko-ass dalam bahasa kocak bahkan terkadang tengil. Dimulai dengan penjelasan ala-ala tentang ko-ass yaitu ketika mahasiswa(i) kedokteran selesai mempelajari teori dan praktek di kampus selama delapan semester, mereka pun resmi menyandang gelar sarjana kedokteran. Apakah sudah bisa praktek?? Belum!! Mereka kudu ngenjalanin ko-ass dulu selama 2 tahun. Bisa kurang...
Read More