“Life isn’t about waiting the storm to pass.  It’s about learning to dance in the rain” ~Vivian Greene~

“Kalut akibat masalah hidup, seorang penumpang kapal terjun ke laut”, kurang lebih demikian salah satu judul berita yang saya baca beberapa hari lalu.  Berhubung media lokal, saya pun langsung cuss mengunjungi portal beritanya.  Seorang penumpang berinisial DR (39 tahun) ini nekad menceburkan diri ke laut.  Setelah pencarian selama dua belas jam ia pun ditemukan oleh nelayan dalam keadaan masih hidup namun menolak diselamatkan.  Mungkin dia sudah tak tahan menanggung derita perpisahan dengan istri, bingung akibat tak mempunyai pekerjaan hingga menghidupi dua anaknya.  Meski demikian, artikel lain menyebut bahwa saat ditemukan ia mengenakan baju pelampung.  Jadi semacam hidup segan mati tak mau??

Disaat yang sama, saya mendengar kemelut lainnya.  Sepasang suami istri yang mengalami kebangkrutan.  Terjebak hutang hingga rumah pun melayang dan hidup menumpang.  Putra satu-satunya bukan membantu malah membuat masalah hidup makin membuntu.  Padahal masih ada putri bungsu yang harus diperjuangkan pendidikannya.  Namun sepasang suami-istri yang tak lagi muda itu masih gigih berjuang.

Ngomong-ngomong tentang hidup, siapa sih yang tak pernah mengalami kemelut?  DR yang setengah hati memutuskan terjun ke laut, sepasang suami istri yang terus berjuang, saya yang menulis cerita ini atau kamu yang ikut membaca, kita semua mengalaminya.  Dari krisis ringan sampai berat dengan versi masing-masing.  Ehm…kenapa saya tekankan versi masing-masing?  Sebab masalah yang terasa ringan bagi kita bisa jadi justru yang terberat bagi orang lain.  Wajarlah yaa…sebab kita punya latar belakang berbeda sehingga berat-ringan itu sangat bergantung sudut pandang masing-masing orang.  Hanya saja sebagai muslim, prinsip dasar menyikapinya lah yang wajib sama.  Kembali pada-Nya.  Syariat-Nya.  Lalu percaya pada janji-Nya.

Firman Allah SWT :  “…Allah kelak akan memberikan kelapangan sesudah kesempitan.” (TQS. At-Talaq : 7).  Terkait ayat ini, Ibnul Jauziy, Asy Syaukani dan beberapa ahli tafsir lainnya mengatakan, “Setelah kesempitan dan kesulitan, akan ada kemudahan dan kelapangan”.  Ibnu Katsir mengatakan, ”Janji Allah itu pasti dan tidak mungkin Dia mengingkarinya”.

Kita bisa belajar dari kisah Nabi Ayyub AS yang telah membuktikan janji-Nya.  Beliau yang semula kaya dan tersohor tetiba diuji dengan kemiskinan dan penyakit kulit.  Namun demi melihat kesabaran dan ketaatan Nabi Ayub, Allah SWT pun menyembuhkan penyakit dan memberi kembali hartanya.

Dan barang siapa yang bertawakal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)-nya” (QS. At-Talaq: 3).

Masya Allah, mendengar ini jadi adem yaa?  Inilah janji pemilik semesta pada hamba-Nya.  Janji manis yang layak kita jadikan pelipur lara kala kehidupan begitu pahit terasa.  Jadi apalagi yang kita takuti jika Ia telah berjanji? 😉

“…jangan engkau bersedih, sesungguhnya Allah bersama kita…” (TQS. At-Taubah : 40)

#ODOP day 2 of 30

*Ditulis sambil mendengarkan celotehan mereka tentang paket data… 😆

Facebooktwittergoogle_pluspinteresttumblrmail

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *