Postur masjid itu tak megah tetapi namanya melambung seantero negeri.  Jogokariyan.  Saya pertama kali mendengar nama masjid ini saat “ngelmu” di Youtube.  Nonton rekaman tabligh akbar yang diisi oleh Ustadz Salim A. Fillah dan Ustadz Felix Y. Siauw.  Sejak disebut-sebut sebagai masjid dengan pengelolaan terbaik, hati ini penasaran.  Maka ketika mengunjungi Yogya, Jogokariyan masuk dalam daftar kunjungan prioritas!

Rasa bahagia menyeruak saat menjejak pertama kali di parkiran Masjid Jogokariyan.  Baru saja turun dari sepeda motor, mata ini sudah sibuk menjelajah ke area sekitar.  Masjid dua lantai dengan dominasi hijau muda itu terkesan sederhana.  Di sebelah kiri tempat parkir yang full atap itu terdapat bangunan yang saya duga masih menjadi satu bagian dengan masjid.  Hanya saja difungsikan sebagai apa, tak sempat tereksplor.  Maklumlah, keadaan tak memungkinkan untuk menengok lebih teliti karena saat itu para ikhwan ramai duduk-duduk di depannya.  Jadi saya langsung memilih masuk masjid saja!

Saat itulah rasa heran saya bertambah-tambah.  Bahkan saat memasuki pintunya, aura sederhana bangunan Masjid ini sangat terasa.  Yah, kalau mau sedikit menengok sejarah, budaya untuk memperbagus bangunan Masjid sudah ada sejak zaman  kejayaan Islam.  Di masa itu, umat Islam mengekspresikan sekaligus mengapresiasi bangunan-bangunan Masjid dan simbol-simbol lainnya untuk menunjukkan keagungan Islam.  Fenomena ini bisa dibuktikan setiap orang ketika mengunjungi masjid-masjid besar di tiap kota.  Besar, indah namun sepi jamaah.

Hal berbeda terjadi di Masjid Jogokariyan.  Konon Masjid yang telah berdiri sejak 1966 di Kampung Jogokariyan ini memiliki manajemen jempolan dari pemetaan, pelayanan hingga pemberdayaan.  Pada konteks pemetaan, Jogokariyan melakukan pendataan.  Tak tanggung-tanggung, pendataan terhadap jama’ah ini bahkan mencakup potensi dan kebutuhan, peluang dan tantangan, kekuatan dan kelemahan.  Hal inilah yang menjadikan Jogokariyan sebagai Masjid yang memiliki peta dakwah yang jelas, wilayah kerja yang nyata serta jama’ah yang terdata.  Tak cuma mencakup nama KK dan warga, bahkan jumlah pendapatan, pendidikan, dll hingga siapa saja yang shalat dan yang belum, yang berjama’ah di Masjid dan yang tidak, yang sudah berqurban dan berzakat di Baitul Maal Masjid Jogokariyan, yang aktif mengikuti kegiatan Masjid atau belum, yang berkemampuan di bidang apa dan bekerja di mana dan seterusnya pun ada.  Keren ya?

Hasil pemetaan inilah yang akhirnya dijadikan dasar dalam pelayanan sekaligus pemberdayaan Masjid.  Ta’mir Masjid mengundang warga menyemarakkan gerakan shubuh berjamaah, gerakan infaq selalu tersisa nol rupiah, gerakan jamaah mandiri, kampoeng ramadhan Jogokariyan dan lain sebagainya.  Mengikuti info kegiatan-kegiatan Masjid Jogokariyan di media sosial saja sudah membuat saya turut bahagia.  Seolah-olah menemukan apa yang selama ini selalu dirindukan.  Masjid sebagai pusat peradaban.

Saat awal-awal belajar Islam, saya terheran-heran saat dikisahkan bahwa pada masa Rasulullah SAW, Masjid merupakan pusat peradaban kaum muslim.  Tak terbayang ketika itu seperti apa bentuknya sebab yang saya indra justru sebaliknya.  Masjid di era sekarang hanya dijadikan tempat ibadah semata.  Ta’mir Masjid risih jika orang tua membawa anak-anaknya shalat berjamaah karena dianggap mengganggu.  Padahal seringkali para orang tua itu berniat ingin membiasakan anak-anak mereka dengan Masjid.  Lain waktu, berada di Masjid pun bisa berbatas waktu.  Maklumlah, ada banyak peralatan mahal disana sehingga pada jam-jam tertentu semua pintu terkunci.  Salah satu senior di kantor pernah bercerita, beliau diusir ta’mir sebuah Masjid ibukota saat mengantar putranya kuliah.  Maksud hati menghemat biaya tapi apalah daya?  Maka berakhirlah beliau dan putranya tidur di serambi Masjid beralaskan koran.  Duh, miris hati mendengarnya.  Serba salah memang, karena selama ini Masjid pun tak luput dari sasaran maling!

Tambah lagi megahnya bangunan Masjid seringkali tak sebanding dengan jumlah jamaahnya.  Bahkan di kota saya sendiri, Masjid Agung yang posisinya strategis itu terasa lengang jika waktu shalat tiba.  Berada di pusat kota namun saat panggilan adzan berkumandang, jamaahnya bahkan tak bisa memenuhi satu shaf.  Padahal itu waktu-waktu shalat dzuhur atau ashar.  Paling ramai hanya ketika shalat jumat atau ied.  Kalau sudah begini bagaimana tak terpesona dengan gambaran Masjid yang fungsinya tidak hanya sekedar rumah tempat masyarakat melakukan ibadah shalat saja? Masjid berbeda dengan gereja, kuil atau bangunan ibadah lainnya yang memang digunakan hanya sebagai tempat ritual ibadah.  Rasulullah SAW memfungsikan masjid sebagai pusat pendidikan, tempat musyawarah dan tempat berkumpul masyarakat jika ada hal-hal penting hendak diumumkan oleh Rasulullah SAW.  Masjid Jogokariyan seolah menghidupkan kembali konsep ini dalam manajemennya.

Ketika menuju suffah, saya bisa melihat layar yang menampilkan jadwal pengajian di Jogokariyan.  Tanggal, jam berikut nama-nama ustadz yang mengisi juga terpampang disana.  Mata seketika sibuk mencari jadwal kajian yang diisi Ustadz Salim A. Fillah dalam waktu dekat.  Sayangnya nihil.  Tapi karena salah satu goals saat berangkat ke Yogya adalah ngaji di Jogokariyan, maka saya memutuskan ikut jadwal terdekat sebelum bertolak ke Bandung.  Dan itu adalah dua hari kemudian!

Perjalanan dari Sleman ke Jogokariyan menggunakan sepeda motor terlalu ribet bagi saya dan sahabat yang tak hafal jalan.  Kami memutuskan berangkat naik angkutan umum saja.  Dari Sleman, kami naik Trans Yogya menuju lokasi terdekat.  Kemudian kami memutuskan naik becak atau bentor yang entah kenapa hari itu jarang terlihat.  Ujung-ujungnya kami pun jalan kaki setengah perjalanan kesana sebelum menemukan becak tanpa penumpang, hehe….  Eh, apesnya lagi begitu sampai sana ternyata kajiannya tak ada.  Salah jadwalkah?  Dibatalkankah?  Entahlah!  Setelah satu jam menunggu sambil tersipu-sipu gegara turun di depan Masjid ketika jamaah bubar shalat ashar, kami pun pulang!

Kecewa??  Pastinya!  Tapi setidaknya rasa penasaran terhadap Masjid ini pun sedikit banyak terjawab.  Melubernya jamaah ketika selesai shalat sampai membuat kami salah tingkah adalah buktinya!  Bagaimana tidak, jika duo akhwat imut (*ditabok yang baca!!) bingung antara bertahan di atas becak atau turun, sementara warga yang telah selesai shalat berjamaah itu padat merayap di sekitarnya??  Hehe….

Ah, betapa indahnya ketika Islam diterap secara utuh.  Jantung peradaban manusia adalah Masjid, nyawanya adalah tauhid dan tiangnya adalah Al-Qur’an dan As-Sunnah.  Mari kita hidupkan bersama!

#ODOP

#Day2

#BloggerMuslimahIndonesia

Facebooktwittergoogle_pluspinteresttumblrmail

6 Comments

  • Aduh, saya jadi pengen ikutan ‘ngejar’ pengajian mbak. Saya suka gak ada temen…jadinya kepaksa ngaji di Youtube aja buat sementara. Hehe

    BTW, andai semua mesjid manajemennya oke kayak Jogokariyan, kayaknya Islam bakalan semakin maju lagi.

    • Alhamdulillah ya Mbak…berkat majunya teknologi, di rumah pun kita bisa ikut ngaji juga, hehe…. 😆

      Iya, nih…manajemennya perlu ditiru! Biar masjid-masjid makin ramai jamaahnya… 😉

  • Aku suka sedih kalau ada yang bilang ga usah bawa anak-anak ke masjid karena nanti berisik. Padahal kan sudah seharusnya kita mengenalkan masjid pada anak-anak sedini mungkin ya, Mbak.
    Pernah lihat di media sosial, lupa foto apa video, jadi salah satu trik biar anak-anak enggak main-main pas shalat, dibikin selang-seling antara orang dewasa dan anak-anak. Harusnya kita pun membiasakan begitu, bukan jadi menganjurkan anak-anak untuk tidak ikut.

    • Iya, Mbak. Terkadang mau praktis ya gitu deh. Saya salut sama para orang tua yang rela bawa balitanya ke Masjid, entah buat shalat atau ikut pengajian. Menanamkan semangat mencintai Masjid itu memang nggak mudah. Tapi insyaAllah pasti bisa! Salah satunya dengan uslub seperti yang Mbak bilang itu kali yaa… 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *