Sejak dulu saya punya kebiasaan buruk saat menulis.  Tulis beberapa kalimat, hapus.  Tulis beberapa paragraf, edit.  Jika sudah banyak yang dirasa tak sesuai standar akibat mood berantakan, dll maka saya pun meninggalkan draft tulisan tersebut.  Bisa dibayangkan dong gimana akhirnya saya punya banyak draft tulisan yang tak kunjung selesai?  Hehe….

Kebiasaan lainya muncul ketika menulis fiksi.  Lama sudah saya menyukai aktivitas menulis di genre ini.  Tapi masalahnya, setiap selesai menulis tak langsung diposting di blog.  Selalu ada teman yang dijadikan sasaran uji coba membaca.  Biasanya saya akan mendengarkan masukan-masukan mereka terhadap cerita dan itulah yang menjadi pertimbangan paling besar untuk posting.  Ketika akhirnya tak jadi diterbitkan, beberapa dari mereka pun kesal!  Pas diminta membaca diburu-buru agar segera selesai bahkan komentar pun udah berhati-hati pake bingits, eh…ternyata nggak terbit juga!  Pedih, bu.  Demikian keluh mereka, hehe….

Terkadang ada tulisan-tulisan yang bagi mereka sayang banget nggak diposting di blog tapi saya adem-ayem aja.  Ada juga tulisan yang ngebet banget pengen saya posting tapi mereka rame-rame bilang, “Yah…asal siap menghadapi UU ITE aja!  Sekarang ini, fakta rusak yang terjadi di suatu tempat, kita posting lalu menimbulkan kehebohan bisa dipasalkan”.  Duh duh duh, galau nggak tuh??  Padahal sih, tulisan saya kebanyakan hanya curcol sederhana sebagai seorang warga biasa.  Wajar toh saya bertanya, mengapa pendukung LGBT dibiarkan sementara pengajian dibubarkan?  Mengapa koruptor dinilai lebih pancasilais dibanding para pengusung ide Islam politik yang tak pernah menjual aset negara?  Ups…maaf, saya keceplosan!  Kamu nggak akan ngaduin curcol ini kan?  Hehe….

Atau lain waktu saya bisa menulis dengan banyak kebimbangan.  Maunya sih begini tapi kok hasil akhirnya begitu?  Outline sudah dibuat tapi kok malah berkembang menjadi cerita yang berbeda?  Kalau sudah begitu, saya bakal berlama-lama membongkar muat kata bahkan parahnya mengganti ide cerita.  Ujung-ujungnya, tulisan itupun berakhir tanpa penyelesaian.  Lalu mereka yang sudah menunggu pun mulai meneror, “Mana kelanjutan ceritanya?”.  Saat itulah saya menyampaikan berbagai alasan yang bikin mereka mendelik sebal tak terkira.  “Kambing dipelihara!”, sindir mereka.

Sampai beberapa waktu lalu ketika akhirnya saya putuskan membangun rumah baru disini.  Ada beberapa harapan yang ingin saya wujudkan dengan kehadirannya.  Salah satunya membangun konten tulisan lebih berbobot dengan kuantitas yang juga meningkat.  Saya tahu menulis itu tidaklah mudah.  Ada banyak hal yang harus kita pertanggungjawabkan terutama ketika tulisan itu meluncur ke hadapan publik.  Sebagai muslim, selayaknya Islamlah yang menjadi topik bahasan utama.  Entah ia bermetamorfosa dalam bentuk fiksi, artikel, lifestyle, traveling, review buku dan sebagainya.

Program One Day One Post (ODOP) yang diselenggarakan Blogger Muslimah menjadi sesuatu yang sejalan dengan semangat awal saya membangun blog baru ini.  Yah, meski mungkin konten blog ini belum terlalu bergizi macam para penulis hebat namun hati ini berazzam melahirkan tulisan-tulisan penuh manfaat.  Ikut menggulirkan bangunan informasi Islam di tengah situasi bernegara yang saat ini carut-marut.  Mengapa harus ikutan??  Mungkin saat itulah saya akan mengutip nasehat Ustadz Faqih Syarif, “ayo buatlah tanda di alam semesta!”

#ODOP

#Day1

#BloggerMuslimahIndonesia

*Baca juga tulisan lainnya di http://www.bloggermuslimah.id/2017/06/07/5-tips-jadi-jomblo-sukses/

Facebooktwittergoogle_pluspinteresttumblrmail

6 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *