Akhir Kisah Kita

Akhir Kisah Kita

Suara-suara histeris berkumandang.  IGD dipenuhi korban kecelakaan mobil didampingi sanak keluarga.  Kabarnya dua orang langsung meninggal di tempat sementara delapan orang lainnya terluka parah, termasuk Ayu.  Kutarik nafas panjang, mencoba memahami semua kenyataan ini.  Perempuan itu pagi tadi masih tersenyum manis ketika aku berangkat kerja.  Masih mencerewetiku agar tak melewatkan makan siang saat ia tak ada.  Masih sempat bertanya padaku, ingin dimasakkan apa saat ia datang nanti?  Masih bisa mengeluh tentangku yang lebih sering memeluk kamera dan membuat berita dibanding memperhatikan dirinya.  Aku hanya menertawakan sepintas dan mengoloknya manja.  Tapi lihat sekarang, ia terbaring kesakitan di ruang operasi.  Tak terasa air mata turun disertai pedih yang menusuk dada.  Rasa takut kehilangan dirinya menyerbuku tanpa ampun. *** Siapa yang menyangka kalau aku justru menghabiskan hari-hariku di rumah sakit dan turut jadi incaran para jurnalis.  Korban meninggal dua orang, tiga kritis dan lima lainnya mengalami luka berat.  Kamusnya, semakin banyak korban maka semakin meriah berita disajikan.  Sebagai bagian dari dunia ini, aku bisa memahami...
Read More
Aku, Kamu dan Dia

Aku, Kamu dan Dia

Aku tercenung lama di depan komputer yang tak digunakan.  Mataku memang memandangi layar di hadapan namun pikiran jelas sedang berkelana.  Berkas yang sejak tadi harus kuperiksa pun tak tersentuh.  Kubaca sekali dua kali pun pikiranku tetap saja tak mau hinggap disana.  Ia kembali beterbangan mengingat pertanyaan seniorku tadi malam.  “Man, kamu itu sudah saatnya menikah.  Gimana kalau kujodohkan dengan Ratih?”, tanya Bang Irfan. “Hah?  Ratih, Bang?”, aku kaget bukan kepalang!  Aku mengenalnya cukup baik.  Ia rekan sekantor Bang Irfan yang dipindahtugaskan kemari beberapa bulan lalu.  Aku memang baru mengenalnya sebentar namun sudah cukup banyak berinteraksi dengannya.  Kami terlibat kepanitiaan bersama dalam kegiatan kantor dan masyarakat.  Lagipula tempat tugas kami ini terpencil.  Aktivitas kecil sekalipun bisa diketahui tetangga di ujung kampung sehingga sepak terjangnya sering mampir di telingaku meski tak kulihat langsung.  Belum lagi kami terhubung kedekatan pada Bang Irfan.  Aku bersahabat dengan seniorku itu sejak pertama kali bertugas sementara gadis itu dekat dengan istri seniorku tersebut karena mereka satu pengajian. “Serius?”, tak...
Read More
Terminal Cinta Alya

Terminal Cinta Alya

Namaku Alya. Aku dua puluh tiga tahun lewat dua bulan. Usiaku sudah bukan mainan dalam memutuskan perkara penting dalam hidupku. Apa yang ingin kulakukan, apa yang benar-benar kuinginkan dalam hidup, aku jelas mengetahuinya dan sedang menuju ke sana. Termasuk cinta. Dalam kepalaku, profil laki-laki impian dan gambaran cinta seperti apa yang ingin kujalani sudah tergambar dengan jelas. Pernikahan dengan seorang laki-laki sholeh yang akan menjadi pemimpin bagiku, juga anak-anakku kelak dengan landasan cinta karena Allah. Pernikahan barokah yang diawali dengan proses yang halal, tanpa melanggar syariah-Nya dari awal hingga akhir. Ya, aku sedang menuju kesana saat tiba-tiba tujuanku terhenti. Aku merasa seperti penumpang bus, sedang berdiri di terminal untuk beberapa lama. Menunggu bus yang akan mengantar ke tujuan dengan selamat. Bus yang searah dengan tujuanku. Tapi tiba-tiba saja aku tergoda untuk menaiki bus lainnya. Bukan hanya satu tapi dua. Oh, kupikir aku gila!!! Hari itu…di bandara Syamsudinnoor semuanya dimulai. Jadwal penerbangan pukul 13.50 Wita telah membuatku berada di sana satu setengah jam lebih...
Read More
Jeng Kelin

Jeng Kelin

Episode Alin “Itu perlu pendampingan, Mbak! Kalo sampeyan biarkan, bisa kacau nanti!”, sembur Jeng Kelin serta merta. Sang terdakwa, Alin, perempuan awal tiga puluhan yang baru menyesuaikan diri dengan amanah barunya sebagai ibu itu tersentak kaget. Belum pernah dalam pengalamannya berinteraksi dengan manusia-manusia dari komunitas ini diperlakukan begini. “Itu amanah lho, Mbak! Kita dimintai pertanggungjawaban...”, serbunya lagi. Alin, ibu muda itu menelan ludah. Pahit. Namun lebih pahit terasa di hatinya. Ia tak menyahut sepatah kata pun, hanya mengeluarkan senyum kecut yang dipaksakan. Sungguh, jika bisa ia ingin tenggelam dalam retakan bumi secepatnya. Ia sukses dipermalukan dihadapan junior-juniornya! Episode Aisyah “Kamu gimana? Masihkah permasalahanmu yang dulu itu?”, lagi-lagi Jeng Kelin mencecar korbannya. Kali ini Aisyah, ibu muda, benar-benar muda karena ia menikah tepat di awal dua puluhan. Ia bahkan masih berstatus anak kuliahan saat menikah dua tahun lalu. “Masalah apa, Mbak?”, tanya Aisyah pelan sambil menggendong putrinya. Meskipun tersenyum, namun mulai terlihat ketidaknyamanan dalam gerak-geriknya. “Lho...dulu masalahmu apa?”, tembak Jeng Kelin kembali. “Hehe...”, Aisyah mencoba mengatasinya dengan tawa...
Read More