Tak ada manusia sempurna. Tak ada manusia yang tak pernah salah. Tapi manusia bisa belajar menjadi sosok yang lebih baik dari kesalahan-kesalahan masa lalunya.

“Nih, pegang…”, seorang laki-laki menyodorkan toples. Aku yang sedang menikmati pertumbuhan tanaman kedelai di kebun pun agak terheran. Cowok itu sedang apa??

“Ada ulaaat…”, dia menangkap satu ulat daun kecil. Kalau mau jujur, aku takut dengan binatang itu!! Hiiiiyyy…rasanya geli dan ingin melarikan diri. Tapi anehnya, aku tak beranjak. Malahan membuka tutup toples dan menyorongkan ke hadapannya dengan santai. Dia tersenyum. Ehm…yang senyum itu si cowok yaa?? Bukan ulatnya! Lalu dia balik ke rumpun tanaman dan kembali berburu serangga.

Ya, hari itu kami pengamatan hama dan penyakit tanaman. Cowok ini kesukaanku. Aku bahkan pernah iseng beberapa kali nitip salam padanya melalui teman cowokku yang lain. Tapi tak sekalipun dia membalasnya. Dikenalkan dia adem. Diajak nongkrong bareng dia cool. Tak satu pun sinyalku dibalasnya. Apes banget yaa? 😥

“Kos kamu dimana?”, tanyanya dengan nada lembut. Ia tiba-tiba berbalik lalu memasukkan kepik ke dalam toples. Aku refleks menatap wajah manisnya. Mendongak tepatnya, karena tubuhnya begitu jangkung. Kutemukan ia juga sedang menatapku dengan binar penasaran.

“Emang kenapa??”, aku sok jual mahal.

Hei, bagaimana pun aku ini perempuan. Selama ini aku sengaja memberi perhatian padanya karena memang aku yang menyukainya. Cowok populer di jurusan tanah. Tapi itu dulu!! Setidaknya sudah beberapa bulan lalu. Prinsipku, buat apa menyukai seseorang yang sama sekali bahkan tak memikirkanmu? Ya kan??

“Kamu mau main??”, tapi kebiasaan jahilku kumat. Ah, lupakan gambaran perempuan feminim malu-malu yang elegan itu. Aku ini tipe yang terus terang biar terang terus! Apa hubungannya yaa?! 😆

Intinya sih, aku bukan tipe perempuan pemalu. Prinsipku lainnya, kalau kita suka seseorang nggak masalah juga kalau mau nembak duluan. Toh perempuan dan laki-laki itu setara. Jika mereka bisa ngungkapin cinta, kenapa kita nggak??

“Nggak ada yang marah kan kalau aku main??”, ujarnya sambil tersenyum. Dan seperti biasa, manisnya legit sampai bisa bikin diabetes kalau saja aku tak berpaling muka.

Aku tertawa. Geli. Dia mengernyit, bingung.

“Kok malah ketawa?”, protesnya.

“Ada yang marah nggak??”, ulangnya lagi. Sementara aku makin menikmati acara menangkap serangga sore itu.

“Tuh tuh disana, ada kumbang…”, sahutanku membuatnya menarik nafas. Namun dia membalik badan juga ke arah yang kutunjuk. Memungut kumbang hitam itu lalu menghampiriku lagi yang sudah bersiap membukakan toples.

“Jadi ada yang marah nih?”, dia masih mengejar.

“Kalau ada kenapa? Kalau enggak kenapa??”, lagi-lagi aku jahil dan menantangnya berterus terang.

“Ya kalau nggak ada yang bakal marah, aku main ke kost malam ini…”, sahutnya kalem.

“Hmmm…”, aku manggut-manggut tapi tak mengatakan apa-apa. Jadi kamu mulai tertarik sama aku nih? Dalam hati aku senang bukan main. Mimpi apa coba kemaren malam??

“Boleh??”, tembaknya lagi.

“Eh itu bukannya…”, aku tak menyahut. Malah mendekati tanaman kedelai di belakangnya karena mataku menangkap keberadaan serangga lain. Tugas kami memang mengumpulkan sebanyak mungkin serangga yang ada di kebun kelompok masing-masing.

Cowok itu membuntutiku. Ia menatap tak sabaran pada tanganku yang menunjuk serangga lain yang menempel di batang kedelai. Aku menyuruhnya menangkap binatang kecil itu. Dia menurut.

“Trus kalau ada yang marah kamu bakal menyerah??”, sahutku tiba-tiba.

Dia menatapku heran. Tepatnya makhluk seperti apakah aku ini? Teman seangkatan beda jurusan yang pernah pedekate segencar itu tetiba jual mahal ketika ia melambaikan bendera putih? Matanya mengerjap bingung.

“Kudengar kamu dekat dengan Andi. Kamu nggak pacaran sama dia?”. Andi yang dimaksud adalah teman sejurusanku. Sering antar jemput dan mengerjakan hal-hal lain yang kuinginkan.

“Kamu tahu aku sering nitip salam buatmu kan?”, aku malah balik bertanya tanpa malu.

“Jadi kalian nggak pacaran?”, ia meyakinkan.

“Oh…jangan-jangan kamu nggak pernah balas itu gara-gara takut sama Andi?”, aku tertawa mengejeknya.

“Bukan takut! Tapi nggak mau jadi yang ketiga”.

“Kalo yang kedua mau?”, candaku. Dan kami pun tertawa disela-sela tanaman kedelai itu. Angin yang bertiup pelan membuatku melupakan sesuatu. Hmmm…mungkin bukan tersebab angin, tapi cowok yang tertawa bersamaku ini. Ia membuatku mendadak lupa.

Bukkk!! Batu kecil mengenai kakiku. Aku menoleh ke sekeliling. Teman-teman seangkatanku rata-rata sibuk menyibak dedaunan. Mencari penyebab hama dan penyakit yang menempel disana-sini.

“Kita pindah sebelah sana yuk…”, ajaknya. Aku mengikuti. Sambil memikirkan darimana datangnya si batu.

“Jadi kos kamu dimana?”, tanyanya lagi.

“Di…”, jawabku.

Bukkk!! Batu kembali melayang mengenai kakiku. Aku menoleh ke belakang. Tampak sahabatku Aisyah tersenyum sok manis dan mengedip-ngedipkan mata di seberang.

“Apaaa?”, tanyaku tanpa suara.

Dia menjawab dengan gerakan tangan aneh yang tak kumengerti. Terang saja, telingaku sedang konsentrasi penuh pada suara cowok di sampingku. Aku mengangkat bahu dan melanjutkan obrolan kami.

“Eh, kupikir kamu tuh pendiam…”, aku tak bisa menahan isi benakku. Ya, selama kami kenal di kampus setidaknya menurutku dia bukan tipe yang banyak bicara.

“Aku tuh sebenarnya banyak ngomong kok kalau sama orang yang kusuka…”.

Senyumnya manis. Tapi kalimatnya barusan bahkan lebih manis lagi. Duh, bisa diabetes beneran nih!!

Bukkk!! Kali ini batu sebesar kepalan tangan menyentuh kakiku. Lumayan sakit. Aku kembali menoleh dan mendapati Aisyah melotot.

“Kenapa??”, lagi-lagi aku bertanya tanpa suara.

Ajaibnya Aisyah masih memberikan kode-kode tak terpecahkan. Ah, apaan sih?? Aku mengeluh dalam hati. Tapi hanya sekilas karena cowok manis di sampingku lagi-lagi mengajak bicara. Sebelum konsentrasiku benar-benar tercurah padanya, Aisyah sudah memungut batu baru. Aku kaget!! Buat apa? Ngelempar aku lagi?? Aku bergidik membayangkan ia melempar batu yang hampir sebesar bola kaki itu. Tubuh kurus itu pun protes dengan beratnya. Ia terpaksa agak menyeretnya.

Saat itulah aku baru tersadar sesuatu. Tubuhku terlonjak. Heh?? Kok nggak ada satu orang pun di sekitar kami?? Bukannya ini tugas kelompok?? Sepertinya kami kehilangan delapan orang anggota yang harusnya turut serta menangkapi serangga. Tapi mereka malah menghilang entah kemana!

Jadi dari tadi kami cuma berduaan?? Itukah yang membuat Aisyah melempar batu? Sepertinya banyak yang mencuri-curi pandang ke arah kami. Nah nah nah….

“Eh, aku kesana dulu ya?”, aku menunjuk Aisyah sambil menyorongkan toples berisi serangga yang kupegang. Takut benar-benar dilemparinya batu besar, haha….

“Tangkap yang banyak ya? Kalo sampe kurang, kita bisa dimarahin asisten…”.

Cowok favoritku itu pasrah dan membiarkanku melenggang pergi. Aku mendekati Aisyah sambil cengengesan. Gembira meski ada sedikit rasa bersalah. Sedikiiit banget!

“Ngobrol apaan sih sampai seasyik itu? Lagian sejak kapan jugaaa kalian dekat??”, Aisyah langsung memberondongku dengan pertanyaan.

Aku tertawa. Duh, pasti dapat ceramah deh!

“Katanya kemaren mau berubah??”, dia memulai omelannya.

“Iya, emang mau berubah, Syah! Mau hijrah kayak kamu juga…”, aku membenarkan.

“Trus ngapain berduaan?”. Aisyah mendelik sebal. Kalau sudah begitu, aku pun pasti tertawa. Geli melihat ekspresi naik darah ala Aisyah!

“Kok malah ketawa sih??”.

“Maaf. Habisnya kamu segitu emosinya sih!! Dengerin dulu kek…”, jawabku mengingatkan urutan reaksinya. Dia menarik nafas kemudian mengangguk.

“Nah gitu dong! Pertama yaa…aku tuh nggak tahu kalo kami cuma berduaan. Kan tadi teman-teman satu kelompokku ada disana semua. Nggak tahu sejak kapan mereka hilang…”, jelasku.

“Trus trus kalian ngomongin apa??”, kejarnya lagi.

Deg!!

“Ehm…ngomongin ulat. Kamu tahu kan aku geli banget sama ulat…”, bohong!

“Ngomongin ulat kok senyummu semanis itu??”, dia curiga.

“Lha trus gimana?? Apa aku harus lompat-lompat trus bikin heboh di lahan?”, aku pura-pura ngambek. Aisyah terpaksa menerima penjelasanku meski wajahnya agak ragu.

***

Malamnya dia benar-benar datang! Kami menghabiskan waktu bicara di ruang tamu ditemani kakak sejurusannya yang kebetulan satu kost denganku. Besoknya dia datang menjemputku biar bisa bareng ke kampus. Besok dan besoknya lagi, dia makin sering menelponku. Kadang mengajakku makan bareng di kantin dan seterusnya.

Aku antara senang juga gelisah. Gimana nggak senang coba ketika cowok favoritmu mendekati? Duh, dunia ini seolah dipenuhi aroma merah jambu!

Tapi masalahnya, sudah beberapa bulan terakhir ini aku mengazamkan diri untuk hijrah. Berubah! Kemaren aku nggak kerudungan lho! Kecuali pas semester lalu mengikuti kuliah agama. Dosennya super galak! Beliau nggak segan-segan mengusir mahasiswi yang tak menutup aurat dari kelasnya.

Tergugah dengan nasihat Aisyah yang sering menyeretku pada pengajian, bahwa menutup aurat itu bagian dari menghormati sekaligus menjaga diri. Benar saja, setelah mengenakan gamis dan kerudung, aku tak lagi mendapatkan siulan atau kata-kata nakal atas pakaian seksi yang kukenakan. Sekarang mereka malah memanggil “bu haji” atau “angin syurga nih kayaknya”. Yah, masih sih digodain tapi masih sopan kan yaa??

Tapi kok justru saat itulah godaan cinta datang?? Aku pun jadi galau tingkat dewa! Di kampus aku sengaja menjaga jarak sementara di luar kampus aku membiarkan saja.

***

Sampai suatu hari…

“Eka…”, tiba-tiba Aisyah masuk ke warung nasi kuning pagi minggu itu. Aku gelagapan! Ini bukan warung yang biasa ia kunjungi. Kenapa tiba-tiba bisa ketemu disini??

“Eh…”, tak tahu harus mengatakan apa. Sekilas ia menoleh pada Bian, cowok favorit yang duduk di hadapanku. Duh!!

***

“Jadi kamu pacaran sama Bian??”, cecar Aisyah.

“Nggaaak! Cuma dekat doang kok! Aku udah bilang sama dia kalo aku tuh nggak mau pacaran…”, ujarku jujur.

“Nggak pacaran tapi makan berduaan??”, Aisyah tak percaya.

“Yaa…gitu deh pokoknya! Dia tuh jadi sering nelpon, main ke kost, kadang ngajak jalan juga. Tapi beneran…kami nggak pacaran!”. Aku tertunduk lesu. Ketahuan deh!!

“Ya ampun Eka, kamu pikir hanya karena kalian bersepakat nggak menjalin hubungan bernama pacaran lantas aktivitas yang serba bareng itu jadi boleh?? Makan berduaan sama yang bukan mahram itu kan haram…”, cecarnya. Aku diam. Tahu salah!

“Belum lagi perhatian-perhatian dia sama kamu. Ini sudah menjurus…”, dia berhenti demi melihat wajahku yang mungkin terlihat seperti kepiting rebus. Aisyah menarik nafas panjang.

“Oke, aku emang salah! Aku tahu itu salah tapi tetep aja ngelakuinnya. Tapi kamu bisa ngebayangin nggak sih…dia tuh favorit aku banget!! Berkali-kali aku menyesali, kenapa coba dia datangnya terlambat…”.

Aisyah melongo.

“Haha…”, dia tertawa keras. Sekarang giliran aku yang melongo.

“Eka…Eka!! Itu bukan sesuatu yang harus kamu sesali. Tapi harusnya kamu syukuri. Betapa sayangnya Allah sama kamu sampai kamu dijauhkan dari hubungan cinta yang belum halal ini…”, sahutnya sambil tersenyum.

“Lha…trus kalo emang Allah mau nyelamatin aku, kok Allah malah ngedeketin kami sekarang??”, protesku.

Aisyah tersenyum.

“Sahabatku Eka yang cantik, Allah itu yaaa…terkadang menguji di titik terlemah kita. Kalau titik terlemahmu adalah gharizah nau yang termanifestasi dengan naluri mencintai si Bian maka itulah yang bakal Allah ujikan! Biar kalo lulus, kamu tuh jadi wisudawan berkualitas!”, jelasnya gamblang.

Aku senyam-senyum mendengarnya.

“Kok senyum??”, Aisyah balik galak.

“Yaa…nggak papa. Aku kayaknya harus bersyukur satu lagi karena Allah mengirimkan kamu jadi temen sholihahku. Karena lemparan batumu aku bangun deh dari pingsanku. Ternyata punya temen galak itu berguna juga yaa…”.

“Apa??”, Aisyah pura-pura marah. Namun kemudian kami sama-sama tertawa.

***

Epilog :

“Maaf yaa mulai besok kamu nggak usah main kesini”, lugas kukatakan pada cowok favoritku itu.

“Lho…kenapa?? Takut Aisyah marah??”.

“Nggak! Dia mah siapa lah! Aku malah takutnya Allah yang marah, Bi. Kan kita nggak punya hubungan apa-apa…”, sahutku kalem.

“Ya kan katanya kamu nggak mau pacaran?? Aku kan udah dari dulu nembak kamu!”. Dia salah mengerti.

“Pacaran kan nggak halal, Bi. Yang halal itu nikah! Emang kamu udah siap nikahin aku??”, tembakku tanpa tedeng aling-aling.

Bian tergagap. Ia mendadak diam dan memandangiku lamaaa. Mengedip beberapa kali. Juga menarik nafas panjang berkali-kali. Lalu pergi dari kost tanpa sepatah kata. Aku hanya mengangkat bahu dan mengantarnya keluar juga tanpa kata.

Bye bye Bian, salah satu cinta monyetku! Kalau kamu ingin mencintaiku jangan pacari tapi nikahi aku! Ok?!

#ODOPOKT5

*Diselesaikan setelah kembali dari perjalanan ke Kota Hujan… 😉

Facebooktwittergoogle_pluspinteresttumblrmail

2 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *