Di era smartphone seperti sekarang, punya beberapa akun media sosial berbeda sepertinya ya biasa! Pake facebook, twitter, instagram, path, dll. Pokoknya semua ada!

Saya pun termasuk yang begini! Facebook pake, twitter punya, instagram eksis, blog apalagi! Meski begitu, jujur saja tak semua akun ini saya manfaatkan dengan baik. Kalau blog jelas yaa keberadaannya memang yang paling bikin hati saya berbunga. Ya iyalah, soalnya dia menampung semua unek-unek di kepala ini. Sementara yang lain?

Ehm…zaman penduduk facebook masih ramah, saya paling suka media sosial ini. Terutama karena ia tak membatasi karakter huruf seperti twitter! Lagipula kebanyakan kenalan saya beraktivitas dengan facebook. Dan ini alasan terbesar saya menyukainya! Dulu rasanya agak aneh ketika punya teman tapi tak dikenal. Makanya kalau belum kenal, biasanya saya usahakan kenalan dulu. Biar nyaman berinteraksi! Maksudnya sih begitu… πŸ˜‰

Tapi seiring waktu, sepertinya kebiasaan ini terlupakan. Akibatnya saya punya banyak teman yang tidak benar-benar saya kenal. Sebagai orang yang ingin memasarkan tulisan, sebenarnya ini bukan masalah besar kali yes? Tapi mungkin dasarnya saya nggak punya mental seleb, jadi apa-apa kok jadi malu! πŸ˜†

Malu?? 😯

Iya, pasalnya suatu waktu saya pernah mengalami perang di dunia maya. Entah bagaimana status-status saya menimbulkan kontroversi. Terlalu banyak komentar yang kadang membuat telinga panas. Diajak diskusi baik-baik malah makin getol menyerang. Padahal, ehm…konon katanya beliau yang bersangkutan kandidat doktor.

Mungkin karena merasa lebih pandai dibanding yang bau kencur, beliau merasa harus selalu menyanggah pendapat orang lain. Masalahnya lagi, ketika saya pengeeeen banget bikin penjelasan lain yang diharapkan bisa membuka mata hati beliau, sinyal malah tak bersahabat, wkwk…. πŸ˜€

Maklumlah, saat itu saya bertugas di satu daerah terpencil dimana sinyal bisa hilang datang sekehendak hatinya. Duhai, merana sekali rasanya. Sementara yang bersangkutan terus menyerang bahkan menuduh saya ciut nyali akibat tak meladeninya. Ckck…. *mau nelan handphone deh rasanya… πŸ‘Ώ

Ketika itu saya tersadar, betapa dunia maya sedikit lebih kejam dibanding dunia nyata. Sebuntu-buntunya kita menghadapi orang, tak mungkin sumpah serapah berhamburan. Terutama di kalangan terpelajar yang ehm…tentu saja menjaga tata kramanya. Tapi di dunia maya?? Kita seringkali harus mengurut dada dan menarik nafas panjang ketika seseorang tetiba menyebutkan semua penghuni kebun binatang. πŸ˜₯

Menarik ketika membaca tulisan Mbak Sinta Yudisia tentang writing is healing.Β Dalam blognya, beliau bercerita bahwa anak gadis dulu rata-rata punya diary. Isinya?? Macem-macem! Dari curhatan soal si dia sampai kekesalan pada teman bisa jadi cerita dalam diary. Nah, karena isinya seperti ini makanya tuh diary pake gembok, hehe…. πŸ˜†

Menariknya dimana?? Karena ternyata saya juga tergolong anak gadis zaman dulu yang ehm…kebetulan pernah punya diary! Alamak, buka rahasia negara neh!! πŸ™‚

Saat itu, saya memang merasakan efek yang beliau katakan bahwa writing is healing. Menulis itu menyembuhkan. Kita mengungkapkan semua kekesalan hingga kesedihan kita dalam bentuk tulisan. Efeknya?? Hati lega banget! Meski setelah beberapa saat dan kita membaca lagi isi diary itu, terasa sedikit memalukan melihat rasa emosional diri yang meletup-letup itu. Sebuah kesadaran muncul, oh iya…saya harus lebih dewasa dari ini!

Tapi berbeda dengan media sosial. Bayangkan jika kamu curhat di wall facebook sepertiΒ diary?! Netizen beramai-ramai ikut serta mengomentari dan membuat penilaian. Positif atau negatif yaa biasa. Namanya juga banyak kepala tak mungkin semua satu pendapat kan? Kalau siap mental silahkan saja tapi kalau saya pribadi, diary adalah diary.Β  Sebuah tulisan yang harus saya tuliskan demi menjaga kewarasan mungkin? Haha….Β  Sementara media sosial adalah area terbuka publik dimana harusnya sih ada tata krama yang mesti kita jaga sehingga perdamaian dunia tetap berlangsung, wkwk…. πŸ˜€

Jadi?? Kalau saya pribadi masih setia dengan facebook meski bikin statusnya yaa kudu pilih-pilih. Curhatan pribadi sebisa mungkin diminimalisir! Kenapa?? Karena nggak semua hal harus diungkapkan ke hadapan publik. Kalau mau curhat, saya pilih diary pribadi di notebook yang ehm…saya kunci juga biar aman! Ya maklumlah, curhatan kita kan macam-macam yaa? Kadang malah kumat alaynya, haha…. πŸ˜€

Lalu sejak instagram naik daun, saya yang pada dasarnya suka pake bingits sama kamera ini pun bertekuk lutut, haha…. πŸ˜† Gimana enggak, coba? Aplikasi satu ini menyediakan berbagai fasilitas yang bikin mupeng buat penggemar fotografi. Jatah caption juga lumayan. Pas lah kalau buat saya pokoknya!

Media sosial yang lain?? Entahlah, sepertinya saya tak terlalu tertarik. Blog, facebook dan instagram adalah yang paling sering saya perhatikan. Tak cukup waktu rasanya beredar di media sosial. Lagipula, kehidupan sebenarnya masih disana. Di dunia nyata dimana kita dalam kesehariannya bekerja, menuntut ilmu, berusaha menjadi anak sholeh/sholeha bagi orang tua kita, turut berdakwah dan seterusnya.

Dunia maya?? Meski namanya maya namun segala aktiviyas kita disana tetap saja akan dimintai pertanggungjawaban oleh Allah SWT. Apakah status kita adalah status yang mengajak manusia pada kebaikan? Atau justru malah menginspirasi manusia lainnya untuk melanggar aturan Allah SWT? Sekecil apapun kebaikan atau keburukan yang kita lakukan disana, takkan lepas dari CCTV Allah yang maha dahsyat. Tercatat semua dan nanti akan diperhitungkan di yaumil hisab. Jadi…mulut dan tangannya tolong dikondisikan yaa? πŸ˜‰

*Ditulis setelah mengingat kembali pertanyaan teman, kok sekarang jarang nulis status? Wkwk…. πŸ˜†

Facebooktwittergoogle_pluspinteresttumblrmail

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *