“Kenapa sih dikit-dikit selalu berprasangka begitu?? Kenapa nggak coba dibicarakan dengan ketua tim lalu sampaikan keberatanmu itu!”, perkataan Emma seolah menyengatku.

“Kapan aku berprasangka? Aku hanya bertanya dan meminta jawaban.  Kamu salah satu anggota timnya kan? Aku berhak mendapat jawaban jika diminta berperan disana!”, sanggahku dengan suara keras.

Entah bagaimana aku tak bisa menahannya. Tanganku tiba-tiba bergetar. Dadaku panas. Dan aku kehilangan minat bicara pada sahabatku. Kalimatnya meremas jantung.

***

Malam itu dingin. Alergiku kumat. Namun aku tetap duduk di lobi hotel demi menyelesaikan pekerjaan terakhirku. Besok kami mengadakan sebuah event besar. Meski sudah seharian wara-wiri namun ternyata masih ada yang kurang. Aula hotel masih dipakai hingga pukul 21.00 WIB sehingga tim dekorasi harus bekerja di atas jam tersebut. Sejujurnya ini bukan tugasku. Aku menangani bagian acara. Tapi bagaimana lagi? Anggota tim dekorasi tak bisa standby hingga larut malam. Padahal perannya sangat penting agar acara yang telah kususun berjalan baik. Tanpa pengawasan, bisa saja semua berantakan. Dan disinilah aku, si perfeksionis tim acara yang tak mungkin mendiamkannya.

Pukul 22.30 WIB aku baru tiba di rumah. Membersihkan diri dan bersiap menuju pembaringan. Tak sabar menyongsong pagi dan menyelenggarakan acara. Doaku tak henti agar event besok berjalan sempurna!

***

“Menangani ini nggak mau!  Menangani itu juga nggak mau!  Lalu kamu maunya apa sih??”, pertanyaan ini dilontarkan salah satu temanku dalam nada putus asa.

“Hmm…beri aku sesuatu yang nggak membutuhkan tanggung jawab besar”, jawabku sekenanya.

Ia menghela nafas.  Mungkin mulai lelah! Itu jawaban terbaik yang ia dengar setelah berkali-kali kutolak berpartisipasi dalam berbagai event lainnya. Sejujurnya aku ingin bilang tidak saja. Namun demi melihatnya bolak-balik ke rumah, aku merasa tak enak menolak lagi. Terlebih ketika mengetahui ia bahkan kehilangan sejumlah uang saat terakhir kali mengunjungiku.

Namun aku terluka. Dan masih terluka. Bayangan kejadian beberapa bulan lalu masih menghantui. Event besar tersebut berlalu. Dari luar terlihat sukses. Namun behind the scene-nya tidaklah semulus penampakan di permukaan.

“Kenapa nggak begini sih?”, satu anggota tim berteriak.

“Coba kalau begitu, pasti lebih baik!”, anggota tim lainnya tak kalah sengit.

Bagiku suara-suara seperti ini biasa saja. Tak setiap orang suka cara kita. Tak setiap orang setuju dengan keputusan kita. Inilah dinamika kehidupan. Tapi…

“Menurutku sih dia nggak optimal. Aku memberi opsi begini tapi dia ngotot mengatakan begitu. Bla bla bla…”, kalimat ini entah bagaimana terdengar nyeri di telingaku!

Dalam evaluasi, penilaian itu hal biasa. Aku bukan tipe manusia haus pujian atau sanjungan. Tak juga membenci kritik meski ia bukan hal menyenangkan. Namun aku paham bahwa kritik merupakan upaya perbaikan. Hanya saja akan janggal keadaannya ketika yang mengucapkannya adalah manajer tersebut. Bagaimanapun aku selalu mengkonsultasikan semua hal penting dengannya. Setiap keputusan dieksekusi dengan persetujuannya. Tentu saja memang ada beberapa saran yang ia ajukan dan kutolak disebabkan alasan klise semacam kekurangan sumber daya manusia, keterbatasan dana dan lain-lain. Jika tetap tak sependapat toh bisa dibicarakan kembali demi mencari jalan keluar lainnya.

Kritik terhadap kekurangan acara bukan sesuatu yang buruk. Bukankah besok-besok kita bisa melakukan perbaikan dengan belajar dari kekurangan hari ini? Sampaikan saja agar aku bisa membenahi. Diantara semua pihak, ia harusnya paling tahu bahwa aku telah mencurahkan segalanya. Meski penuh kekurangan namun aku telah mengerahkan kemampuan terbaik. Tak perlu memuji. Tapi mengatakan bahwa aku tak optimal mengerjakan proyek tersebut sungguh menyakitkan. Terlebih jika itu hanya dibicarakan di belakang sementara di hadapan seolah tak punya keluhan!

***

“Maaf, nggak bisa ikut berpartisipasi. Bukannya nggak mau tapi kapasitas saya belum memungkinkan untuk berbicara…”, aku memberi alasan pada ketua tim.

“Oh, ini bukan materi sulit kok, Mbak! Suasananya juga kita bikin sesantai mungkin. Jadi nggak usah dijadiin beban…”, ia masih ngotot memintaku bicara.

Hei, bagaimana tak menjadi beban? Aku pernah terluka. Dan luka itu masih membekas setelah sekian lama. Bukan karena tak bisa move on. Namun karakter si manajer masih sama sehingga aku mendapat perlakuan serupa.

***

“Jadi maunya gimana?”, tanyaku lagi-lagi pada ketua tim yang pernah bekerja denganku di masa lalu dalam “event gagal” itu.

Ia menjelaskan begini-begitu. Dalam kepalaku, permintaannya sungguh rawan bencana. Ada banyak celah perbedaan yang ujung-ujungnya mungkin merugikanku.

“Hmm…konsep itu kontroversi, Mbak. Gimana kalau begini saja?”, tolakku halus sambil memberi alternatif lain.

Ia angguk-angguk. Tapi merasa bahwa konsep tersebutlah yang lebih diperlukan oleh audience. Baiklah, bukankah manusia itu bekerja demi menjawab kebutuhan masyarakat?

“Oke, nggak masalah! Tapi siapkan dulu poin rambu-rambunya. Apakah jika saya melakukan hal begini dan begini akan baik-baik saja?”, aku mencoba mencari jawaban.

Sayangnya aku memang tak mendapat jawaban yes or no. Bentuk praktis sebagaimana yang kuharapkan. Masih konsep yang masih mungkin diperdebatkan. Hasilnya?

“Saya mau bertanya, konsep kemarin itu apakah memang bisa dipakai?”, tanya seseorang dalam forum terbuka.

“Menurut saya, itu bukanlah sesuatu yang bisa diluncurkan ke hadapan publik. Tapi di wilayah privat, bolehlah!”, inilah jawaban si manajer.

“Tuh kan, apa kubilang?”, cerocosku pada Emma penuh emosi.

Entah kesalahpahaman seperti apa yang mengelilingi, aku juga tak bisa mendefinisikan dengan pasti. Komunikasi kami buntu. Ia masih suka menghakimi dengan cara yang sulit kuterima. Bukankah kemarin aku telah bertanya tentang apa yang mereka inginkan?!

***

“Bisa kan, Mbak?”, ketua tim baru mengembalikan pikiranku pada topik perbincangan.

“Hmm…sekali lagi maaf. Terus terang saya kurang mengikuti perkembangan. Lagipula opini ini bisa kok dimampatkan pada pembicara lainnya…”, aku masih menolak!

Sejujurnya aku punya semacam firasat tertentu. Bagiku, briefing itu penting dalam menyatukan visi. Bagiku, gladi bersih itu penting dalam melatih kepekaan team work.

“Jadi kamu tolak?”, tanya Emma kesal. Dan perbincangan kami berakhir ketika ia menyebutku berprasangka.

***

“Maaf yaa Mbak, saya tadi kurang optimal…”, seseorang memulai bicara. Mengaku dosa.

“Saya juga. Padahal persiapannya sudah begini namun masih begitu…”, sambung yang lain dengan mengemukakan alasan.

“Nggak papa! Untuk ukuran kegiatan yang tanpa persiapan itu sudah bagus banget!”, sahut si manajer sambil tertawa.

Aku yang menyaksikan bengong! W-O-W! Bukan tanpa sebab ada pepatah mengatakan, gajah di pelupuk mata tak terlihat sementara semut di seberang lautan nampak terang. Inilah contohnya! Saat yang dievaluasi orang lain bilangnya tak optimal. Giliran diri sendiri bilangnya udah bagus banget. Manusia oh manusia!

***

“Kenapa, Mbak?”, tanya Akbar ketika aku terdiam di depan mejanya. Aku berpaling menatapnya. Ia pasti baru kembali setelah memburu berita.

“Sejak kapan kamu punya ini?”, tunjukku pada bawang merah yang mulai bertunas itu.

“Lha…kan dulu Mbak Asti pernah bilang banyak manfaat kalo kita memelihara tanaman indoor. Nah, ini udah aku ikutin saran Mbak! Aku pengikut saran yang baik kaaan?”, sahutnya kekanakan dengan kedipan mata jenaka.

Mau tak mau aku tertawa. Kekesalanku melihat gaya evaluasi ala-ala itu pun berkurang.

“Tapi kenapa harus bawang merah sih? Tanaman cantik lainnya kan banyak?!”, protesku.

“Eit, jangan salah, Mbak! Ada pelajaran besar lho yang bisa kita ambil dari bawang merah…”, ia mulai menebar racun ceritanya.

“Apa?”, sahutku penasaran.

“Mungkin Mbak dan seisi alam ini nggak sadar kan bahwa bawang merah ini adalah sejenis tumbuhan berspesies ikhlas…”. Aku mengernyit. Ckck…anak ini emang ajaib!

“Coba deh Mbak pikir, bawang merah itu hampir selalu ada di setiap masakan. Dia selalu ikut berkontribusi meskipun nggak nampak. Dia juga nggak suka pamer kayak bayam atau kangkung yang ketika dimasak harus jadi pemeran utama. Bahkan bawang merah ini mendapat peran tokoh antagonis dalam dongeng bawang putih yang terkenal itu.  Mbak bayangin deh gimana bencinya anak-anak di seluruh dunia sama dia!”, ia bicara sambil menunjuk gelas piala berisi bawangnya.

“Bawang merah emang nggak kelihatan, Mbak. Tapi dia ada. Dia berkontribusi melezatkan masakan. Dia ini nih yang selalu bikin kita pengen nambah kalau makan karih kambing. Trus juga bikin kita tertawa bahagia setelah makan nasi goreng. Ya kan??”.

Hmm…jurnalis muda ini bersikap kekanakan dan terkadang asal kalau ngomong! Tapi filosofi bawang merahnya oke juga!

“Makanya Mbak, kalau lapar makanlah bawang merah. Kalau pengen bermuhasabah, kupas dan irislah bawang merah. Kalau pengen bertani dan kaya raya, budidayakanlah bawang merah. Termasuk kalau perlu tanaman hias, gunakan juga bawang merah. Hidup bawang merah!!”, ia pun mengakhiri filosofi bawang merahnya dengan meletakkan gelasnya di atas kaleng Khong Guan.

Ah, sepertinya aku kalah dewasa dalam mengeja kehidupan dibanding pemuda yang saat ini tertawa dengan mata jenaka itu. Hei, tapi aku manusia bukan bawang merah!! 😉

 

*Ditulis setelah membaca caption si adik jurnalis nan menggelitik! Filosofimu itu lho dek, haha… 😆

Facebooktwittergoogle_pluspinteresttumblrmail

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *