Suara-suara histeris berkumandang.  IGD dipenuhi korban kecelakaan mobil didampingi sanak keluarga.  Kabarnya dua orang langsung meninggal di tempat sementara delapan orang lainnya terluka parah, termasuk Ayu.  Kutarik nafas panjang, mencoba memahami semua kenyataan ini.  Perempuan itu pagi tadi masih tersenyum manis ketika aku berangkat kerja.  Masih mencerewetiku agar tak melewatkan makan siang saat ia tak ada.  Masih sempat bertanya padaku, ingin dimasakkan apa saat ia datang nanti?  Masih bisa mengeluh tentangku yang lebih sering memeluk kamera dan membuat berita dibanding memperhatikan dirinya.  Aku hanya menertawakan sepintas dan mengoloknya manja.  Tapi lihat sekarang, ia terbaring kesakitan di ruang operasi.  Tak terasa air mata turun disertai pedih yang menusuk dada.  Rasa takut kehilangan dirinya menyerbuku tanpa ampun.

***

Siapa yang menyangka kalau aku justru menghabiskan hari-hariku di rumah sakit dan turut jadi incaran para jurnalis.  Korban meninggal dua orang, tiga kritis dan lima lainnya mengalami luka berat.  Kamusnya, semakin banyak korban maka semakin meriah berita disajikan.  Sebagai bagian dari dunia ini, aku bisa memahami bagaimana usaha keras para kuli tinta mencari berita.  Tapi sebagai bagian dari keluarga korban, tanpa ditanya saja kami sudah cukup lelah dan menderita.  Apalagi jika pertanyaan bertubi tanpa henti ditanyakan berulang kali.  Bahkan rekan kerja yang mengawali wawancara dengan kata turut prihatin pun bagiku rasanya sama saja.  Aku tak lebih hanya seorang keluarga korban yang harus dimintai keterangan.  Permintaan maafnya diakhir perbincangan kami serasa hambar.  Beberapa jam kemudian mulai turun berita online berbau seputar BMW Maut telan Sepuluh Korban!  Tabrak Lari Telan Dua Korban Jiwa, Sisanya Kritis!  Kronologi BMW Maut Jalan Tol!

Meski enggan namun aku membaca satu per satu berita tersebut.  Alasannya sederhana, aku penasaran tentang pelaku tabrak lari itu.  Entah kenapa polisi tiba-tiba bungkam saat kutanya identitas pelaku.  Padahal kudengar BMW pelaku masih ada di lokasi saat evakuasi.  Bukankah tak sulit menelusuri kepemilikan mobil mewah itu?  Kenapa bahkan setelah dua minggu, tak ada kemajuan apa-apa yang dapat diungkap ke hadapan publik?

Kejanggalan lainnya terlihat dalam simpang siurnya berita yang diturunkan awak media.  Media tempatku bekerja menyatakan bahwa pelakunya adalah seorang perempuan dan saat ini sedang dalam pengejaran.  Keterangan ini diberikan oleh salah satu petinggi kepolisian.  Sementara media saingan kami memberitakan bahwa pelakunya justru seorang laki-laki paruh baya yang juga sedang dalam pengejaran.  Keterangan ini diberikan oleh pejabat lainnya di lembaga yang sama.  Bukankah janggal?  Jiwa jurnalisku mulai terusik!

Mulailah aku mengumpulkan berbagai data tentang kecelakaan itu.  Sebagai keluarga korban harusnya aku mendapatkan kemudahan akses untuk melihat laporannya.  Namun jawaban petugas yang tak masuk akal itu membuat kecurigaanku menguat.  Hal aneh lainnya, saat menyebut identitas sebagai keluarga korban kecelakaan tabrak lari itu, satu ruangan tiba-tiba hening.  Semua kepala menoleh.  Semua mata memandang.  Ah, aku mencium bau busuk!

“Jo, tolong beritahu hasil penyelidikanmu terhadap kasus kecelakaan istriku”, pintaku pada Johan, seorang rekan yang bertugas menginvestigasi kasus ini.  Dia memaparkan kronologis kejadian dan beberapa fakta lain yang sebagian besar sebenarnya sudah dimuat media.  Aku mendengarkan sambil sesekali mengangguk.  Aku juga sudah menyelidiki kejanggalan demi kejanggalan yang nampak dalam pemberitaan simpang siur itu.  Sekaligus melacak langsung pada para pembuat beritanya.

Johan adalah orang kedua yang kumintai keterangan.  Ia menyorongkan foto-foto TKP dan proses evakuasi korban.  Tanganku mengepal ketika melihat tubuh ringkih istriku disana.  Gamis hijau bersimbah darah.  Kerudung putih bermotif bunga tulip hijau dan kuning hadiah dariku itu turut berubah merah kehitaman.  Meski ini bukan pertama kali melihat, namun aku tetap memejamkan mata.  Menelan pahit.  Menahan Tangis.  Membayangkan ia terpental dari dalam mobil yang ditumpanginya.  Hari itu ia meminta izin menjenguk kakaknya yang baru melahirkan.  Karena bertugas meliput berita penting, aku tak bisa mengantar.  “Udah, abang kerja aja!  Aku nggak papa kok naik travel…”, terngiang kalimatnya di telinga.  Ah, perempuan yang selalu penuh pengertian itu saat ini pasti kesakitan!

Johan menepuk bahuku lembut.  Menyadarkanku lagi tentang ruang dan waktu.  Juga apa yang ingin kutemukan darinya.  Aku tahu dia seorang jurnalis handal dan dapat dipercaya.  “Ada yang lain?”, tanyaku sambil menyusut air mata.

Johan menyorongkan handphonenya dan memutar sebuah video.  “Ini dari salah satu saksi mata, Put.  Dia rupanya diam-diam ngedokumentasiin proses evakuasi hari itu”, ujarnya sambil melihat ke kanan kiri.  Aku mengikuti arah pandangannya.  Aku mengerti, Johan mencoba waspada karena perbincangan selanjutnya pastilah rahasia.  “Ada yang menarik disini!  Perhatiin deh BMW putih itu!  Selama ini awak media cuma dikasih lihat mobil milik travel yang ditabrak aja kan?  Sementara mobil pelaku tabrak lari ini belum pernah sekali pun diekspose kehadapan publik.  Nah, beberapa hari lalu, saksi mata yang nggak mau disebut namanya ini menghubungi kami.  Dia bilang punya rekaman videonya.  Jadi kami tahan dulu deh biar nggak nyebar!  Yah, kamu tahulah…kalau udah kesebar pasti ribet ngelacak pemiliknya”, ujar Johan panjang lebar.  Ia kembali menoleh ke kanan kiri dan melanjutkan, “Kayaknya sih emang ada upaya menutup-nutupi pelaku!”.

“Siapa?”, tanyaku dengan suara kaku.

“Put, kamu harus tenang!  Ini bukan kasus tabrak lari biasa!  Kamu musti ngadepinnya dengan kepala dingin…”, ujarnya mencoba menenangkan.

“Siapa??”, kali ini suaraku meninggi.  Beberapa orang yang duduk bersama kami di lorong rumah sakit menoleh.  Johan panik.  “Aish…sudah kubilang tenangkan diri dulu!”.

“Bagaimana aku bisa tenang, Jo?  Istriku terbaring di ICU dengan berbagai macam alat terpasang di tubuhnya!  Sudah sebulan dia terbaring disana dan nggak ada tanda-tanda akan membuka mata!  Dan sekarang kamu minta aku tenang??”, air mata merembes.  Akhir-akhir ini air mataku seolah tak terbendung.  Dan memang tak stabil secara emosional.  Bagaimana bisa stabil saat menyadari setengah nafasmu antara ada dan tiada di ruangan serba putih itu?

Johan menggaruk kepalanya yang tak gatal.  Keningnya berkerut-kerut.  “Oke, aku kasih infonya dengan syarat kamu ngizinin aku membantu!”, ujarnya.  Aku mengangguk.  “Dan akan mempertimbangkan setiap saranku?”, tambahnya lagi.  “Tergantung!”, sahutku tak mau terjebak.  Dia mengacak rambutnya kali ini.  Mungkin frustasi.  “Oke, kalau begitu minimal kamu mendengarkan dulu saran-saranku sebelum bertindak?”, tawarnya.  Meski ragu namun aku mengangguk.

Johan pun mengeluarkan sebuah dokumen dari ransel dan menyorongkannya padaku.  Baru saja ingin membuka, tiba-tiba dua orang laki-laki perlente datang menghampiri kami.  “Maaf, apakah anda Putra Yudisia?”, tanya salah satunya.  “Iya…”, sahutku.  “Ada yang ingin kami bicarakan dengan anda empat mata.  Bisa?”, tanyanya formal.  “Kalau boleh tahu, anda siapa dan ada keperluan apa?”, tanyaku waspada sembari melirik Johan.  Johan membuang muka dan langsung berdiri, “Ehm, kayaknya kamu ada tamu.  Aku beli minuman di depan dulu ya…”, ujarnya sambil mengedip dan memberi tanda pada berkas di tanganku.  Aku mengiyakan saja dan langsung menyimpan dokumen itu di balik jaket kulitku.

Begitu Johan berlalu, aku mengajak dua orang laki-laki tadi ke kantin rumah sakit.  Mereka mengatakan bahwa mereka adalah perwakilan dari klien mereka yang tak lain merupakan tersangka pelaku tabrak lari pada kasus kecelakaan istriku.  Klien mereka bukan sengaja melarikan diri, namun semata-mata didorong oleh rasa takutnya.  Saat ini ia bahkan mengalami trauma sehingga sulit jika harus datang langsung kehadapan keluarga korban.  Oleh karena itu, dua pengacara perlente itulah yang mewakilinya.  Mewakili meminta maaf dan tak lupa mengumbar janji memberikan ganti rugi pada keluarga korban!

“Apa??”, aku naik pitam!  “Dia trauma??  Apa dia tahu karena perbuatannya dua orang sudah meninggal dunia, tiga lainnya masih belum beranjak dari ICU dan lima lainnya harus menjalani berbagai operasi??”, suara baritonku menggema ke seluruh ruangan.  Orang-orang disana seketika memperhatikan.  “Sabar, Pak!”, ujar salah satunya.  “Silahkan duduk dulu dan mendengar penjelasan kami”, pintanya.  Aku menarik nafas panjang dan kembali duduk.  “Seperti yang disampaikan rekan saya tadi, klien kami akan bertanggungjawab penuh terhadap pengobatan korban dan kesejahteraan keluarganya”.  Ia lalu menyebutkan angka-angka fantastis yang membuatku mendadak tertawa.  Oh, jadi ini maksud mereka datang?  Bahkan polisi katanya belum menemukan tersangkanya, namun mereka sudah bergerilya terhadap keluarga korban??

“Maaf, saya nggak butuh uang santunan!  Saya cuma ingin keadilan ditegakkan!  Setrauma apapun kondisinya, silahkan yang bersangkutan menyerahkan diri pada pihak berwajib.  Juga meminta maaf langsung pada para keluarga korban.  Uang tak bisa membayar penderitaan kami.  Dan satu lagi, jangan sekali-sekali anda jadikan santunan sebagai upaya untuk menghindari tindak pidana!”, ujarku sambil berlalu.

***

Aku masuk ke toilet dan membuka berkas yang diberikan Johan.  Meski dua pengacara tadi tak menyebut jelas nama klien mereka, namun aku mulai menduga-duga.  Wajah salah satu yang senior sangatlah akrab di mata.  Seringkali menghias layar kaca membela para selebriti dan pejabat yang terkena berbagai kasus.  Dan saat mengeja satu nama dikertas kepemilikan BMW putih itu membuatku sadar bahwa upaya mendapat keadilan dalam kasus ini akan sulit.

Aku membasuh wajah dengan air keran.  Kupandangi kumis dan jambang yang tumbuh tak beraturan itu.  Apa yang harus kulakukan?  Berbagai pertanyaan lain turut berkeliaran di kepala.  Bersusun menjadi satu jejak ketidakadilan.  Duarrrr….  Tanpa sadar tanganku meninju kaca di depan yang pecah berhamburan.  Aku menarik nafas panjang berkali-kali.  Mengabaikan saja darah yang mengalir di tangan.  Sungguh, ia tak lebih sakit dibanding hati ini.

***

2 Bulan Kemudian

“Terdakwa terbukti melanggar pasal Pasal 310 Ayat (2) dan Pasal 310 Ayat (4) Undang-Undang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (LLAJ) Nomor 22 Tahun 2009”, demikian Majelis Hakim mengatakan.  Namun ajaibnya, dalam agenda vonis tersebut Majelis Hakim juga menjelaskan bahwa pihaknya menggunakan teori pemidanaan restorative justice dalam memutus vonis terhadap terdakwa. Teori tersebut, dikatakan hakim adalah perspektif hukum yang ikut memasukkan pertangungjawaban terdakwa kepada korbannya sebagai bahan pertimbangan.  Alhasil, meski terjerat dua pasal dan kecelakaan itu telah menyebabkan korban meninggal dan luka berat, namun vonisnya sangat ringan!  Hanya satu tahun!  Aku beristighfar dalam hati.  Khawatir kutukan-kutukan pada mandulnya hukum di negeri ini menjelma dalam lisan.  Semua orang tahu, ada banyak kasus kecelakaan lain dengan korban yang sama parahnya.  Namun hukum membuat perbedaan nyata hanya karena oknum terdakwa punya segalanya.  Bukankah katanya semua sama di mata hukum?  Apa mereka pikir prinsip itu semacam lelucon yang bisa dipermainkan??

***

Aku meraih jemari Ayu yang lentik.  Menggenggamnya.  Memandangi wajahnya yang memucat.  Meratapi semua selang yang terpasang namun tak mampu memberikan pengaruh apapun pada tubuh ringkihnya.  Menahan tangis yang tersangkut di tenggorokan.

“Sayang, apa kamu ingin pulang?  Jika iya maka pulanglah dengan nyaman.  Aku nggak akan melewatkan makan siang saat kamu nggak ada.  Aku juga akan belajar membuat opor ayam dengan resep milikmu.  Dan aku…aku tetap akan menulis berita.  Bukan karena aku lebih suka pada berita daripada kamu.  Tapi aku ingin meminta keadilan pada orang yang berbuat jahat padamu.  Biar mereka nggak ngejadiin harta sebagai tameng hukum.  Biar nggak ada lagi pihak yang tersakiti seperti kita”, ujarku terbata.

“Dan jika…jika kamu memang harus pulang, maka Abang ridho.  Kamu istri yang baik.  Maafkan Abang yang kurang menjagamu.  Maafkan Abang yang jarang memelukmu.  Sungguh, Abang Ridho!  Sayang, semoga jalanmu dimudahkan…”, dan aku pun terguncang!

***

Terdakwa Kebal Hukum

Masyarakat Indonesia sudah bisa memprediksi putusan akhir suatu kasus jika itu melibatkan elit politik dan keluarganya.  Kekuatan politik telah menciptakan kolusi tingkat tinggi di kalangan pemimpin negeri ini sehingga membuat palu hukum menjadi tebang pilih.  Padahal semua masyarakat harusnya setara dimata hukum.  Namun jauh panggang dari api, yang terjadi justru….

Tanganku menari di atas keyboard notebook.  Terngiang perkataan pengacara tua itu, “Apa saya bilang?  Bukankah sekarang saudara sendiri yang merugi?  Keluarga korban yang lain mendapat bantuan keuangan penuh.  Sementara anda??”, ia membisik di telingaku sambil terkekeh menertawakan kenaifanku.  Kemudian berlalu dari ruang sidang.  Meninggalkanku dengan kepal tinju yang tertahan.  Tidak.  Jalanku masih terbentang di depan demi mencari keadilan.  Bagi jurnalis sepertiku, pena adalah senjata.  Kami berperang dengan kalimat.  Ayu pasti bangga denganku, kan?

*Ditulis sebagai tugas akhir Kelas Menulis Eksklusif Fiksi… 😉

Facebooktwittergoogle_pluspinteresttumblrmail

2 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *