Aku tercenung lama di depan komputer yang tak digunakan.  Mataku memang memandangi layar di hadapan namun pikiran jelas sedang berkelana.  Berkas yang sejak tadi harus kuperiksa pun tak tersentuh.  Kubaca sekali dua kali pun pikiranku tetap saja tak mau hinggap disana.  Ia kembali beterbangan mengingat pertanyaan seniorku tadi malam.  “Man, kamu itu sudah saatnya menikah.  Gimana kalau kujodohkan dengan Ratih?”, tanya Bang Irfan.

“Hah?  Ratih, Bang?”, aku kaget bukan kepalang!  Aku mengenalnya cukup baik.  Ia rekan sekantor Bang Irfan yang dipindahtugaskan kemari beberapa bulan lalu.  Aku memang baru mengenalnya sebentar namun sudah cukup banyak berinteraksi dengannya.  Kami terlibat kepanitiaan bersama dalam kegiatan kantor dan masyarakat.  Lagipula tempat tugas kami ini terpencil.  Aktivitas kecil sekalipun bisa diketahui tetangga di ujung kampung sehingga sepak terjangnya sering mampir di telingaku meski tak kulihat langsung.  Belum lagi kami terhubung kedekatan pada Bang Irfan.  Aku bersahabat dengan seniorku itu sejak pertama kali bertugas sementara gadis itu dekat dengan istri seniorku tersebut karena mereka satu pengajian.

“Serius?”, tak jelas rasanya hatiku saat mengucapkan perkataan itu.

Bang Irfan mengangguk.  “Iya!  Kamu kan sudah melihat sendiri orangnya seperti apa.  Sederhana, pergaulan terjaga, aurat tertutup sempurna!  Kamu juga baru jadi panitia Isra’ Mi’raj dengannya kemarin kan?  Bukankah caranya mengumpulkan ibu-ibu di daerah yang terkenal sulit diajak berpartisipasi dalam kegiatan-kegiatan agama itu cukup ampuh?  Dia sepertinya punya bakat pendekatan yang bagus dalam mengedukasi masyarakat.  Yah, wajar aja sih, toh dia ustdzahnya Mamah Naila, hehe…”, ujar Bang Irfan menghubung-hubungkan.  Meski begitu aku membenarkannya dalam hati.

“Ada gadis baik seperti itu di depan mata, kamu nggak kepingin menjadikannya istrimu?  Ibu bagi anak-anakmu?  Ingat Man, laki-laki saat mencari istri itu bukan hanya untuk dirinya sendiri tapi juga untuk anak-anaknya nanti.  Jadi pilih perempuan yang baik agamanya”, nasihat Bang Irfan sambil menepuk punggungku.

Ya, aku tahu itu.  Sejujurnya aku pun mengaguminya.  Dia menolak tanganku dengan menarik tangannya ke dada saat aku mengajaknya bersalaman.  Saat itu meskipun tersinggung namun aku mulai menaruh hormat padanya.  Terkadang diam-diam memperhatikan juga.  Bagaimana dia selalu tersenyum meskipun saat melakukan pelayanan di kantor terkadang ada saja warga yang datang dengan emosi meletup-letup.  Perempuan itu, entah bagaimana selalu bisa menenangkan mereka.  Dalam pandangan mataku sebagai laki-laki, ia tak hanya pandai menjaga diri namun juga bisa membawa diri.  Ratih memang calon istri ideal.  Tapi masalahnya aku sudah punya Cinta, perempuan cantik yang sudah menemaniku sejak bangku kuliah!  Aku mencintainya.  Namun entah mengapa, setengah hatiku begitu tergoda dengan tawaran Bang Irfan ini.  Dan setengahnya lagi merasa marah.  Tidak seharusnya aku punya pikiran seperti ini!  Bukankah laki-laki itu harus bisa dipegang kata-katanya?  Dan aku sudah mengatakan akan menunggu Cinta menyelesaikan pendidikannya.  Demikian hati kecilku mendikte sebuah etika cinta dan penantian.  Namun tawaran ini…ahhh, kepalaku mulai nyut-nyutan!!!

***

“Aku nggak bisa, Man!  Kamu tahu kan, aku baru dua bulan ini nyampe Bogor!  Baru juga menyesuaikan diri sama kampus dan sekarang mulai kejar-kejaran sama jadwal kuliah.  Lagian kita udah ngomongin masalah ini sebelum aku berangkat kan??”, ujar Cinta ketus saat aku kembali mengungkit pernikahan di telfon.

“Iya.  Tapi nggak salah juga kan kalau kita omongin lagi?”, aku mencoba bernegosiasi.

“Bagian mananya lagi, sih?  Kemaren kan kita udah sepakat.  Aku minta dua tahun untuk melanjutkan studi kemudian kita nikah.  Cuma dua tahun, Man.  Please…”, suara Cinta mulai berubah sedih.  Saat itu hatiku malah tambah pedih.  Dia minta dua tahun lagi.  Padahal hanya dalam dua menit setelah dia menutup telfonku, aku akan kembali galau karena mencoba setia padanya diantara tawaran Bang Irfan.

***

“Gimana tawaranku kemarin, Man?”, tanya Bang Irfan.  Aduh, rasanya aku mati kutu!  Ini pertanyaan yang paling ingin kuhindari.

“Hmmm…aku masih pikir-pikir nih, Bang!  Tolong kasih aku waktu ya…”, sahutku mencari aman.

“Rahman…Rahman, apalagi sih yang kamu pikirin?”, Bang Irfan geleng-geleng.  “Perempuan seperti Ratih itu sayang kalau dilewatkan!”, tambahnya lagi.  Ia menepuk punggungku seperti kebiasaannya lalu beranjak meninggalkanku di ruang kerja yang lengang itu.  Jarum jam di ruangan tiba-tiba terdengar berdetak kencang.  Meski sebenarnya kejujuran perasaanku terdengar lebih nyaring lagi.  Aku jelas belum bisa melepas Cinta.  Tapi aku juga mulai lelah menunggu perempuan itu yang terus-terusan mengajukan alasan menunda pernikahan.  Dulu katanya ingin punya pengalaman berkarir sebelum menikah.  Sekarang alasan melanjutkan studi lagi.  Sampai kapan dia menolakku terus??  Sementara disini aku mulai menaruh simpati pada perempuan lain.

***

“Aduh…kamu kok ngomongin masalah ini lagi sih??  Aku banyak tugas nih!  Kalau nggak penting kututup telfonnya!”, ujar Cinta setengah mengancam.  Suaranya kesal.

“Pernah nggak sih kamu mikirin perasaanku yang selalu menunggu?  Melamar berkali-kali trus kamu tolak juga berulang kali?”, kalimat ini meluncur begitu saja dari bibirku.  Aku menarik nafas panjang, mencoba menyabarkan hati walaupun rasanya darah mulai memanas.

“Kenapa sih kamu tiba-tiba ngotot banget pengen nikah?  Kamu nggak biasanya kayak gini!”, ia malah balik bertanya.

“Itu bukan jawaban pertanyaanku!”, sahutku ketus.

“Aku akan jawab kalau kamu menjawab pertanyaanku”, Cinta tak kalah ketus.

“Lho…bukannya aku yang nanya lebih dulu?  Aku berhak dapat jawaban lebih dulu juga dong”, aku meninggikan suara.  Tak mau mengalah.

“Kamu nggak kayak dulu lagi!  Kamu biasanya selalu ngalah sama aku!  Tapi akhir-akhir ini kamu egois!”, ujarnya berapi-api.  “Pasti ada sesuatu kan?  Iya kan???”, tuduhnya.

Rasanya darah ini semakin mendidih.  “Cinta, aku udah ngalah berapa tahun sama kamu?  Kamu mikir nggak sih…kalau aku mulai lelah menunggu?  Kenapa kamu nggak pernah coba mengalah sekali ini aja denganku?”.  Tanganku yang penuh keringat itu mengepal berkali-kali.

“Ya udah, kalau kamu sebegitu lelahnya mending kita putus aja!”, ujarnya sederhana.

Seperti gelas kaca yang terlepas dari genggaman, hatiku retak.  Bukan!!  Mungkin lebih tepat rasa hatiku hancur jadi debu hingga serpihannya bisa menembus lubang jarum.  Aku masih merenungi akhir kisah cinta tujuh tahunku.  Setelah melewati masa susah-senang selama kuliah hingga bekerja, kami malah putus karena aku ngotot ingin menikah.  Padahal sungguh, dalam hati aku ingin tetap setia dan berada di sampingnya dalam waktu lama.  Karena itulah aku ingin hubungan ini terjalin dalam pernikahan.  Hingga kami bisa bergenggaman tangan lalu menua bersama.  Sepertinya benarlah apa yang dikatakan Ustadz Fadli.  Pacaran itu sebenarnya sebuah hubungan yang terjalin karena manusia takut berkomitmen.  Aku dan Cinta masih belum siap terikat dalam komitmen ikatan halal.  Kami dengan tak tahu malu mengatasnamakan cinta sebagai legalitas hubungan itu.  Pemahaman untuk menjauhi zina sebagaimana yang pernah beliau sampaikan pun akhirnya kuanggap angin lalu.  Dan aku sudah menuai apa yang telah kutanam.  Ditinggalkan tanpa kejelasan setelah menunggu selama tujuh tahun.  Ya Rabb, hamba malu mengadukan patahnya hati ini padamu!

***

3 Bulan Kemudian

“Bang, bisa nemanin aku menghadap orangtua Ratih?”, tanyaku pada Bang Irfan malam itu.  Aku sengaja datang ke rumah beliau untuk memintanya menemaniku melamar perempuan shalihah itu.  Tapi yang ditanya malah ternganga.  Mungkin beliau kaget.

“Eh…jadi gini, aku udah mikirin apa yang Bang Irfan sampaikan beberapa waktu lalu.  Ratih, seperti yang Abang bilang…aku sudah tahu, kenal dan melihat dengan mata kepala sendiri gimana kehidupannya sehari-hari.  Aku tahu dia calon istri yang baik.  Dan aku ngerasa mantap memilihnya”, jelasku panjang lebar.  “Ehhh…juga…sebenarnya, ehmmm…aku juga suka dengannya”, ujarku sambil tersenyum salah tingkah.  “Makanya aku minta Bang Irfan nenemenin aku…ehhm, melamar Ratih”, kata-kataku pun bertumpukan tak teratur.  Aku mengutuk kegugupanku menjelaskan maksud pada Bang Irfan.  Jika pada beliau saja begini, bagaimana dengan orangtua Ratih nanti?  Aku bergumam dalam hati agar memberanikan diri lagi.  Wajah Bang Irfan masih penuh keterkejutan sampai beliau lupa berkata-kata.  “Abang, bisa nemenin kan?”, pintaku sekali lagi.

“Masya Allah, Rahman!  Abang nggak tahu harus bilang apa sama kamu…”, sahut Bang Irfan terbata-bata.  Beliau beranjak dari hadapanku ke dalam rumah lalu kudengar berbicara sebentar dengan istrinya.  Ia kembali keluar, duduk dan menyorongkan sesuatu kehadapanku.  Sebuah undangan pernikahan berwarna hijau muda dengan nama Ratih Kurniawati terukir cantik disana.  Namun ironis, nama laki-laki lainlah yang bersandingan dengannya.  Tanganku dingin, hatiku mendadak remuk redam.  Ah, ini bahkan rasanya lebih parah lagi dari patah hati cinta tujuh tahunku.  Hatiku yang baru saja sembuh setelah sujud-sujud panjang dan doaku setiap malam pada Sang Pemilik Hati ini harus kembali terluka.

“Maaf, Man.  Kamu terlambat…”, ujar Bang Irfan sambil meninggalkanku.  Mungkin beliau ingin memberi waktu padaku mengatasi perasaan yang seperti roller coaster ini.  Baru saja aku dipenuhi perasaan menggebu bahagia ingin melamar gadis yang menjadi pilihan hati lalu sekarang harus terempas lagi.  Dan airmata pun menitik.  Aku laki-laki namun aku menangis.  Aku tak berjodoh dengan Cinta.  Tak juga dengan Ratih.  Ya Rabb, mungkin hamba hanya belum pantas menikah.  Ya Rabb, sabarkan hamba menerima ketetapan-Mu ini.  Ya Rabb….

Epilog :

Tiba-tiba handphone-ku berdering.  Kulihat nama Ibu nampak di layar dan aku pun langsung menghapus air di sudut mata.  “Assalamu’alaikum, Bu…”, sapaku sambil menegarkan suara.

“Wa’alaikumsalam, Nak.  Gimana kabarmu?  Sehat?  Kapan kamu bisa pulang ke rumah?”, beliau seperti biasa langsung menodongku dengan borongan pertanyaan.

Aku tertawa lemah begitu menyadari kebiasaan beliau ini.  “Ibu maunya aku pulang ke rumah kapan?”, aku balik bertanya.

“Kalau besok bisa?  Ada yang mau Ibu kenalin sama kamu.  Namanya Amila.  Dia putri sahabat baik Ibu pas sekolah dulu.  Anaknya baik, Man.  Ibu sebenarnya udah ketemu dengannya waktu lebaran.  Trus kemarin pas pengajian.  Kamu mau kan dikenalin sama dia?”, suara Ibuku ceria diseberang sana.

Ya Rabb, apakah ini sebuah jawaban???

*Tugas pertama Kelas Eksklusif Menulis Fiksi 4

Facebooktwittergoogle_pluspinteresttumblrmail

2 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *