Lempari Saja Aku Batu!

Lempari Saja Aku Batu!

Tak ada manusia sempurna. Tak ada manusia yang tak pernah salah. Tapi manusia bisa belajar menjadi sosok yang lebih baik dari kesalahan-kesalahan masa lalunya. "Nih, pegang...", seorang laki-laki menyodorkan toples. Aku yang sedang menikmati pertumbuhan tanaman kedelai di kebun pun agak terheran. Cowok itu sedang apa?? "Ada ulaaat...", dia menangkap satu ulat daun kecil. Kalau mau jujur, aku takut dengan binatang itu!! Hiiiiyyy...rasanya geli dan ingin melarikan diri. Tapi anehnya, aku tak beranjak. Malahan membuka tutup toples dan menyorongkan ke hadapannya dengan santai. Dia tersenyum. Ehm...yang senyum itu si cowok yaa?? Bukan ulatnya! Lalu dia balik ke rumpun tanaman dan kembali berburu serangga. Ya, hari itu kami pengamatan hama dan penyakit tanaman. Cowok ini kesukaanku. Aku bahkan pernah iseng beberapa kali nitip salam padanya melalui teman cowokku yang lain. Tapi tak sekalipun dia membalasnya. Dikenalkan dia adem. Diajak nongkrong bareng dia cool. Tak satu pun sinyalku dibalasnya. Apes banget yaa? :cry: "Kos kamu dimana?", tanyanya dengan nada lembut. Ia tiba-tiba berbalik lalu memasukkan...
Read More
Hati Husna

Hati Husna

Orang bilang, cinta itu seperti kentut. Ditahan sakit perut, dikeluarkan bikin ribut! "Kamu yakin nggak bakal jatuh cinta sama dia??", tanya Nuri pada Husna. "Yep!!", Husna tak memerlukan waktu lama menjawabnya. "Hei ayolah, dia itu adek! Adek!!", Husna menegaskan agar Nuri mendukung keputusannya belajar dengan Ibrahim. Anak IT baik hati, tidak sombong dan ajaibnya suka menolong itu. Mungkin karena ia lebih muda sehingga mudah bagi Husna menyuruhnya ini dan itu. "Tapi kan dia juga ikhwan..." Ah, andai kala itu kalimat sanggahan Nuri didengar Husna dengan baik! *** "Hai kak, gimana websitenya? Udah jadi?? Maaf yaa baru balas pesan kakak...", kalimat ini sampai setelah berminggu-minggu Husna mengiriminya pesan. Sejujurnya Husna sudah berpaling mencari guru lain. Dia kesal sebab pesannya hanya dibaca si adek tanpa balasan. "Aish...bilang iya atau nggak aja anak ini mikirnya lama pake bingits!", Husna komat kamit merapal omelannya. Mirip orang yang lagi dilamar aja pikirnya. Padahal ia hanya meminta menjadi gurunya bukan suaminya! Memang sih, Husna sudah lama tak menjalin kontak dengannya. Eh, nggak ada angin dan hujan...
Read More
Saat Reva Patah Hati

Saat Reva Patah Hati

Belakangan ini Reva terlihat mengerikan.  Suasana hatinya mirip cuaca yang tak bisa diprediksi.  Terkadang panas.  Lalu tiba-tiba mendung bahkan muncul badai petir.  Nanti sebentar berhenti, cerah.  Kemudian entah bagaimana kembali menggerimis.  Orang-orang di sekitarnya tak tahu penyebabnya apa.  Mereka bingung.  Enggan pula untuk bertanya.  Kenapa??  Reva galak! “Mau kemana?”, Rendi, abang Reva bertanya saat melihatnya mengepak barang di tas kecilnya yang biasa dipakai saat bepergian itu. “Ke Yogya!”, jawabnya singkat.  Tanpa menatap abangnya, ia terus saja memilah barang. “Kapan?”, tanya Rendi lagi. “Sore nanti jam limaan”, jawab Reva masih dengan nada datar. “Hah??  Ada acara apa?”, Rendi terus memburu tanya. “Mau menggalau kesana!”, lagi-lagi Reva menjawab tanpa mengalihkan perhatian pada aktivitasnya.  Sisa Rendi yang terbengong-bengong melihat adik semata wayangnya ini.  Gemes!  Padahal udah dewasa gini tapi kok kelakuannya itu masih suka seenaknya!  Ditinggalkannya Reva dengan sisa-sisa kekesalan yang sebentar lagi bakal ditumpahkannya pada Ibu. *** “Bu, tuh Reva mau kabur ke Yogya katanya!”, adu Rendi.  Ibu tertawa mendengarnya.  Sudah hafal kebiasaan anak-anaknya. “Biarin aja!  Mungkin dia lagi patah hati!”,...
Read More
Wanita Berhati Cahaya

Wanita Berhati Cahaya

Dua orang wanita duduk di hadapanku.  Satu duduk agak di belakang, wajahnya sembab karena tangis.  Ia tak mau memandangku.  Mungkin juga tak sanggup memandangku.  Atau tak berani??  Sementara satu lainnya duduk tepat di hadapanku.  Sedari awal datang, ia memelukku lama sebelum melepas niqab hitamnya.  Tangannya yang lembut menggenggamku erat sementara suara dalam dan tenangnya mengatakan, “Mbak, maukah menjadi saudariku?  Maukah menikah dengan suamiku?”. *** “Pernah nggak ibu-ibu merasa gelisah?”, aku memulai kajian rutin sore selasa di kompleks perumahan itu. “Pernah, Mbak.  Apalagi kalau sudah akhir bulan...”, sahut seorang ibu yang duduk tak jauh dariku.  Jawaban itu langsung menuai persetujuan sekaligus senyum dan tawa ibu-ibu lainnya. “Jadi mulai tengah bulan sampai akhir bulan itu bawaannya gelisah gitu ya, Bu?”, aku ikut tertawa jadinya sementara mereka mengangguk kuat. “Gelisah disini bukan hanya karena kantong lagi kosong, Bu!  Gelisah yang saya maksud terjadi ketika kita ngerasa kok rasanya hidup ini terasa monoton dan nggak semangat??”.  Aku diam, memperhatikan wajah ibu-ibu peserta kajian hari itu sebelum melanjutkan lagi. “Bisa saja...
Read More