Ikhwan berjanggut? Ehm…ikhwan yang mana nih? Eits, sebenarnya bukan mau ngebahas ikhwan kali ya? Tapi karena janggut itu milik ikhwan, terpaksa deh kita bawa-bawa… 😆

Kisah sebenarnya sih sederhana. Suatu hari saya ngobrol dengan salah satu sahabat. “Eh, gimana kabarnya si ucup?”, tanya saya tiba-tiba teringat adiknya yang baru wisuda beberapa waktu lalu. Maka meluncurlah kisah si kakak tentang suka duka si adik melamar pekerjaan dengan latar pendidikan teknik mesinnya. Dari total sekian ratus pelamar di perusahaan tambang itu, hanya puluhan orang yang memenuhi syarat dan mendapat panggilan wawancara. Dan dari sekian orang yang diwawancara, Ucup kelihatannya belum juga memenuhi kriteria. Duh, susah amat ya?

Sampai beberapa waktu lalu, Ucup mendadak mendapat panggilan kerja. Memang sih bukan mengisi posisi yang semula dilamar. Tapi justru itu ajaibnya. Ia diminta mengelola cabang usaha lain perusahaan tersebut. Langsung deh saya heboh mendengarnya!

“Tahu nggak pas ditanya kenapa dia diterima?”, tanya sahabat saya.

“Emang apa kata bosnya?”, saya penasaran juga akhirnya.

“Gara-gara janggut!”, jawabnya sambil tertawa geli.

Hah?? Nggak salah dengar nih?? Saya pun coba memastikan. Ternyata benar! Sahabat saya bilang, bosnya menyukai penampilan Ucup yang berjanggut. Saya yang mengenalnya sejak masih kanak-kanak pun langsung ngakak. Sejak kapan dia berjanggut? Mungkin sudah lama sejak dia kuliah dulu? Haha….

Tapi bukan itu masalahnya. Kita berada di era dimana simbol-simbol yang dianggap berhubungan dengan Islam seolah menakutkan. Yang berjilbab dan berkerudung cenderung mengkhawatirkan kesulitannya mencari kerja. Dengan pakaian yang serba tertutup, perusahaan mana yang akan mempekerjakannya? Dengan celana cingkrang dan janggut tipis, jangan-jangan malah dilabeli teroris?

Tak sedikit kita lihat media memberi framing negatif terhadap sesuatu yang berhubungan dengan Islam. Di televisi kita bisa menyaksikan, istri teroris yang auratnya tertutup. Teroris yang digambarkan taat beribadah dan berjanggut.

Ditengah maraknya pemberitaan seperti ini, ternyata masih ada yang punya penilaian positif terhadap hal-hal yang justru dijauhi ini, menurut saya sangat luar biasa. Saya bersyukur bukan hanya karena anak-anak yang dulu saya temui sering minta dibuatkan segelas teh pada kakaknya itu telah mendewasa dan bekerja. Namun juga mengetahui masih ada diantara umat manusia ini yang tak terpengaruh framing negatif media terhadap Islam.

Pak bos justru punya pandangan positif terhadap janggut. Menurut beliau, Ucup dengan janggutnya telah memberikan kesan sebagai pegawai yang bisa dipercaya. Maka beliau langsung mempercayakan pengelolaan salah satu anak perusahaannya. Selang beberapa bulan kemudian, bosnya pun memberikan pilihan yang lainnya. Ingin mengelola cabang usaha yang lain atau mengambil posisi yang sesuai dengan latar belakangnya sebagai anak teknik mesin?

Masya Allah, luar biasa! Menurut saya ini salah satu alasan mengapa kita tak perlu mengkhawatirkan sesuatu yang berkaitan dengan syariat Allah. Hanya karena berjilbab dan berkerudung lebar, mengapa kita harus khawatir akan terhambat rejeki? Hanya karena kamu ikhwan yang ehm…berjanggut, jangan khawatir dikira teroris. Bukankah rejeki itu dari Allah swt?

Kalau Ustadz Felix bilang, kita manusia ini seringkali mengkhawatirkan sesuatu yang belum pasti. Khawatir jilbab dan khimar akan menghambat rejeki padahal yang dikhawatirkan ini belum terjadi. Belum tentu pula terjadi. Dan kalaupun ternyata memang terjadi, bisa saja ternyata Allah swt sudah menyiapkan pekerjaan lain yang lebih baik.

Hal yang sama berlaku untuk kasus yang lainnya. Saat ini banyak diantara kaum muslim yang mulai menyadari tentang bahaya riba dan meninggalkannya. Atau para pengusaha yang memilih kerugian sesaat karena menjual aset dan melunasi hutang ribanya. Atau mungkin beberapa orang yang ditawari pekerjaan keren di perusahaan bonafid namun dengan mengorbankan idealismenya. Atau pula saat ini yang sedang ramai adalah ancaman pada mantan aktivis organisasi yang mendadak terlarang itu. Dari mulai dipecat hingga dibina semuanya memberikan efek seolah mereka ini kaum terhina.

Bagaimanapun Allah swt lah yang memberikan kita rejeki sebagaimana firman-Nya : “…dan tidak satu pun makhluk bergerak di bumi melainkan dijamin Allah rezekinya” (QS. Hud : 6).

#ODOP

#BloggerMuslimahIndonesia

#Day10

Facebooktwittergoogle_pluspinteresttumblrmail

1 Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *