Anak Palestina vs Tentara Israel

Suatu hari saya menyaksikan televisi dipenuhi berita tentang serangan brutal yang dilakukan tentara Israel pada penduduk Palestina.  Pagi, siang, petang, semua mengupdate kondisi terkininya.  Rumah dan gedung porak-poranda.  Darah berceceran dimana-mana.  Meski korban terus berjatuhan dan mata dunia semua tertuju kesana, namun tak banyak yang bisa dilakukan selain doa. Awal melihat kejadian ini, saya dan beberapa kawan menangis berjam-jam di depan televisi.  Mata bengkak dan hati dipenuhi rasa sakit.  Naasnya kejadian serupa terus berulang tahun berikutnya, berikutnya dan berikutnya lagi sampai terbiasa!

Pengungsi Palestina di Suriah

Hal yang sama kali ini terjadi pada Rohingya.  Ketika beberapa tahun lalu manusia-manusia perahu itu luntang-lantung di tengah lautan, semua mengutuk.  Sepakat merasakan hal ini sebagai tragedi kemanusiaan.  Maka mengulurkan tangan sebisanya membantu mereka adalah kewajiban.  Tapi kemudian kejadian ini berulang!  Naasnya, lagi-lagi kita sudah terbiasa.  Terbiasa melihat manusia-manusia lainnya dibantai.  Terbiasa menyalurkan bantuan berupa makanan, pakaian, obat-obatan.  Bahkan kadang cukup puas membantu dengan doa.  Ahhh, itu pun kalau ingat!

Pengungsi Rohingya

Belakangan isu Rohingya menjadi polemik baik tingkat akar rumput hingga elit  negara.  Diskusi mulai dari akar sejarah, penyebab konflik dan solusi jangka pendek berupa bantuan pun merebak.  Suara-suara sumbang semisal “ngapain sih kita ngurusin orang lain” berseliweran di TL medsos.  Sebagaimana juga suara solidaritas persaudaraan sebagai sesama muslim lantang disuarakan.  Bahkan saking semangatnya, ada yang membuat meme semisal “selama anda manusia (bukan cebong), pastilah sedih melihat manusia lainnya hidup terlunta!”.  Atau “Raisya-Hamish menikah engkau patah hati.  Rohingya berdarah engkau tak peduli.  Hatimu kemana?”.  Makjleb banget kan?!

Pengungsi Rohingya

Ajaibnya isu ini kemudian menimbulkan semacam baper politik di kalangan elit.  “Ada yang menggoreng isu Rohingya untuk menjatuhkan penguasa”, demikian tuding salah satu tokoh.  You know who lah yaaa?!  Pssttt…sosoknya nggak usah dibahas.  Mari kita fokus sama keterbiasaan-keterbiasaan yang saya sebut tadi aja.  Biasa melihat berita pembantaian Israel pada penduduk palestina.  Biasa menyaksikan berita pembantaian terhadap muslim Rohingya.  Biasa peduli hanya dengan harta juga doa.  Bahkan biasa menganggapnya sebagai urusan orang lain yang tak ada sangkut-pautnya dengan kita.  Ya Rabb… 😥

Palestina

Saat itulah benar-benar terasakan keadaan kaum muslim yang tercerai berai menjadi puluhan negara ini seperti apa yang digambarkan Rasulullah SAW, “Nyaris orang-orang kafir menyerbu dan membinasakan kalian, seperti halnya orang-orang yang menyerbu makanan di atas piring.” Seseorang berkata, “Apakah karena sedikitnya kami waktu itu?” Beliau bersabda, “Bahkan kalian waktu itu banyak sekali, tetapi kamu seperti buih di atas air.  Dan Allah mencabut rasa takut musuh-musuhmu terhadap kalian serta menjangkitkan di dalam hatimu penyakit wahn.” Seseorang bertanya, “Apakah wahn itu?” Beliau menjawab, “Cinta dunia dan takut mati.” (HR. Ahmad, Al-Baihaqi, Abu Dawud)

Ya, umat Islam kini ibarat buih.  Keberadaanya tak lebih seperti hidangan yang diserbu oleh musuh dari arah manapun tanpa perlawanan.  Besar jumlahnya namun tercerai berai dalam sekat-sekat nasionalisme warisan penjajah, dilecehkan kehormatannya, dibantai dan diusir dari tanah kelahirannya seperti yang terjadi pada kaum muslim di Palestina, Myanmar dan belahan bumi lainnya.  Bagaikan anak ayam kehilangan induknya!

Pemimpin Islam

Padahal umat Islam dulunya dikenal dengan kemuliaan dan keberaniannya.  Berada di bawah pengayoman pemimpin seperti Umar Al Faruq yang menegakkan hukum-hukum Allah, melindungi harta, kehormatan dan darah kaum muslimin.  Didampingi panglima perang seherois Khalid bin Walid, yang ketaatannya pada pemimpinnya itu bersumber dari taat pada Allah SWT.  Pasukannya terkenal gagah berani di medan perang.  Senjata musuh tak membuat ciut nyali sebab mati dalam perjuangan imbalannya syurga.  Keyakinan itulah yang diwariskan pada generasi-generasi berikutnya hingga melahirkan Al Fatih, pemimpin yang menaklukkan konstantinopel di usia belia.  Tapi itu dulu!  Sekarang keberanian memelihara kemuliaan Islam itu telah meredup!  Umat Islam justru mengidap penyakit cinta dunia dan takut mati.  Sibuk dengan urusan menumpuk harta lalu lupa agamanya.  Bahkan tak sedikit yang menukar agamanya demi kepentingan kekuasaan, harta dan asing.

Pasukan Muslim

Ah, tetiba merindukan pemimpin yang memihak umat seperti gambaran Rasulullah SAW, ”Sesungguhnya al-imam itu perisai, dimana (orang-orang) akan berperang di belakangnya (mendukung) dan berlindung (dari musuh) dengan (kekuasaan) nya.” (HR. Al-Bukhari, Muslim, Ahmad, Abu Dawud, dll).

*Ditulis sambil mengingatkan diri sendiri tentang hati yang makin terpaut dunia.  Ya Rabb, ampunilah hamba yang lemah ini…

Facebooktwittergoogle_pluspinteresttumblrmail

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *