Hijrah dan Istiqamah

Hijrah dan Istiqamah

Hijrah. Kata ini demikian populer akhir-akhir ini. Banyak yang mengatakan sedang mencoba berproses menjadi lebih baik. Berhijrah. Kata ini makin populer di media sosial memasuki tahun baru Islam seperti sekarang. Sebagaimana kita ketahui, tahun baru Islam ini memang menjadi sebuah momentum yang menandai peristiwa penting dalam sejarah Islam. Ya, peristiwa hijrah Nabi Muhammad Saw dari Kota Makkah ke Madinah. Saat membaca sirah, tergambar jelas perjuangan dan pengorbanan Rasulullah SAW beserta para sahabat untuk mempertahankan risalah Islam 14 abad silam. Tak terbayang penderitaan yang harus ditanggung mereka di siang terik dan malam gulita.  Berjalan kaki, naik turun gunung terjal berbatu juga melewati padang pasir tandus. Itu pun dengan perbekalan seadanya. Padahal di Makkah mereka bisa hidup nyaman jika berkompromi dengan orang-orang musyrik. Namun semua itu tak mereka lakukan! Berhijrah hakikatnya merupakan sebuah langkah strategis guna membangun basis kekuatan baru kaum muslimin. Institusi yang menaungi kaum muslim dan dipimpin langsung oleh Rasulullah SAW, dilanjutkan Khulafaur Rasyidin hingga Turki Ottoman. Empat belas abad lebih telah berlalu dari peristiwa...
Read More
Anak Ayam Kehilangan Induk

Anak Ayam Kehilangan Induk

Suatu hari saya menyaksikan televisi dipenuhi berita tentang serangan brutal yang dilakukan tentara Israel pada penduduk Palestina.  Pagi, siang, petang, semua mengupdate kondisi terkininya.  Rumah dan gedung porak-poranda.  Darah berceceran dimana-mana.  Meski korban terus berjatuhan dan mata dunia semua tertuju kesana, namun tak banyak yang bisa dilakukan selain doa. Awal melihat kejadian ini, saya dan beberapa kawan menangis berjam-jam di depan televisi.  Mata bengkak dan hati dipenuhi rasa sakit.  Naasnya kejadian serupa terus berulang tahun berikutnya, berikutnya dan berikutnya lagi sampai terbiasa! Hal yang sama kali ini terjadi pada Rohingya.  Ketika beberapa tahun lalu manusia-manusia perahu itu luntang-lantung di tengah lautan, semua mengutuk.  Sepakat merasakan hal ini sebagai tragedi kemanusiaan.  Maka mengulurkan tangan sebisanya membantu mereka adalah kewajiban.  Tapi kemudian kejadian ini berulang!  Naasnya, lagi-lagi kita sudah terbiasa.  Terbiasa melihat manusia-manusia lainnya dibantai.  Terbiasa menyalurkan bantuan berupa makanan, pakaian, obat-obatan.  Bahkan kadang cukup puas membantu dengan doa.  Ahhh, itu pun kalau ingat! Belakangan isu Rohingya menjadi polemik baik tingkat akar rumput hingga...
Read More
Misteri 3 Pertanyaan

Misteri 3 Pertanyaan

Pernah nggak sih kamu ngerasa, baru juga kemaren lulus SMA eh...tetiba udah mahasiswa aja? Baru juga menikmati manis asem bangku kuliah, eh toga pun udah nangkring di kepala. Serasa masih imut-imut tapi begitu bangun tidur udah amit-amit? Hehe.... :lol: Lalu pasca kekagetan itu pun kita mulai bertanya-tanya tentang hakikat kehidupan ini.  Dari mana sebenarnya kita berasal? Mau ngapain kita di kehidupan dunia ini? Dan akan kemana kita setelahnya? Tiga pertanyaan mendasar ini harusnya sih udah kita temukan ketika masih imut-imut. Cuma yaa...memang nggak semua orang langsung bisa menemukannya. Kalau pertanyaan ini aja belum ketemu, apalagi jawabannya, hehe.... Padahal tiga pertanyaan inilah yang akan menentukan cara kita hidup di dunia ini. Artinya perilaku dan semua keputusan yang kita ambil dalam kehidupan ini kebanyakan bermuara pada jawaban terhadap tiga pertanyaan ini. Sebab jawaban dari ketiga pertanyaan ini layaknya cermin yang memantulkan cara pandang si empunya diri tentang kehidupan. Duh, mulai rumit yah ngomongnya? :lol: Manusia yang menganggap dirinya berasal dari materi, hidup di dunia ini untuk...
Read More
Iman dan Islam

Iman dan Islam

Dulu pernah ada masa dimana saya merasa risih bicara keimanan.  Pasalnya meski lahir dari keluarga muslim, namun sebagian keluarga besar masih banyak yang Kristen dan Kaharingan.  Ya, ibu saya dulunya mualaf.  Qadarullah, beliau memeluk Islam melalui jalan pernikahan.  Maka sepupu-sepupu, paman, bibi, bahkan kakek-nenek dari pihak ibu semuanya masih memeluk agama lama.  Baru saat SMA, satu dari bibi saya ikut memeluk Islam.  Lalu disusul satu paman saya yang lainnya.  Keduanya memang terhitung dekat dengan Ibu sehingga mudah mengikuti jejak berislam. Kamus pergaulan kami selama ini akhirnya menetapkan bahwa keimanan menjadi perbincangan di wilayah privat demi menjaga kerukunan.  Para tetua memang tak pernah membuat aturan baku namun mereka mencontohkan dalam perilaku.  Saya sendiri menerimanya sebagai “warisan” jika meminjam istilah Afi Nihaya yang tulisannya sempat viral itu.  Agama yang saya anut mengikuti orang tua yang kebetulan muslim. Ah, jika saja saya membaca isi tulisan Dek Afi beberapa tahun lalu mungkin saya akan berada dalam barisan yang sependapat dengannya.  Terlepas dari tulisan tersebut hasil...
Read More
12