Hujan dan Jas Hujan

Hujan dan Jas Hujan

Aku menyukai hujan.  Begitu menyukainya hingga sering menantikannya.  Semakin lebat, semakin dingin, semakin aku menyukainya.  Tak seperti orang lain yang otomatis berteduh saat tetes-tetes bening itu turun, aku dengan senang hati bermain dengannya.  Tak peduli dengan rasa dingin yang menusuk tulang, tak menghiraukan petir yang kadang menghiasi suasana.  Sejak aku mengenalnya di usia belia, aku selalu mencari cara agar bisa bersamanya.  Menunggu di ujung talang air di samping rumah, agar curahannya bisa menghujaniku semakin deras. Biasanya Ibu akan memberi kesempatan bermain sejenak sebelum beliau menghentikan cengkeramaku bersama hujan, memandikan lalu membungkusku dengan pakaian tebal.  Tak lupa segelas susu cokelat yang mengepul hangat.  Begitu selalu.  Bahkan jika hujan turun saat aku pulang sekolah, aku akan menerobosnya penuh suka cita.  Mungkin itu juga salah satu alasan aku tak menyukai jas hujan. Logikaku begitu sederhana...aku menyukai hujan ini, jadi mengapa aku harus berlindung darinya?  Bukankah takkan menyenangkan jika aku memakainya? “Kriiiiing...”, telfon di ruang tamu membuatku meletakkan gelas berisi teh beraroma melati yang menghangatkan dua telapak...
Read More
Rapunzel

Rapunzel

“Why I can’t go outside?”, Rapunzel ask to her mother. “The outside world is a dangerous place, filled with horrible, selfish people.  You must stay here, where you’re safe”, her mother said. Haruskah aku juga mengurung diri di menara untuk menjauhi dunia yang kejam ini? *** “Aaaaaa....”, seseorang berteriak histeris.  Dina mendengarnya merasakan seolah suara itu berasal dari tempat yang jauh.  Sangat-sangat jauh.  Dengan semua sisa tenaga yang dimilikinya, gadis kecil berusia tujuh tahun itu mencoba membuka matanya.  Sakit.  Ia menangkap seberkas sinar di belakang seorang wanita yang berteriak tadi.  Lalu semuanya menjadi gelap. *** “Dina...dimana kamu, nak?”, Ibu Rani, pengawas panti asuhan memanggil.  “Dina...?”, ia memanggil lagi dan tersenyum saat mendapati orang yang dicari sibuk dengan kuas-kuas cat airnya.  “Rupanya kamu di sini, nak.  Apa yang kamu gambar kali ini?”.  Ibu Rani melihat lukisan di atas kanvas itu dan terbelalak.  “Nak, mengapa masih melukis ini?”, tanyanya dengan suara tercekat di tenggorokan.  Yang ditanya tak menjawab atau mengubris satu pun pertanyaan.  Ia melanjutkan pekerjaannya seperti semula,...
Read More
Jari Kaki Aina

Jari Kaki Aina

"Hai anak cucu Adam, sesungguhnya Kami telah menyediakan pakaian untuk menutupi auratmu dan untuk perhiasan bagimu.  Tetapi pakaian taqwa itulah yang lebih baik.  Demikianlah sebagian dari tanda-tanda kekuasaan Allah, mudah-mudahan mereka ingat.  Hai anak cucu Adam, janganlah sampai tertipu oleh syaitan sebagaimana halnya dia (syaitan) telah mengeluarkan ibu bapakmu dari surga, dengan menanggalkan pakaian keduanya untuk memperlihatkan aurat keduanya.  Sesungguhnya dia dan pengikutnya dapat melihat kamu dari suatu tempat yang kamu tidak bisa melihat mereka.  Sesungguhnya Kami telah menjadikan syaitan-syaitan itu pemimpin-pemimpin bagi orang-orang yang tidak beriman. " (QS. Al A'raf (7) : 26-27). “Pakaian taqwa adalah pakaian yang dipakai oleh muslimah dengan tujuan membuktikan ketaatannya kepada Allah, bukan sebagai pakaian yang dipakai bertujuan untuk memamerkan kecantikan di depan orang banyak.  Pakaian taqwa adalah salah satu identitas wanita shalihah.  Hukum menutup aurat dengan sempurna adalah fardhu ‘ain bagi setiap wanita yang telah baligh.  Selain berpakaian taqwa, muslimah juga senantiasa menjaga penampilan dirinya agar tidak berpenampilan layaknya wanita jahiliyyah atau bertabarruj.  Tabarruj...
Read More
Gigi Palsu Untuk Bunda

Gigi Palsu Untuk Bunda

Eri baru saja sampai di rumah, masih basah oleh keringat.  Maklum, cuaca akhir-akhir ini sangat panas.  Kemarau lebih panjang dari biasanya.  Mungkin inilah salah satu dampak perubahan iklim seperti yang ramai dibicarakan orang-orang.  Ah, mboh lah…!!!  Yang pasti Eri baru datang dari desa Suka Makmur, tempatnya ditugaskan sebagai bidan desa.  Sebenarnya desa ini hanya berjarak 95 km dari rumah orang tuanya di Pangkalan Bun, salah satu ibukota kabupaten di Kalimantan Tengah.  Namun karena sulit ditempuh lewat jalur darat, maka mayoritas penduduk disana menggunakan speedboat sebagai sarana transportasi utama.  Bagi Eri sendiri, perjalanan lewat jalur air lebih mengasyikkan.  Pemandangannya indah.  Kalimantan terkenal sebagai pulau seribu sungai.  Nah, salah satu sungai besarnya adalah Sungai Lamandau, lebarnya hampir lima puluhan meter.  Sumber air yang tak pernah kering meskipun musim kemarau panjang seperti saat ini.  Di sepanjang sungai itu, hidup berbagai jenis pohon besar dan kecil.  Akar-akar gantung berlomba menjuntaikan ujung-ujung kakinya ke air.  Monyet kadang terlihat bergelantungan di daerah yang masih perawan.  Burung-burung...
Read More