Apa Media Sosial Favoritmu?

Apa Media Sosial Favoritmu?

Di era smartphone seperti sekarang, punya beberapa akun media sosial berbeda sepertinya ya biasa! Pake facebook, twitter, instagram, path, dll. Pokoknya semua ada! Saya pun termasuk yang begini! Facebook pake, twitter punya, instagram eksis, blog apalagi! Meski begitu, jujur saja tak semua akun ini saya manfaatkan dengan baik. Kalau blog jelas yaa keberadaannya memang yang paling bikin hati saya berbunga. Ya iyalah, soalnya dia menampung semua unek-unek di kepala ini. Sementara yang lain? Ehm...zaman penduduk facebook masih ramah, saya paling suka media sosial ini. Terutama karena ia tak membatasi karakter huruf seperti twitter! Lagipula kebanyakan kenalan saya beraktivitas dengan facebook. Dan ini alasan terbesar saya menyukainya! Dulu rasanya agak aneh ketika punya teman tapi tak dikenal. Makanya kalau belum kenal, biasanya saya usahakan kenalan dulu. Biar nyaman berinteraksi! Maksudnya sih begitu... ;) Tapi seiring waktu, sepertinya kebiasaan ini terlupakan. Akibatnya saya punya banyak teman yang tidak benar-benar saya kenal. Sebagai orang yang ingin memasarkan tulisan, sebenarnya ini bukan masalah besar kali yes? Tapi...
Read More
Berjuang Lalu Bersyukur

Berjuang Lalu Bersyukur

“Setidaknya diriku merasa tenang sudah diperjuangkan walaupun nggak ada hasilnya”, kalimat ini melintas dalam chat bersama seorang rekan.  Saya langsung ngakak.  Geli ketika mendengar kalimat milik saya itu dilontarkan kembali oleh orang lain.  Tapi kalimat ini memang pernyataan terjujur yang pernah saya ungkapkan padanya.  Ada sejarah panjang kemunculan kalimat sederhana itu. Pada suatu keadaan, saya pernah mengambil satu keputusan ekstrim.  Entahlah.  Mungkin setelah diterpa berbagai badai kehidupan (duh, bahasanya yah? :lol: ), saya mulai nekad memintas jalan.  Salah??  Tentu saja!  Tapi namanya manusia, pasti aja selalu punya pembenaran atas keputusan-keputusannya.  Termasuk saya yang saat itu lagi dilema.  #Eaaa.... Ah, mengenangnya aja masih terasa manis asem asinnya!  Singkatnya, masa itu bisa dibilang masa kegelapan saya deh.  Akibatnya semua serba salah.  Ehm...bukannya nggak tahu sih bakal ada buntut panjang begini.  Tahu...tapi itulah keputusan terbaik kala itu yang bisa saya lakukan.  Titik! Apa yang terjadi kemudian??  Saya perlu waktu  hampir empat tahun untuk memperbaikinya.  Tahun pertama yang terberat karena saya harus menelan semua tudingan dan amarah. ...
Read More
Satu Suku Beda Bangsa

Satu Suku Beda Bangsa

Dalam kepala saya jika mendengar kata luar negeri, maka yang terbayang adalah bule berkulit putih, bermata biru, berambut pirang.  Atau sebaliknya, berambut gimbal dengan kulit hitam nan eksotis.  Atau juga, ehm...bermata sipit cute menggoda seperti idol-idol zaman sekolah saya dulu, hehe....  Ups.... :lol: Tapi ajaibnya pikiran itu terganggu ketika Ama bercerita tentang salah satu upacara adat yang dihadiri dua negara tetangga yaitu Malaysia dan Brunei.  Mengapa hadir disini??  Karena ada beberapa sanak keluarga yang konon menikah dengan keluarga kesultanan mereka.  Udah, nggak usah tanya yang mana!  Saya juga nggak kenal dekat kok, hehe.... Inilah yang kemudian memicu rasa penasaran masa kecil.  Kenapa pulau Kalimantan kami ini harus terbagi menjadi tiga negara??  Sebagian besar masuk dalam wilayah Indonesia, sebagian lainnya masuk dalam Malaysia dan Brunei Darussalam.  Sosok yang sama seperti kami, berkulit sawo matang hingga kuning langsat dengan perawakan sedang dan berambut hitam.   Bahkan satu suku dengan kami yang ada di bagian wilayah Indonesia.  Eta terangkanlah! Kini, suasana panas kembali melingkupi.  Yah, kalau melihat...
Read More
Gara-gara Janggut

Gara-gara Janggut

Ikhwan berjanggut? Ehm...ikhwan yang mana nih? Eits, sebenarnya bukan mau ngebahas ikhwan kali ya? Tapi karena janggut itu milik ikhwan, terpaksa deh kita bawa-bawa... :lol: Kisah sebenarnya sih sederhana. Suatu hari saya ngobrol dengan salah satu sahabat. "Eh, gimana kabarnya si ucup?", tanya saya tiba-tiba teringat adiknya yang baru wisuda beberapa waktu lalu. Maka meluncurlah kisah si kakak tentang suka duka si adik melamar pekerjaan dengan latar pendidikan teknik mesinnya. Dari total sekian ratus pelamar di perusahaan tambang itu, hanya puluhan orang yang memenuhi syarat dan mendapat panggilan wawancara. Dan dari sekian orang yang diwawancara, Ucup kelihatannya belum juga memenuhi kriteria. Duh, susah amat ya? Sampai beberapa waktu lalu, Ucup mendadak mendapat panggilan kerja. Memang sih bukan mengisi posisi yang semula dilamar. Tapi justru itu ajaibnya. Ia diminta mengelola cabang usaha lain perusahaan tersebut. Langsung deh saya heboh mendengarnya! "Tahu nggak pas ditanya kenapa dia diterima?", tanya sahabat saya. "Emang apa kata bosnya?", saya penasaran juga akhirnya. "Gara-gara janggut!", jawabnya sambil tertawa geli. Hah?? Nggak salah...
Read More