Kubisik Namamu

Kubisik Namamu

Aku menahan nafas melihat sebuah foto dalam kolom pencarian diaplikasi instagram handphone-ku.  Diakah?  Aku refleks menggerakkan jari mengklik gambar itu.  Lupa dengan tujuan awal yang ingin mencari tahu destinasi wisata Bandung yang direkomendasikan teman.  Gambar di tengah pada baris kedua itulah yang kutuju.  Dan demi melihat senyum lebar agak malu itu, hatiku pun seketika jatuh berdebar. Ya, ini laki-laki yang kutemui lima tahun lalu di sebuah seminar kepenulisan.  Mahasiswa fakultas teknik di almamaterku dahulu.  Panitia ikhwan yang diutus kakak sepupunya memberikan tiket gratis padaku.  Sebuah hadiah karena lama tak bersua. Ungkapan rindu pada saudara seperjuangan di kampus pada masa lalu. Seorang kurir yang meninggalkan jejak dalam hatiku. *** “Desember nanti kamu pulang kesini kan?  Ada seminar kepenulisan nih!  Aku udah pesenin tiket buat kamu.  Pembicaranya Boim Lebon lho...”, ujar Kak Rina saat menelfonku. “Yang bener, Kak?”, aku diliputi perasaan senang.  Zaman kecil dulu, novel lupusnya pernah menjadi salah satu bacaan favoritku!  “Rencananya memang mau pulang sih soalnya udah kangen banget sama rumah.  Tapi ya...
Read More
Lonely

Lonely

“Popularitas tidak mengakhiri kesepian” ~ Claire Danes ~ “Dear passengers, in a few minutes we will arrived and landed in Incheon International Airport of South Korea.  Please straighten your seat and fasten your seatbelt.  Please be sure to take all of your belongings...”, suara pramugari mengingatkan penumpang.  Aku menarik nafas panjang.  Agustus tiba!  Sebagaimana dijadwalkan, aku akhirnya menjejakkan kaki di negeri ginseng, Korea.  Berbagai perasaan campur aduk menjadi satu.  Bahagia sebab mimpi melanjutkan studi di luar negeri akan segera terpenuhi.  Namun juga gugup jika mengingat jauhnya jarak dengan tanah kelahiran.  Juga perbedaan budaya dan bahasa. Ah, bahkan bandara Incheon yang megah tak mampu mengusir rasa terasing yang mulai mengusik.  Orang-orang berbicara dengan kata yang seolah semuanya berujung “O”.  Yo, haseyo, jusipsiyo, murago!  Alamak, rasanya seperti mimpi!  Biasanya aku cuma nonton drama korea di televisi.  Tapi hari ini, seolah aku masuk ke dalam plot dan menjadi salah satu aktornya! *** Sebuah taman dengan pohon-pohon besar berkanopi lebar menggodaku.  Lelah setelah menelusuri kampus baruku sejak siang...
Read More
Lempari Saja Aku Batu!

Lempari Saja Aku Batu!

Tak ada manusia sempurna. Tak ada manusia yang tak pernah salah. Tapi manusia bisa belajar menjadi sosok yang lebih baik dari kesalahan-kesalahan masa lalunya. "Nih, pegang...", seorang laki-laki menyodorkan toples. Aku yang sedang menikmati pertumbuhan tanaman kedelai di kebun pun agak terheran. Cowok itu sedang apa?? "Ada ulaaat...", dia menangkap satu ulat daun kecil. Kalau mau jujur, aku takut dengan binatang itu!! Hiiiiyyy...rasanya geli dan ingin melarikan diri. Tapi anehnya, aku tak beranjak. Malahan membuka tutup toples dan menyorongkan ke hadapannya dengan santai. Dia tersenyum. Ehm...yang senyum itu si cowok yaa?? Bukan ulatnya! Lalu dia balik ke rumpun tanaman dan kembali berburu serangga. Ya, hari itu kami pengamatan hama dan penyakit tanaman. Cowok ini kesukaanku. Aku bahkan pernah iseng beberapa kali nitip salam padanya melalui teman cowokku yang lain. Tapi tak sekalipun dia membalasnya. Dikenalkan dia adem. Diajak nongkrong bareng dia cool. Tak satu pun sinyalku dibalasnya. Apes banget yaa? :cry: "Kos kamu dimana?", tanyanya dengan nada lembut. Ia tiba-tiba berbalik lalu memasukkan...
Read More
Hati Husna

Hati Husna

Orang bilang, cinta itu seperti kentut. Ditahan sakit perut, dikeluarkan bikin ribut! "Kamu yakin nggak bakal jatuh cinta sama dia??", tanya Nuri pada Husna. "Yep!!", Husna tak memerlukan waktu lama menjawabnya. "Hei ayolah, dia itu adek! Adek!!", Husna menegaskan agar Nuri mendukung keputusannya belajar dengan Ibrahim. Anak IT baik hati, tidak sombong dan ajaibnya suka menolong itu. Mungkin karena ia lebih muda sehingga mudah bagi Husna menyuruhnya ini dan itu. "Tapi kan dia juga ikhwan..." Ah, andai kala itu kalimat sanggahan Nuri didengar Husna dengan baik! *** "Hai kak, gimana websitenya? Udah jadi?? Maaf yaa baru balas pesan kakak...", kalimat ini sampai setelah berminggu-minggu Husna mengiriminya pesan. Sejujurnya Husna sudah berpaling mencari guru lain. Dia kesal sebab pesannya hanya dibaca si adek tanpa balasan. "Aish...bilang iya atau nggak aja anak ini mikirnya lama pake bingits!", Husna komat kamit merapal omelannya. Mirip orang yang lagi dilamar aja pikirnya. Padahal ia hanya meminta menjadi gurunya bukan suaminya! Memang sih, Husna sudah lama tak menjalin kontak dengannya. Eh, nggak ada angin dan hujan...
Read More