Political Branding of Sendal Jepit

Political Branding of Sendal Jepit

Baru-baru ini saya terheran dengan isi linimasa yang ramai membicarakan sendal jepit dan kaos oblong.  Kebanyakan sih tak menyebut label.  Hanya saja berbagai versi opini ala sendal jepit dan kaos oblong ini makin menjalarkan rasa penasaran!  Oke, fix!  Saya pun langsung nyambangin Mbah Google dan memasukkan kata kunci :  sendal jepit, kaos oblong, salah kostum, siapa?  Jeng jeng jeng...dan berbagai berita bermunculan! Malam hampir larut, hujan turun lebat dengan suara petir sambat menyambar.  Lalu jleb!!  Listrik padam dan saya pun mengatakan, “Yaelah, ini toh?”.  Haha...maaf, takkan muncul makhluk aneh dalam cerita ini sebab genre-nya bukan horor!  Hanya saja menyadari kekurang update-an terhadap kejadian dahsyat ini membuat saya menyadari sesuatu.  Di era sosmed dimana informasi tersebar cepat, hanya media resmi atau pihak tertentu yang “you know who” lah yang menyebut label.  Pssstt...mungkin netizen waspada terhadap kinerja tim siber yang konon sangat aktif mengawasi jagad persilatan dunia maya itu.  Salah dikit bisa-bisa kena setrap.  Ah, syudahlah! Opini yang ditulis oleh Hersubeno Arief bertajuk “Sendal...
Read More
Negeri Sakti

Negeri Sakti

Hei...pernahkah kamu mendengar tentang Negeri Sakti? Jika belum, mari saya ceritakan sedikit. Maklumlah, baru-baru ini saya sedang doyan jalan-jalan. Jadi bawaannya pengen cerita tentang kesan-kesan pada sesuatu yang dilihat dan rasakan. Kok yaaa...kalau dipendam itu sayang pake bingits! Lagipula katanya, kalau nggak dikeluarin malah bisa jadi penyakit! Bahaya kan?? Adapun tentang Negeri Sakti ini, saya sudah mendengarnya sejak lama. Ama pernah mendongeng di masa kecil, "Nak, orang bilang negeri yang dipimpin trah para bangsawan itu banyak dzalim. Ia membedakan manusia berdasarkan darah yang sejatinya berwarna merah. Tapi tahukah kamu? Hakikat kekuasaan itu sama saja. Lihatlah Negeri Sakti..." Lalu mengalirlah kisahnya. Bahwa pemimpin negerinya tak disebut raja namun presiden. Tapi kekuasaannya sama, tak mengenal batas dan waktu juga. "Jadi bisa seumur hidup, Ma?", tanya saya yang masih polos. "Teorinya sih nggak bisa, Nak! Tapi namanya juga Negeri Sakti. Siapapun yang berkuasa, dia boleh bikin aturan. Dan aturan itu disetting seolah rakyatlah yang menginginkannya...". Saya manggut-manggut padahal tak terlalu mengerti maksudnya. Beberapa tahun kemudian, kami menyaksikan hal baru....
Read More
Membentuk Karakter melalui Tokoh Sejarah Islam

Membentuk Karakter melalui Tokoh Sejarah Islam

"History ia a people's memory, and without memory, man is demoted to the lower animals" ~ Malcolm-X Sejarah?? Oh, no!! Saya dulu paling sebal kalo sudah berurusan dengan pelajaran sejarah! Banyak tahun dihafal, banyak kejadian yang diingat dan banyak pula tokoh harus dikenali. Beuh, rasanya njlimet di kepala. Lagipula apa hubungannya dengan kehidupan saya sekarang?? Ketidakpedulian pada sejarah ini kemudian berubah karena besarnya rasa malu. Suatu hari saya disentil dengan pertanyaan, kenalkah dengan Khalid bin Walid? Hah?? Siapa itu? Saya terheran-heran! Selama ini tokoh Islam yang saya kenal hanya sebatas Abu Bakar, Umar bin Khaththab, Utsman bin Affan dan Ali bin Abi Thalib. Itu pun hanya garis besarnya saja karena mereka pernah masuk dalam pelajaran agama Islam di sekolah. Khulafaur Rasyidin, demikian mereka digelari. Bahkan makna persis sebutan 'khulafaur rasyidin' itu pun saya kurang paham. Bagaimana dengan Panglima Para Syuhada : Hamzah?? Kening berkerut seribu pun percuma karena saya tak punya simpanan data. Benarlah apa yang disampaikan Syaikh Taqiyuddin An-Nabhani bahwa "Berpikir tidak akan bisa...
Read More
Jejak Literasi di Masa Kejayaan Islam

Jejak Literasi di Masa Kejayaan Islam

Konon ada pelajaran tertentu yang ditekuni oleh orang-orang hebat. Pertama bahasa dan yang kedua adalah sejarah. Para negarawan mempelajari bahasa salah satunya agar bisa menjalin komunikasi efektif. Mereka juga menyelami sejarah agar bisa mengambil pelajaran. Tak mengulangi kesalahan dan mampu menorehkan prestasi lebih baik dibanding pendahulunya. Dalam sejarah dunia, Islam pernah menempati posisi sebagai poros peradaban. Di saat bangsa Eropa masih berada dalam masa kegelapan, Islam telah menerangi manusia dengan peradaban gemilang. Kegemilangan ini dimulai dari masyarakat arab jahiliyah terbelakang yang bermetamorfosa menjadi sebuah kekuatan besar. Awalnya hanya berpondasi di Madinah. Namun seiring berjalannya waktu, wilayah kekuasaan Islam terus berkembang di semenanjung arab dan sekitarnya. Lalu meluas melintasi benua dan samudera. Beberapa sejarahwan bahkan menuliskan, wilayah kekuasaan Islam itu hampir meliputi sepertiga bagian dunia. Luar biasa! Tak heran jika akhirnya Islam menjadi poros peradaban dunia. Aqidah yang menghujam kokoh di sanubari, syariat yang selalu terjaga dalam keseharian kaum muslim menjadikan mereka generasi terbaik. Tak hanya menaklukkan peradaban besar yang telah mapan ratusan tahun...
Read More