Ilustrasi : Hafiz Zainal @hafizza1nal

Aku menahan nafas melihat sebuah foto dalam kolom pencarian diaplikasi instagram handphone-ku.  Diakah?  Aku refleks menggerakkan jari mengklik gambar itu.  Lupa dengan tujuan awal yang ingin mencari tahu destinasi wisata Bandung yang direkomendasikan teman.  Gambar di tengah pada baris kedua itulah yang kutuju.  Dan demi melihat senyum lebar agak malu itu, hatiku pun seketika jatuh berdebar.

Ya, ini laki-laki yang kutemui lima tahun lalu di sebuah seminar kepenulisan.  Mahasiswa fakultas teknik di almamaterku dahulu.  Panitia ikhwan yang diutus kakak sepupunya memberikan tiket gratis padaku.  Sebuah hadiah karena lama tak bersua. Ungkapan rindu pada saudara seperjuangan di kampus pada masa lalu. Seorang kurir yang meninggalkan jejak dalam hatiku.

***

“Desember nanti kamu pulang kesini kan?  Ada seminar kepenulisan nih!  Aku udah pesenin tiket buat kamu.  Pembicaranya Boim Lebon lho…”, ujar Kak Rina saat menelfonku.

“Yang bener, Kak?”, aku diliputi perasaan senang.  Zaman kecil dulu, novel lupusnya pernah menjadi salah satu bacaan favoritku!  “Rencananya memang mau pulang sih soalnya udah kangen banget sama rumah.  Tapi ya itu, berkas-berkas kenaikan pangkat ini masih menggunung!  Doakan semoga lancar ya, Kak…”, sahutku

“Insya Allah pasti lancar kok kalau dikerjakan, hehe…”, Kak Rina meledek.  Dia tahu kebiasaanku yang moody ini.  Kalau sudah ada sesuatu yang membuat kesal, terkadang kerjaan bisa macet di tengah jalan.  Ya, bertahun-tahun bergabung dan bekerjasama di Lembaga Dakwah Kampus Al Fatih telah membuat kami saling memahami karakter masing-masing.  Aku cuma tertawa menanggapinya.  Yah, mau bagaimana lagi?  Daftar Usulan Kenaikan Pangkat demi mengejar angka kredit bagi ASN berstatus fungsional tertentu seperti kami ini ribetnya luar biasa.  Padahal kalau naik pangkat juga gajinya naik tak seberapa.  Ups….

“Nanti tiketnya kamu ambil sama adekku ya?”, ujar beliau.

“Lho…Kakak nggak ikut?”, tanyaku agak kecewa.

“Maunya sih ikut tapi mendadak harus menghadiri kegiatan di Bogor tanggal segitu…”, jelasnya yang langsung kusambut dengan keluhan kecewa karena lama tak bertemu.  Gantian dia yang tertawa-tawa mendengarku bermanja.

“Udah, yang penting ketemu Boim Lebon!  Aku ini apalah?  Hanya tetangga kampung doang…”, candanya.

“Iya, tapi tetangga kampung yang kurindukan…”, sahutku gombal.

“Haha…kamu tuh, emang susah dilawan!  Udah ah, nanti kalau sudah pulang kabarin aja.  Kusuruh adekku ngantar ke rumahmu!”, ujarnya lagi.

“Aku aja kak yang ke kosnya.  Kasihan dia jauh-jauh ngantar dari kampus dua sana…”, tawarku.  Si Rani, adiknya Kak Rina ini satu almamater dengan kami dulu tapi letak kampusnya berada di pinggiran kota.  Kampus dua, demikian kami menyebutnya.

“Oh…tiketnya bukan sama Rani, Lif.  Ada adek sepupuku di Fakultas Teknik sana.  Dia kebetulan panitia acara makanya aku bisa pesan tiket jauh-jauh hari!”, jelasnya.  “Aku sudah lama banget pengen ngenalin dia sama kamu, hehe…”, tambahnya lagi.

“Hmmm…boleh.  Nanti kasih tahu aja nomor kontaknya biar aku hubungin orangnya”, ujarku.

Pembicaraan telfon itupun kemudian berakhir.  Hanya selang beberapa menit kemudian, Kak Rina mengirim sebuah nomor.  Fauzi?  “Ikhwan?”, tanyaku via sms.  “Yep”, jawabnya singkat.

***

Dua hari sudah aku tiba di kota asalku.  Penat perjalanan belasan jam terasa layak saat melihat wajah kedua orang tuaku.  Merasakan lagi masakan-masakan khas Ibu.  Melihat Ayah duduk menikmati kopi pagi di teras rumah.  Ah, inilah nikmat terindah bagi orang sepertiku yang bertahun-tahun berada di perantauan.  Delapan belas jam perjalanan darat atau satu setengah jam perjalanan udara.  Boleh dipilih sesuai harga!

Sejak lulus kuliah enam tahun lalu, aku langsung bekerja di provinsi tetangga.  Aku bahkan lupa alasan mengapa aku memilih tempat itu sebagai tujuan bekerja.  Mungkin karena temanku ada disana?  Mungkin karena aku memang sudah lama ingin merasakan berkelana?  Mungkin pula aku ingin mencoba suasana baru setelah puluhan tahun berkutat di kotaku yang lama?!  Entahlah!  Apapun alasannya, akhirnya aku merasakan juga yang namanya rindu kampung halaman itu.  Maka saat pulang seperti ini, waktu nongkrong bersama Ayah dan berbincang hal-hal yang ringan lalu tertawa seperti pagi ini adalah karunia luar biasa.  Namun suara tawa kami pagi itu terputus oleh suara salam seorang lelaki yang berdiri di depan pagar rumah yang memang telah terbuka.

“Wa’alaikumsalam…”, Ayahku menyahut.  “Silahkan masuk…”, ujar Ayah padanya.  Sebagai ketua RT, menerima tamu di pagi atau malam buta sekalipun sudah biasa beliau lakoni.  Dan laki-laki itu masuk sementara aku buru-buru beranjak ke dalam rumah.

“Alifa…tolong minumnya ya untuk tamu kita…”, ujar Ayah dengan suara baritonnya yang khas itu dari luar.  Padahal tanpa disuruh pun, Ibu sudah menyiapkannya.  Ibuku ini memang tipe Ibu RT paling sigap sedunia.  Saat tahu ada tamu, tanpa diminta pun beliau akan membuatkan minuman hangat dan mengeluarkan simpanan kue keringnya.  Saat kutanya mengapa tak menyuguhi minuman kaleng atau kotakan saja?  Bukankah lebih simple?  Dan jawaban beliau selalu sama, “Nak, air panas yang tercurah dalam teh atau kopi panas itu harus menunggu didinginkan dulu untuk diminum.  Selama menunggu, kita akan berbincang cukup lama.  Itu salah satu cara untuk menciptakan hubungan baik diantara sesama…”.

Aku mengantar segelas teh panas yang sudah disiapkan ke depan.  Begitu akan balik badan, Ayah menahan.  “Lif, Nak Ilham ini mencari kamu lho…”, ujar Ayah.

“Hah?”, aku ternganga.  Mataku refleks menatap laki-laki itu.  Seingatku dia bukan seseorang yang pernah kutemui.  Namun mendapati senyumnya yang malu-malu itu membuatku memikirkan sesuatu.  Pelamar?  Pikiran ini tiba-tiba hinggap di benak dan membuat hatiku dag dig dug.  Aduh, aku belum siap dihadapkan pada masalah ini di pagi buta, keluhku dalam hati.  Tapi aku mengambil tempat duduk di samping Ayah.

Laki-laki itu terlihat sangat muda.  Seperti anak SMA dengan perawakan kurus dan tinggi.  Wajahnya rupawan berhias hidung bangir dan senyum kekanakan.  Ups…dalam sepersekian detik itu sensor visualku sebagai perempuan bekerja.  Aku memalingkan wajah pada Ayah meminta penjelasan.

“Nah, ini dia yang namanya Alifa itu…Nak Ilham.  Cantik kan?”, ujar Ayahku padanya.  Dia pun tersenyum memandangku.  Ihhh, apaan sih Ayah?  Aku menggerutu dalam hati namun tak urung anggukan laki-laki di seberang itu membuat pipiku memanas.  Aih, aku pun tertunduk malu!

“Jadi mohon maaf sebelumnya kalau saya mengganggu Bapak juga Mbak Alifa pagi-pagi begini”, ujarnya memulai prolog.  Aku menelan ludah!  Ah, seperti inikah rasanya dilamar langsung dihadapan wali?  Bukan berarti selama ini belum ada yang menanyakan kebersediaanku menjadi pendamping hidup seorang laki-laki.  Bukan!  Aku sudah dua puluh tujuh tahun.  Beberapa lamaran telah datang padaku sebelumnya.  Hanya saja prosesnya selalu diawali dengan pertanyaan yang dititipkan pada orang ketiga.  Tak langsung berhadapan seperti sekarang.  Itulah sebabnya tanganku mendadak dingin.  Gugup!

“Seperti yang saya bilang dengan Bapak tadi, maksud saya kemari…”, dia berhenti sejenak sementara aku menahan nafas!  “Ingin mengantar tiket titipan Mbak Rina”, ujarnya kemudian.

“Hah?”, lagi-lagi aku bereaksi spontan.  “Kamu Fauzi?”, tanyaku beberapa saat kemudian setelah mengaitkan berbagai informasi yang belakangan ini kuterima.  Wajah tampan dengan senyum kekanakan itu pun mengangguk mantap.

“Kukira tadi…haha…”, aku tak tahan untuk tak tertawa.  Tinggallah Ayah dan laki-laki itu yang keheranan melihatku.  Ah, betapa luar biasanya Allah menciptakan kulit kita yang membungkus semua organ tubuh kita sehingga saat darah beredar di pembuluh kita tak melihatnya.  Seluar biasa pikiran kita yang hanya diketahui melalui patah demi patah kalimat yang keluar melalui lisan dan tulisan kita tanpa membeberkan prosesnya.  Jika mereka tahu apa yang kupikirkan tadi, apa kata dunia???  Haha….

***

Fauzi Ilham, demikian rupanya nama adik sepupu Mbak Rina itu.  Mahasiswa semester empat fakultas teknik di almamaterku dulu.  Saat mengikuti seminar kepenulisan itu, ia sengaja mengajakku ngobrol di sela kerepotannya sebagai panitia penyelenggara.  Memang tidak lama namun cukup menarik perhatian.  Terutama para akhwat yang kemudian menatapku penuh rasa penasaran.  Hmmm…rupanya tipe ikhwan populer?

Jika melihat penampakannya sih aku bisa maklum.  Bahkan kudengar dia juga cerdas.  Sejak kecil sampai sekarang, nilai-nilainya selalu yang teratas.  Ia bahkan selalu menjadi lulusan terbaik dengan nilai tertinggi di sekolahnya.  Dan saat ini ia terlibat di Lembaga Dakwah Kampus Al Fatih juga, tempatku dan Mbak Rina berkecimpung dulunya.  Secara teknis, dia juniorku!

Dan sejak kejadian itu, ia sudah seperti kurir yang menghubungkanku dengan Mbak Rina.  Terkadang dia bertanya kabar di media sosial.  Terkadang dia memberi tahu hal-hal lainnya lewat sms.  Beberapa kali kami kembali bertemu saat aku pulang ke rumah.  Ayahku pun suka berlama-lama bicara dengannya.  Maklumlah, semua anaknya perempuan sehingga obrolan antar lelaki selalu jadi sesuatu yang beliau tunggu.

Sementara aku?  Entah karena pernah salah paham dia akan melamarku saat pertama bertemu atau memang sebagaimana ungkapan “dari mata turun ke hati” yang melegenda itu, aku tak tahu!   Yang jelas aku selalu tersenyum saat mendengar namanya.  Aku kepo dengan status-statusnya. Aku juga cemburu saat melihat begitu banyak yang like statusnya.  Dan aku selalu senang saat sesekali ia mengirimiku sms di tempat kerja.  Ya, aku (ter)jatuh cinta!

Namun jatuh cinta sebelum menikah?  Aduhai, meski rasa cinta adalah kewajaran yang Allah SWT anugerahkan pada setiap insan namun aku tahu bahwa jatuh cinta tidaklah sama dengan mewujudkan cinta.  Jatuh cinta itu sebuah perasaan naluriah namun mewujudkannya perlu aturan.  Bayangkan saja bagaimana jadinya dunia ini jika setiap yang jatuh cinta dibiarkan mewujudkannya tanpa aturan!  Ngeri!

Itulah sebabnya, jatuh cinta kepada siapa dan bagaimana mewujudkannya haruslah dikembalikan pada syariat Islam.  Terlebih jika belum menikah namun sudah jatuh cinta.  Mengendalikan dalam mewujudkannya menjadi penting untuk dijalankan.

***

Ilustrasi : Hafiz Zainal @hafizza1nal

Laki-laki itu dalam foto itu benar-benar Fauzi.   Perawakannya masih kurus seperti dulu.  Rambutnya pun masih dipotong model super cepak seperti dulu.  Senyumnya juga masih sama malu-malu seperti dulu.  Hanya saja aura kekanakan itu tak nampak lagi disana.  Ia telah bermetamorfosa menjadi lelaki dewasa.

Aku tersenyum melihatnya.  Tanpa sadar tanganku pun sekarang bergerak mengklik akun instagram bernama @fauzi.ilham itu.  Ada puluhan gambar diri beserta aktivitasnya disana.  Lagi-lagi aku mengklik gambar itu satu per satu.  Menengok hal-hal yang ingin ia bagikan pada dunia.  Tanpa sadar aku bahkan hampir hafal caption-captionnya yang berisi motivasi itu.  Hmmm…rupanya dia sudah lulus?  Dan sudah bekerja?  Dan merantau sepertiku juga?  Sepertinya sudah lama sejak kami tak lagi berbicara.

“Kenapa sih belum menikah, Mbak?”, tanyanya suatu ketika pada ulang tahunku ke dua puluh delapan.  Aku tertawa saja mendengar pertanyaannya ini.  Yah, di usiaku ini tentunya pertanyaan seperti ini sudah menjadi makanan harian.  Sebel?  Iya!  Tapi mau bagaimana lagi?  Begitulah kultur masyarakat Indonesia.  Kepo berat kapan orang nikah, punya anak, nambah anak, dan seterusnya.  Ajaibnya, mereka tak pernah bertanya kapan kita mati.  Padahal ranah pertanyaan jodoh dan maut itu kan sama!  Semuanya di tangan Allah.

“Yah, namanya juga jodoh, dek.  Kalau belum nikah berarti belum jodoh aja…”, jawabku standar.

Meskipun aku menyukainya namun aku cukup tahu diri.  Usia kami yang terpaut delapan tahun seperti sebuah dinding yang membatasi.  Aku seorang ASN yang bahkan telah sekali mengurus kenaikan pangkat sementara dia baru mahasiswa semester empat.  Aku sibuk berjibaku dengan urusan kantoran sementara dia masih membuat laporan-laporan.  Ketika dulu aku sudah duduk rapi bersekolah, ia masihlah bayi merah.

Pada akhirnya ia hanya adik sepupu dari rekan seperjuanganku di kampus pada masa lalu.  Ia berlaku baik padaku demi menghormati kakak sepupunya.  Ia sering menolongku karena toh pada akhirnya aku adalah seniornya.  Jadi aku sengaja menyematkan panggilan adek padanya.  Agar aku ingat batasan!  Rasa suka?  Aku mengendapkannya saja di dasar hati.  Itu bagian dari pengendalian diri!

“Kalau ada laki-laki yang baik, menikah saja Mbak!  Masih lama sekali kalau menungguku…”, kalimat itu mengudara di telingaku dalam nada paling aneh yang pernah kudengar seumur hidup.  Mengingatnya saja membuat perasaanku kembali berantakan.  Aku menggelengkan kepala mencoba mengusir rasa tak enak itu.  Tapi lho…lho…lho???  Tetiba layar handphone-ku cekat dan jariku tanpa sengaja mengetuk dua kali pada gambar terakhirnya disebuah kajian bersama seorang ustadz muda.

Ahhh…kenapa sih aku selalu membuat kekonyolan seperti ini?  Bisa-bisanya aku like gambarnya dengan caption, “Mari pantaskan diri menjemput jodoh terbaik…”.  Ya Rabb….

***

Beberapa hari kemudian aku selalu horor saat melihat led notifikasi menyala di handphoneku.  Aku bahkan sengaja tak membuka instagram.  Ah, biarlah!  Takut menghadapi kenyataan aneh berikutnya saat dia menyadari aku ngepoin dia!

“Assalamu’alaikum, Mbak.  Ini Fauzi.  Maaf, dulu aku ganti no hp nggak bilang-bilang.  Oh iya, gimana kabarnya?  Semoga sehat ya?  Lebaran ini pulang?”, sebuah pesan WA masuk dan membuatku lemas saat membacanya.  Tuh kan?

Pasrah, kubuka juga akun instagramku.  Pesan yang sama kuterima hanya beberapa jam setelah kecelakaan like foto itu.  Tak kubaca apalagi kubalas selama tiga hari, membuatnya menghubungi melalui WA.  Tapi tahu dari mana?  Bukan hanya dia yang ganti nomor, aku pun sama!

Seminggu pesan itu hanya terbaca tanpa kubalas.  Enggan rasanya jika mengingat perkataannya padaku beberapa tahun lalu.  Meski begitu, rasanya aku tak bisa tenang.  Akhirnya kuputuskan men-delete saja pesannya.  Bahkan sengaja tak menyimpan nomornya.  Aku ingin membiarkan dia menjadi bagian masa lalu.  Ingatan tentang sebuah rasa yang sempat singgah pada orang dan waktu yang kurang tepat.  Tak perlu diungkit apalagi nostalgia bersama.

***

“Assalamu’alaikum. Mbak gimana kabarnya?”, laki-laki itu menyapa di pintu kedatangan saat aku keluar dari bandara.  Fauzi Ilham.  Laki-laki pengantar tiket yang sepertinya telah mendewasa itu menemuiku dalam balutan sweater merah marun dan jeans coklat.  Sepatu kets biru dan tali orange?  Dia juga menenteng ransel hitam agak besar.

Ilustrasinya masih Bang Hafidz Zainal… 😉

“Wa’alaikumsalam. Alhamdulillah…”, jawabku pelan.  Kebetulankah?  Aku bertanya-tanya.  “Baru pulang juga?”, tanyaku padanya.  Dia mengangguk dan mengeluarkan senyum malu-malunya yang khas itu.  Aku segera memalingkan wajah saat menyadari matanya yang tajam itu sengaja memandangku.  Sengajakah?  Aku kembali menduga-duga.

Tapi aku ini orang yang pernah mengalami hal-hal memalukan dengannya.  Aku tak mau lagi tertipu oleh asumsi-asumsi anehku gara-gara senyum malu-malunya itu.  Aku juga tak mau menduga hal-hal lain dari keramahannya padaku.  Tidak dulu.  Apalagi sekarang.

“Kalau gitu, aku duluan ya.  Ayah sudah menunggu di depan..”, ujarku sambil melangkah dan menyeret koper mungilku.  Sebuah senyum kaku sengaja kuberikan padanya sebelum membalik badan.  Dia masih pada mode senyumnya.

“Bisa barengan kan?”, ujarnya sambil menyejajari langkahku.

“Hah?”, aku seketika menghentikan langkah.  Tentu saja kekagetan membuatku refleks menoleh.  Dan dia lagi-lagi melempar senyum lalu mengambil koper yang terlepas dari genggamanku.

“Tunggu…”, sebelum dia melangkah lebih jauh membawa koperku sebaiknya aku meluruskan beberapa hal dengannya.  Tahu dari mana nomor handphone-ku saat dua bulan lalu dia mengirimiku pesan yang tak pernah kubalas itu?  Sekarang dia pulang pada hari yang sama denganku?

“Kamu…sengaja menungguku?”, tanyaku dengan suara serak.  Sejujurnya aku bingung ingin bertanya dengan kalimat seperti apa.  Di bandara itu orang ramai berlalu lalang.  Suara-suara perbincangan, pengumuman dan kesibukan mengangkut barang bawaan seakan menenggelamkan suaraku.

“Iya…”, jawabnya sambil mengangguk.  Aku menelan ludah.

“Kenapa?”, tanyaku tak habis pikir.

“Ada yang mau aku tanyakan…”, sahutnya lalu membalik badan.  Mau bertanya namun dia meninggalkanku di belakang sini?  Dia pasti bercanda!

“Tunggu!  Kamu mau bertanya apa?”, kali ini aku yang menyejajari langkahnya.  Dia lagi-lagi tersenyum.  Kali ini aku melihat senyum laki-laki dewasa yang penuh percaya diri.  Tapi ia tak menghentikan langkahnya.  “Itu Ayahmu…”, tunjuknya saat kami mendekati gerbang terakhir.

“Sebentar…”, ujarku agak memaksa.  “Kamu sebenarnya kenapa?”, tanyaku dengan nada tinggi.  Tingkah anak ini, eh…laki-laki ini mulai membuatku kesal!  Dia pikir sedang main drama?  Ayah tersenyum melihat kami dari jauh.

“Kan tadi aku sudah bilang mau bertanya…”, sahutnya tanpa menghentikan langkah.  Aku terpaksa mengejarnya.

“Oke, tanyakan sekarang atau tidak sama sekali.  Dan tolong kembalikan koperku!”, setengah berlari aku meraih pegangan koper sebelah bawah.  Langkahnya yang panjang sebenarnya membuatku kesulitan menghentikannya namun mau bagaimana lagi?  Aku tak mau terlibat hal-hal aneh lagi dengannya.  Melihatku yang mulai menampakkan wajah gusar, ia pun menyerah.

“Oke…”, ujarnya sambil menghadapkan badan padaku.  Aku menunggu sambil melirik Ayah yang mulai berjalan menyongsong ke arah kami.

“Kenapa kamu belum menikah?”, tanyanya.  Aku menelan ludah.  Sebenarnya marah.  Namun air matalah yang tumpah.

“Kenapa sih kamu terlalu kepo perihal aku belum menikah?”, sahutku dengan suara serak bercampur isak.  “Apa urusannya coba denganmu?”, aku menatap langsung matanya dengan marah yang membuncah.

“Karena aku tahu alasannya!”, ujarnya tenang.  Ketenangannya membuatku sakit hati dan mengeluarkan tawa sarkasme.

“Kamu nggak akan bilang jangan menunggu kamu lagi kan?  Oh…please ya!”, aku masih tertawa bercampur derai air mata.

“Kamu punya penyakit syndrome pangeran?  Kamu berpikir bahwa kamu adalah pusat tata surya sehingga semua berputar mengelilingimu?”, aku menutupi wajah dengan telapak tangan dan menarik nafas panjang-panjang.  “Aduh, aku nggak ngerti kenapa harus membahas hal-hal seperti ini denganmu!”, ujarku akhirnya.

“Makanya kamu harus mendengarkan Nak Fauzi…”, ujar Ayahku tiba-tiba.  Rupanya beliau sudah sejak tadi berada didekat kami.

“Ini seperti ungkapan Allah dalam Al Qur’an.  Kun Fayakun.  Jika Allah memisahkan kita maka Kun Fayakun.  Jika Allah menyatukan kita maka Kun Fayakun.  Dipisahkan atau disatukan semuanya adalah ujian Allah, kita hanya menjalani prosesnya.  Saat proses itu kita lewati dengan ikhlas dan benar maka apapun hasilnya pastilah berkah.  Sekalipun tak terwujud sesuai keinginan kita, namun keyakinan bahwa rencana-Nya lebih baik adalah sebuah kebenaran yang tak terbantahkan…”, kata-katanya membuatku bingung!  Aku tak mengerti sepatah pun kalimat yang diucapkannya itu ada hubungan apa dengan sikap anehnya ini!

“Kamu tahu, saat bertemu denganmu aku pernah berpikir untuk menikah.  Menikahimu.  Tapi kondisiku saat itu seperti yang kamu tahu, masih mahasiswa dan bergantung pada orang tua.  Kukatakan padamu kalimat agar kamu tak menungguku karena aku justru ingin jawaban sebaliknya.  Sejujurnya aku ingin mendengarmu mengatakan bahwa kamu rela menerimaku apa adanya tanpa menunggu aku berada dalam kondisi berbeda.  Bagaimanapun aku segan menghadapi perempuan yang sudah mapan…”, dia berhenti sejenak.

“Tapi kamu bahkan tak mengeluarkan sepatah kata pun.  Kamu mengganti nomor hp dan menghindariku.  Aku bahkan datang pada Ayah dan memperjelas maksudku tapi kata beliau kamu meminta orang rumah untuk tak memberitahuku nomor barumu”, ujarnya.  Aku menoleh pada Ayah dan beliau mengangguk memberi pembenaran.

“Meski kamu lari dariku namun aku tak bisa menghentikan perasaanku padamu.  Jadi aku selalu berdoa.  Aku membisikkan namamu di bumi ini agar langit mempertimbangkan…”, tambahnya lagi.  “Jadi mungkin itulah sebabnya kamu belum menikah.  Kamu harus menerimaku dulu sehingga bisa menikah…”, ia bicara sambil memandangku.  “Mau kan?”, tambahnya lagi sambil tersenyum.

“Udah…terima aja!  Ayah suka kok sama keberanian Nak Fauzi ini!”, ujar Ayah.  Aku tak tahu harus bagaimana.  Atau mengatakan apa.  Akhirnya aku berjongkok di depan koperku lalu mulai menangis terisak-isak sambil menutupi wajahku.  Sakit hati.  Benci.  Tak nyaman.  Tapi juga terkejut.  Tersanjung.  Bahagia.  Entah mana yang mendominasi.

Orang yang lalu lalang berbisik-bisik di sekitarku.  Aku tak peduli.  Ayah dan laki-laki itu terpaksa harus menunggu.  Lama hingga aku bisa tenang dan berhenti menangis.  Ayah menuntunku ke dalam mobil sementara Fauzi kembali menyeret koperku!

 

Epilog

“Jadi seperti apa konkritnya doamu saat membisikkan namaku ke langit?”, tanyaku pada Pak suami yang lebih muda delapan tahun dariku itu.

“Kenapa?  Penasaran kok bisa diijabah?”, ujarnya sok misterius.  Aku tertawa sebal sekaligus malu tapi tetap mengangguk.  Ya, aku penasaran!

“Hmmm…ini tuh sebenarnya rahasia!  Karena sudah pasti, doa paling mujarab buat jomblowan-jomblowati…”, dia masih jual mahal.

“Iyaaa…trus apaan doanya?”, sahutku tak sabaran.  Dia kemudian mengangkat kedua tangannya dan berkata, “Ya Allah, jika dia bukan jodohku maka kutuklah ia menjadi pasangan seumur hidupku.  Aamiin…”, ujarnya sambil menangkupkan tangan ke wajah.  Ia pun kemudian tertawa dan menjulurkan lidah mengolokku lalu berlari ke bibir pantai.  Aku yang mendengarnya kembali kesal dengan ulahnya dan mulai ikutan berlari mengejar.  Menghujaninya dengan cubitan sementara dia terus menghindar.

Ya, mungkin jodoh itu juga masalah waktu.  Saat ini kamu siap, seseorang siap, waktunya tepat maka Allah SWT pun menjodohkanmu.  Kira-kira begitulah rumusnya!

*Tulisan yang batal jadi draft buku nih! Semoga bisa bikin versi panjangnya di wattpad yaa? 😆

Facebooktwittergoogle_pluspinteresttumblrmail

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *