Saat Reva Patah Hati

Saat Reva Patah Hati

Belakangan ini Reva terlihat mengerikan.  Suasana hatinya mirip cuaca yang tak bisa diprediksi.  Terkadang panas.  Lalu tiba-tiba mendung bahkan muncul badai petir.  Nanti sebentar berhenti, cerah.  Kemudian entah bagaimana kembali menggerimis.  Orang-orang di sekitarnya tak tahu penyebabnya apa.  Mereka bingung.  Enggan pula untuk bertanya.  Kenapa??  Reva galak! “Mau kemana?”, Rendi, abang Reva bertanya saat melihatnya mengepak barang di tas kecilnya yang biasa dipakai saat bepergian itu. “Ke Yogya!”, jawabnya singkat.  Tanpa menatap abangnya, ia terus saja memilah barang. “Kapan?”, tanya Rendi lagi. “Sore nanti jam limaan”, jawab Reva masih dengan nada datar. “Hah??  Ada acara apa?”, Rendi terus memburu tanya. “Mau menggalau kesana!”, lagi-lagi Reva menjawab tanpa mengalihkan perhatian pada aktivitasnya.  Sisa Rendi yang terbengong-bengong melihat adik semata wayangnya ini.  Gemes!  Padahal udah dewasa gini tapi kok kelakuannya itu masih suka seenaknya!  Ditinggalkannya Reva dengan sisa-sisa kekesalan yang sebentar lagi bakal ditumpahkannya pada Ibu. *** “Bu, tuh Reva mau kabur ke Yogya katanya!”, adu Rendi.  Ibu tertawa mendengarnya.  Sudah hafal kebiasaan anak-anaknya. “Biarin aja!  Mungkin dia lagi patah hati!”,...
Read More
Wanita Berhati Cahaya

Wanita Berhati Cahaya

Dua orang wanita duduk di hadapanku.  Satu duduk agak di belakang, wajahnya sembab karena tangis.  Ia tak mau memandangku.  Mungkin juga tak sanggup memandangku.  Atau tak berani??  Sementara satu lainnya duduk tepat di hadapanku.  Sedari awal datang, ia memelukku lama sebelum melepas niqab hitamnya.  Tangannya yang lembut menggenggamku erat sementara suara dalam dan tenangnya mengatakan, “Mbak, maukah menjadi saudariku?  Maukah menikah dengan suamiku?”. *** “Pernah nggak ibu-ibu merasa gelisah?”, aku memulai kajian rutin sore selasa di kompleks perumahan itu. “Pernah, Mbak.  Apalagi kalau sudah akhir bulan...”, sahut seorang ibu yang duduk tak jauh dariku.  Jawaban itu langsung menuai persetujuan sekaligus senyum dan tawa ibu-ibu lainnya. “Jadi mulai tengah bulan sampai akhir bulan itu bawaannya gelisah gitu ya, Bu?”, aku ikut tertawa jadinya sementara mereka mengangguk kuat. “Gelisah disini bukan hanya karena kantong lagi kosong, Bu!  Gelisah yang saya maksud terjadi ketika kita ngerasa kok rasanya hidup ini terasa monoton dan nggak semangat??”.  Aku diam, memperhatikan wajah ibu-ibu peserta kajian hari itu sebelum melanjutkan lagi. “Bisa saja...
Read More
Popularitas Clara

Popularitas Clara

“Ini Ridwan ya?”, tanya Clara pada laki-laki di hadapannya itu. Yang ditanya memandangnya lekat-lekat.  Ada gurat terkejut sekaligus penasaran di matanya. “Kok bisa sampai sini?”, tanyanya balik. “Ya bisa lah!  Tapi masalahnya, ingat nggak sama aku?”, tanya Clara lagi dengan senyum jahil. “Hehe...”, laki-laki itu tersenyum malu.  Sungkan untuk mengatakan lupa namun juga tak bisa menyembunyikan ekspresi kejujuran tentang penghapusan memorinya yang telah lalu. “Coba ingat-ingat deh!”, tantang Clara. “Hmmm...”, dia memandangi Clara sambil berusaha keras mengumpulkan ingatannya.  Nihil! “Wah, beneran nggak ingat?”, tanya Clara terkejut. Ridwan tersenyum.  Memamerkan deretan gigi putihnya yang bersinar seperti bintang iklan pasta gigi.  Juga lesung pipinya. “Kalo sudah di atas lima tahun biasanya sudah agak-agak lupa nih...”, ujarnya malu. “Ya ampun, dia beneran lupa sama aku!”, keluh Clara setengah histeris.  Sementara Evi berusaha menyembunyikan tawa geli yang sejak tadi ditahannya. Empat Jam sebelumnya.... Bip bip bip....  Sebuah pesan singkat masuk ke handphone Clara, sementara sang pemilik masih antri di depan kasir pembayaran pajak.  Buru-buru ia meraih galaxi note di dalam kantong jilbabnya. “Cepetan ke siniiii...”, sms Evi...
Read More
Sang Tersangka (Bagian 3)

Sang Tersangka (Bagian 3)

Fatimah berjalan gontai keluar dari stasiun.  Memutuskan mencari hotel di sekitar stasiun dan tidur.  Ia lelah.  Tangannya melambai lemah pada taksi di depannya.  Namun baru saja masuk, Fatimah langsung terperanjat. “Kamu??”, Ayub duduk di hadapannya sebagai sopir dan langsung menjalankan mobil tanpa komando.  Ia tersenyum lewat kaca spion.  Namun dalam beberapa detik senyumnya hilang dan ia mulai memacu mobilnya. “Dengar, aku tak punya banyak waktu.  Selain kamu, masih ada yang mengikutiku”, ujarnya dengan suara serius sembari memberi kode ke belakang. Fatimah memalingkan kepala dan melihat sebuah mobil mengikuti di belakang mereka.  “Siapa mereka?  Kamu nggak sedang bikin drama kan?”, tuduh Fatimah. “Terserah kamu menganggapnya apa.  Aku sekarang cuma sedang memperingatkanmu.  Kamu sepertinya jurnalis amatiran yang masih polos.  Tak usah terlibat dalam kasus ini jika kamu masih ingin hidup nyaman...”, ujar Ayub sambil berusaha menyalib beberapa mobil di hadapannya semena-mena.  Namun jalanan Yogya di pagi hari jam kerja itu cukup ramai.  Sulit baginya menjauhi mobil yang nyata-nyata mengikuti di belakang.  Bisa dibayangkan akibatnya, tubuh Fatimah...
Read More