Judul Buku  : Cado Cado (Catatan Dodol Calon Dokter)

Penulis         : Ferdiriva Hamzah

Penerbit      : Bukune

Tebal Buku : 200 Halaman

Genre          : Non Fiksi – Komedi

Cetakan       : Kesepuluh, Tahun 2014

Banyak diantara kita yang ketika kecil ditanya tentang cita-cita, akan menjawab : dokter! Kenapa? Karena bagi kita dokter itu profesi yang keren. Ya kan ya kan?? Nah, ternyata kerennya mereka itu nggak tetiba jadi ketika terucap mantra sim salabim. Ada proses panjangnya.

Biasanya sih proses panjang ini akan digambarkan secara serius demi menjadi inspirasi kawula muda yah?? Tapi Riva (panggilan penulis yang saat ini berprofesi sebagai dokter spesialis mata itu) justru menceritakan pengalamannya selama berjuang menyelesaikan ko-ass dalam bahasa kocak bahkan terkadang tengil.

Dimulai dengan penjelasan ala-ala tentang ko-ass yaitu ketika mahasiswa(i) kedokteran selesai mempelajari teori dan praktek di kampus selama delapan semester, mereka pun resmi menyandang gelar sarjana kedokteran. Apakah sudah bisa praktek?? Belum!! Mereka kudu ngenjalanin ko-ass dulu selama 2 tahun. Bisa kurang bisa juga lebih tergantung si mahasiswa(i), hehe…😁

Selanjutnya kita diajak berkeliling stase yang dilaluinya sekaligus menikmati cerita dodol ala-ala dokter muda. Dimulai dari pengalaman ko-ass ilmu kedokteran jiwa. Riva yang fobia terhadap pasien jiwa itu pun terpaksa mempraktekkan teori geblek temannya yang bernama Budi. Apakah itu?? Hmmm…menghadapi orang gila dengan pura-pura gila. Sebab konon, orang gila nggak pernah mengganggu sesamanya. Dan itu didapat budi berdasar pengalamannya sendiri saat menemui orang gila di pasar, hehe…😅

Di hari pertama kedatangan Riva disana, ia langsung diminta menangani 4 wanita skizofrenia. Sendirian bersama pasien jiwa itu membuat jantungnya seakan mau copot. Krik krik krik…ia bingung mulai dari mana. Tetiba tangannya ditarik salah satu pasien yang meminta diperiksa duluan. Eh, ternyata pasien yang lain pun turut meminta didahulukan. Udah gitu, ada pula yang nyeletuk dia mirip Herman Felani! Nah, dalam keadaan wajah pucat akibat panik itulah ia teringat teori si Budi. Apa yang Riva lakukan??

Ia bermain peran menjadi dokter Herman Felani dan meminta mereka diam di tempat. Ketakutan membayangkan diserang pasiennya saat melihat wajah mereka yang seolah tak puas, ia pun berteriak sambil bernyanyi dengan gaya bak Julie Andrews di film The Sound of Music. Lompat sana, lompat sini, tangan ditaruh di kepala seperti balerina pun ditekuni demi mengukur tekanan darah, memeriksa kondisi pasien hingga menulis statusnya. Lama-lama wajah 4 wanita skizofrenia itu pun terlihat senang dan mereka tertawa-tawa. Sampai ada yang nyeletuk, “Haha….dokter gila!”. Riva pun surprise, dikatain gila oleh pasien penyakit jiwa! Dan satu lagi yang membuatnya tambah hepi, teori si Budi berhasil! Yess!!

Tapi tahu nggak sih?? Saat Riva merasa misinya itu sudah berjalan sempurna, ternyata ia justru ditertawakan suster yang mengantarnya tadi. Kok bisa ketahuan? Bukannya dia tadi ditinggal sendirian?? Ternyata oh ternyata pasien-pasiennya itu bisa bercerita sendiri sama si suster. Usut punya usut, mereka hanya mengalami depresi ringan.  Alamak, malu deh!😷

Lalu cerita berlanjut tentang kegokilan Riva dan kawan-kawannya ketika ko-ass di stase forensik, penyakit dalam, bedah, THT, pediatri, neurologi, IKM dan mata. Cerita dodol dalam satu stase terkadang berisi lebih dari satu. Diwarnai karakter teman-temannya yang punya keunikan masing-masing, penulis mengemas cerita ko-ass mereka yang melelahkan itu menjadi sesuatu yang bisa ditertawakan namun sekaligus dapat diambil pelajaran. Bukankah orang bijak mengatakan bahwa pengalaman itu adalah guru yang paling berharga?

Misalnya ketika berada di stase neurologi, penulis belajar tentang kabar buruk. Suatu hari ia menemukan pasien yang hasil CT scannya menunjukkan tumor di kepala. Saat merasa tak mampu menyampaikan kabar buruk tersebut pada keluarga pasien, dokter pembimbingnya menasehati bahwa calon dokter harus memperhatikan jalinan komunikasi dengan pasien. Sebab saat menjadi dokter, itu artinya ia harus selalu bersedia menjelaskan kondisi pasien, seburuk apapun itu!

Pasien yang terdiagnosa tumor tersebut dan keluarganya, saat dijelaskan tentang kondisi kesehatannya merasa sangat berterima kasih. Mereka berjanji akan memikirkan tindak lanjut pengobatannya. Meski hingga detik terakhir ia berada di stase neurologi, pasien tersebut tak pernah kontrol lagi. Mungkin mencari opini kedua dari dokter lain karena toh itu hak mereka. Saat itulah penulis berpikir : meski mutlak menjelaskan rencana pengobatan dan membantu pasien mengambil keputusan namun hak memilih pengobatan tetap ada di tangan pasien. Dan saya pikir inilah bagian paling serius yang ditulisnya sepanjang buku setebal 200 halaman itu, hehe…😜

Nilai plus lainnya dalam buku ini, penulis juga mendahului ceritanya dengan sekelumit info tentang apa yang dipelajari di masing-masing stase sehingga pembaca berlatar belakang non medis bisa sedikit memahami apa yang diceritakan.  Sejujurnya saya bukan penggemar buku bergenre komedi. Saat membaca buku-bukunya Raditya Dika misalnya, saya cenderung gagal paham dengan kisah yang ia sampaikan. Lucunya di bagian mana sih??  Kening berkerut-kerut dan akhirnya saya menyerah!

Tapi Cado Cadonya Ferdiriva Hamzah ini memberikan nuansa lain buat saya. Mungkin karena sebelumnya saya terbiasa membaca kedodolan ala-ala salah satu dokter muda yang blognya sempat ngehits zaman saya dulu kali yes?? Cerita-cerita unik mereka ini sering ditunggu oleh sejawatnya yang ingin mengingat lagi kedodolan zaman ko-ass, pelajaran bagi adik tingkat atau obat anti stress bagi pembaca dengan latar belakang non medis. Pokoknya, jika ada buku yang saya tak pernah bosan membacanya maka Cado Cado ini salah satunya. Asyik juga menggelitik! Hasil akhir bacanya, bisa-bisa jadi pengen punya jodoh dokter! *ehhh…😝

*Ditulis buru-buru dalam upaya mempertahankan eksistensi di grup Yuk Baca, wkwk…😜

Facebooktwittergoogle_pluspinteresttumblrmail

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *