“Popularitas tidak mengakhiri kesepian” ~ Claire Danes ~

“Dear passengers, in a few minutes we will arrived and landed in Incheon International Airport of South Korea.  Please straighten your seat and fasten your seatbelt.  Please be sure to take all of your belongings…”, suara pramugari mengingatkan penumpang.  Aku menarik nafas panjang.  Agustus tiba!  Sebagaimana dijadwalkan, aku akhirnya menjejakkan kaki di negeri ginseng, Korea.  Berbagai perasaan campur aduk menjadi satu.  Bahagia sebab mimpi melanjutkan studi di luar negeri akan segera terpenuhi.  Namun juga gugup jika mengingat jauhnya jarak dengan tanah kelahiran.  Juga perbedaan budaya dan bahasa.

Ah, bahkan bandara Incheon yang megah tak mampu mengusir rasa terasing yang mulai mengusik.  Orang-orang berbicara dengan kata yang seolah semuanya berujung “O”.  Yo, haseyo, jusipsiyo, murago!  Alamak, rasanya seperti mimpi!  Biasanya aku cuma nonton drama korea di televisi.  Tapi hari ini, seolah aku masuk ke dalam plot dan menjadi salah satu aktornya!

***

Sebuah taman dengan pohon-pohon besar berkanopi lebar menggodaku.  Lelah setelah menelusuri kampus baruku sejak siang hingga matahari hampir tenggelam.  Aku duduk sambil memandangi danau buatan dengan hiasan bebatuan dan ikan warna-warni yang terhampar di hadapan.  Sejak tadi aku sedang mencocokkan peta dengan area yang kujelajahi.  Gedung perkuliahan juga lab yang akan menjadi tempatku menghabiskan banyak waktu ternyata tak jauh dari asrama.  Bangunan lainnya yang kukunjungi adalah perpustakaan besar yang letaknya seolah di ujung area kampus.  Melihat kolam air mancur dan beberapa patung di depannya kupikir itu art building.  Ternyata keliru!  Ah, aku memang payah membaca peta!

Kukeluarkan botol minuman dari dalam ransel namun rupanya isi tinggal seujung kuku.  Kalau sudah begini artinya harus segera kembali ke asrama.  Tapi pemandangan di depanku seolah menahan langkah.  Aku duduk lama disana.  Memikirkan nasibku, akankah mampu melewati fase menjadi mahasiswa disini?  Sejujurnya aku tak punya jejak akademis yang bagus.  Aku hanya beruntung!  Mendapat beasiswa yang harusnya sih diperuntukkan bagi putra-putri Indonesia bagian timur ke negeri kimchi ini.

Tetiba seseorang datang menghampiriku dan menyorongkan sebotol air mineral.  Mataku mengerjap heran.  Jangan-jangan ini deja vu gegara kebanyakan nonton drama??  Tapi disanalah laki-laki itu.  Mengenakan jeans selutut berwarna biru dengan kaos lengan pendek tipis berwarna putih.  Ekspresinya datar namun matanya seolah mengatakan, “ambil saja!” pada botol di tangannya.  Kupandangi sekeliling taman yang sepi dan perasaanku langsung was-was.

“Kamsahmnida…”, ucapku agak ragu.  Ini kata pertama berbahasa korea yang kuucapkan sejak menjejakkan kaki di sini.  Entah benar atau salah pengucapan, yang jelas aku melihatnya tersenyum.  Sesaat kemudian aku sadar.  Disini musim panas.  Sejak di bandara hingga asrama, orang-orang terlihat sama!  Pakaian mereka serba mini dan tipis!  Itulah sebabnya, sepanjang jalan tadi mereka tak henti melirik.  Wajar sih mengingat penampilanku dengan gamis hijau daun bermotif floral dan kerudung panjang melewati pinggang ini.  “Apakah dia tak kepanasan??”, mungkin ini yang ada di benak mereka saat kening-kening itu mengernyit setelah melihatku.  Termasuk laki-laki ini!

Ia segera berbalik.  Meninggalkanku dengan senyum dan sebotol air mineral yang entah bagaimana tak berani kuminum.  Bukan sayang sebab yang memberi sedekah air itu pria korea yang ehm…berpenampilan menarik.  Tapi aku takut!  Bukankah sejak kecil kita sudah biasa diajari agar tak mudah menerima sesuatu maupun mengikuti ajakan orang asing?  Dan aku pun langsung ngacir ke asrama!!

***

Menyesuaikan ritme perkuliahan disini di minggu pertama terhitung lancar.  Mungkin karena tinggal di asrama dengan fasilitas serba lengkap seperti sekarang.  Hanya saja aku punya penyakit baru : insomnia!  Dan segala fasilitas di korea sepertinya justru makin memanjakan pengidapnya.  Dongdaemun menjadi tempat jelajahku pertama kali bersama Unnie Hae Won, teman baru satu asramaku.  Katanya sih disini barang serba murah!  Daripada berbelanja, aku lebih tertarik jalan-jalan melihat tempat baru.  Jujur saja, selama disini aku belum banyak menjelajah.  Selain memulai perkuliahan, aku juga harus mengikuti kursus bahasa.

Kupikir akan sepi jika malam.  Ternyata malah ramai!  Beberapa penjual pakaian bahkan terlihat sangat sibuk dengan pembeli-pembelinya.  Serius memperhatikan pemandangan itu sampai membuatku lupa keberadaan Unnie Hae Won!  Ya Rabb, sekalinya keluar malam malah terpisah dari teman yang hafal jalan!  Gimana nih??

Bip bip…gawaiku bergetar.  “Unnie, where are you?”, tanyaku agak panik.  Apesnya suara Unnie Hae Won timbul tenggelam.  Ahhh, pertanda aku harus pulang sendiri!  Oke, aku sudah menghafal rutenya kok!  Aku keluar menyusuri jalan masuk tadi, berputar sebentar mencari halte bus.  Tak lama bus yang kunanti tiba dan aku ikut naik bersama beberapa penumpang lainnya.

“Agashi, chon won chuseyo…”, ujar Pak Sopir.  Aku yang tak mengerti bahasa korea ini pun hanya memandangi sekilas lalu ngeloyor nyari tempat duduk.

“Agashi…”, kembali Pak Sopir mengulangi kalimat yang sama.  Suasana makin aneh sampai seseorang menghampiriku dan setengah berbisik, “You have to pay one thousand won…”.

Olala!!  Jadi yang sejak tadi jadi biang keributan itu aku toh??  Semua mata memandang begitu aku membalik badan.  Daripada jadi bahan tatapan mata-mata asing, aku akhirnya berjalan menuju ujung bus.  Duduk di dekat laki-laki yang membantu menerjemahkan kalimat Pak Sopir.  Aku lupa jika disini harus membayar dengan T-Money!  Alamak, malu!!

“Where are you from?  India??”, tanya penolongku itu tiba-tiba.

“No, I’m from Indonesia…”, jawabku.

“Aaaaah, Indonesia… Apa kabar??”.  Aku mengernyit heran namun senang mendengar kalimat familiar itu melalui lidah orang asing.

“Alhamdulillah, baik.  How do you know Indonesian languange?”, sahutku sambil memandanginya penasaran.

Ia mengatakan pernah sekali ke Jakarta.  Mendengarnya aku makin suka!  Tapi tiba-tiba aku teringat sesuatu.

“Kamu…”, aku mengerjap takjub.  Bukankah dia yang memberiku sedekah air di tengah dahaga musim panas pertamaku di Seoul kemaren?  Dia tersenyum simpul.  Hei, senyumnya itu tuh yang mengingatkanku meski dandanannya malam ini berbeda.  Ia masih mengenakan pakaian gaya kasual namun dengan warna serba hitam.  Dan sneaker hitamnya terlihat mahal!

***

“Mbak, Ayah udah pergi…”, kudengar adik lelakiku nun jauh di Jakarta sana berkata.  Suaranya seolah petir di siang bolong!  Aku berharap ini hanya mimpi.  Aku ingin segera bangun dan membaca Allahumma innii a’uudzubika min amalisy syaithaani wasayyi aatil a’lam.  Ya Allah sesungguhnya aku mohon perlindungan kepada-Mu dari tingkah laku syaitan dan dari mimpi-mimpi yang buruk.  Tapi meski kubaca berulang-ulang, suara isaknya di seberang masih terngiang.  Ya Rabb…Ya Rabb…Ya Rabb…innalillahi wa inna ilaihi rajiun.  Dan air mataku pun mulai menggenang!

Seolah ada sesuatu dalam dada ini tercerabut.  Ayah oh Ayah, bukankah kemarin masih sehat dan tersenyum padaku?  Bukankah kemaren kita masih berbincang tentang kitab fiqih Sulaiman Rasyid yang kau baca?  Bukankah kemaren kau masih sibuk bertanya padaku tentang kitab fiqih khusus shalat?  Aku bahkan mengatakan kitab itu ada di baris pertama lemari buku yang sebelah kanan!  Bukankah kemaren Ayah mengatakan akan mendampingiku wisuda yang kedua?  Bukankah kemaren…bukankah??  Oh, Ayah…mengapa harus sekarang?

“Mbak, mau pulang?”, tanya adikku pelan.  Masya Allah, sejak tadi aku belum memikirkan hal ini.  Masih disibukkan rasa ingin menolak kenyataan bahwa Ayah telah pergi selamanya.  Aku segera mencari tiket penerbangan ke Jakarta secara online.  Tapi tanganku terlalu gemetar sehingga gawai pun jatuh ke atas meja.  Aku segera mencari sandaran.  Kakiku serasa tak lagi bertulang.  Tak ada penerbangan hingga empat hari terakhir setiap bulan.  Dan itu masih lebih dari dua minggu lagi!

“Mbak, sabar yaa…”.  Diam dengan jeda lama.  “Jenazah Ayah insya Allah segera akan disemayamkan.  Maaf nggak bisa menunggu, Mbak…”, suara serak adikku seperti tikaman belati di hati.  Ah, bahkan sekedar menengok terakhir kali wajah teduh lelaki yang telah mencintaiku tanpa syarat ini pun aku tak bisa??  Suara tangisku meninggi.  Ya Rabb, aku tahu ini qadha’Mu.  Sungguh aku tahu bahwa setiap yang bernyawa pasti akan kembali pada-Mu.  Dan sesuatu yang berada di luar kekuasaanku takkan pernah Engkau hisab.  Tapi Ya Allah, seolah hati ini dihinggapi ribuan jarum.  Rasa pedihnya sungguh tak tertahankan!  Astaghfirullah, aku mengulang istighfar berkali-kali.  Ya Rabb, ampuni hamba yang lemah ini.  Ya Rabb, beri hamba kekuatan untuk bersabar.  Ya Rabb, Ya Rabb, Ya Rabb….

Aku menyerah pasrah.  Ya, manusia boleh berencana namun Allah juga yang menentukan segalanya.  Adikku mengirim foto saat Ayahku dimandikan lalu dimakamkan.  Satu hari, dua hari, hingga berminggu kemudian bantalku masih selalu basah.  Aku menangis.  Mengadu pada Allah tentang rasa sakit dan kehilangan.  Tentang setiap penyesalan pada laki-laki terkasihku itu.  Tentang semua harap yang ingin kuraih.  Tentang apa saja yang membuat hati ini kembali pedih saat mengingat wajahnya.

Tak hanya bantal.  Diktat kuliah, buku catatan dan semua yang kupegang saat mengenangnya pun pastilah turut basah.  Aku merindukannya.  Teringat bagaimana Ayah yang meski kadang bersikap keras dan disiplin namun tak pernah kehilangan cara memanjakanku dengan cara sederhana.  Membiarkanku menonton kartun dan membaca buku favoritku meski dilarang Ibu, juga menemani bermain sepeda.  Teringat pula bagaimana Ayah tak pernah mematikan gawainya hingga yakin hari itu aku sudah kembali selamat ke rumah.

”Gwenchanayo?”, seseorang menghampiriku yang sedang sesenggukan di bawah pohon.  Aku sedang di perpustakaan ketika adikku mengirim pesan tentang penyelenggaraan tahlilan di rumah.  Empat puluh hari sudah beliau berpulang.  Dan aku makin merasa kehilangan.  Aku segara menghapus air mata dan menoleh pada asal suara.

Are you okay?”, ulangnya lagi.  Bukankah dia pemberi sedekah air sekaligus penolongku di dalam bus?  Aku mengenali tatapan matanya yang entah bagaimana seperti bicara.  Semacam kepedulian?  Aku mencoba menahan isak.  Sesungguhnya suasana hatiku jauh dari kata baik-baik saja.  Tapi aku mengangguk.  Ia menarik nafas dan ikut duduk tak jauh dariku.  Tak ingin menangis di depan banyak orang, aku melarikan diri ke taman di belakang perpustakaan.  Tapi tetap saja ketahuan!

Aku menghapus sisa air mata dan mencoba menyusut ingus sesopan mungkin meski tak berhasil.  Ia sepertinya hanyut dalam pikirannya sendiri saat memandangi ikan-ikan di dalam kolam.  Keheningan itu membuatku sadar tak banyak orang di sekitar kami.  Aku berdiri.

“Menurutmu sedang apa mereka?”, tanyanya dalam bahasa korea.  Aku balik bertanya siapa yang ia maksud.

“Ikan-ikan itu…”, sahutnya sambil menunjuk.

“Hmmm…entahlah!  Mungkin menari?”, jawabku asal dengan suara serak dan masih diselingi sedikit isak.  Dia mengangguk.

“Betapa enaknya jadi mereka…”, gumamnya.

“Kenapa?”, aku mendadak penasaran.  Isakku makin reda.

“Lihatlah…yang mereka lakukan setiap hari hanya menari-nari di kolam.  Tak perlu repot memikirkan rumah atau makan.  Mereka hidup penuh kegembiraan…”, ujarnya datar.

Aku mengernyit.  “Jika dilihat dari persfektif lain, ikan-ikan itu juga sangat kasihan.  Ia hidup hanya untuk jadi santapan…”, sahutku pelan sambil menoleh padanya.  Meski isak telah hilang namun mataku masih berkabut.  Dia menatapku heran.

“Menurutku…kita tak bisa selalu membandingkan.  Bukankah segala sesuatu yang diciptakan oleh Allah di muka bumi ini tak ada yang sia-sia?”.

“Allah?”, dia bingung.

Haneunim”, aku mencari persamaan kata dalam bahasa mereka.  Tuhan.

“Aaah…haneunim!”, ulangnya dengan anggukan.  “Kamu percaya Tuhan?”, nada suaranya penasaran.  Aku mengangguk.

“Ya, aku percaya!  Allah SWT-lah yang telah menciptakan alam semesta, manusia dan kehidupan ini…”, sahutku yakin.  Aih, aku sedang apa sih sebenarnya?  Baru saja menangis merindukan Ayah lalu setelahnya kerewelanku kumat?  Please, ini bukan saatnya ceramah!  Jika kalian berbincang lama tanpa kehadiran pihak lain, ini bisa jadi khalwat!  Benakku mengingatkan.  Aku berbalik.

“Dimana aku bisa menemukan Tuhan?”, pertanyaannya menahanku.  Dalam beberapa bulan disini baru kali ini ada yang mengajakku bicara tentang Tuhan.

“Hmmm…disini!”, aku menunjuk ikan.  Alisnya terangkat sebelah.

“Disitu juga…”, aku menunjuk langit cerah berwarna biru.  Lalu tanganku sibuk menunjuk pohon ginko dan maple yang berubah warna menjadi kuning dan merah di sekitar kami.  Matanya membelalak heran.  Mungkin bingung dengan maksud perkataanku.

“Kita bisa menemukan Tuhan dari segala sesuatu yang ada di sekitar kita.  Coba tengok alam semesta ini misalnya ikan, langit juga pohon.  Ikan di kolam ini punya sisik menarik dengan warna merah, kuning dan putih.  Menurutmu apakah masing-masing dari mereka memilih dan mengatur sendiri warna sisiknya?”.  Dia diam.  Matanya memperhatikan ikan-ikan.

“Lalu langit!  Pernahkah kamu bertanya mengapa ia berdiri di atas kita tanpa tiang seperti konstruksi pada atap?  Siapa yang mengaturnya sehingga bisa kokoh tak menimpa manusia?”.  Dia diam.  Matanya beralih memandangi langit.

“Kemudian pohon maple itu!  Mengapa harus mengubah warnanya sekarang?  Kenapa tidak di musim dingin saja?”.  Dia masih diam.  Matanya beralih mengikuti ceritaku pada pohon maple.

“Ada sebuah cerita terkenal dari orang arab baduy.  Meski kurang terdidik namun dengan potensi akal yang dianugerahkan Allah SWT mereka bisa memikirkan tentang Tuhan…”.  Dia tak memandangku.  Tak juga berkomentar.

“Ketika ditanya, bagaimana caranya mereka membuktikan keberadaan Tuhan?  Jawabannya sangat sederhana, ‘lihatlah jejak kotoran unta itu.  Jika jejaknya nampak niscaya untanya pastilah ada!’.  Dengan kata lain mereka mengatakan bahwa jika ada makhluk maka pastilah ada penciptanya.  Dan dialah Allah SWT…”.  Dia diam.  Lima menit.  Sepuluh menit.  Sepertinya sibuk dengan pikirannya sendiri.

Rasa hangat mulai berkurang.  Angin musim gugur dengan rasa dinginnya mulai bertiup sebab hari mulai beranjak sore.  Aku berbalik.  Kali ini ia tak lagi menahanku dengan pertanyaannya.

***

Akhir-akhir ini angin siberia yang bertiup membuat suhu makin dingin.  Hari-hari menjadi lebih pendek, sinar matahari muncul lebih lambat dan tenggelam lebih cepat.  Sudah seminggu sejak salju pertama jatuh.  Awalnya aku senang bukan kepalang.  Namun rupanya itu hanya terjadi di tiga puluh menit pertama.  Setelah beberapa kali tergelincir dengan hidung berair, aku menyerah!  Makanya aku lebih suka mendekam di asrama.  Menghidupkan pemanas ruangan, membaca buku sambil menyesap kopi panas.

Tok tok tok.  Aku membuka pintu dan Unnie Hae Won langsung menerobos kamarku.  Menangis.  Aku bertanya kenapa, tangisnya justru makin menjadi.  Aku tak tahu harus bagaimana.  Dalam kasus ini aku hanya mendiamkannya.  Menunggu Unnie Hae Won tenang lalu mungkin mendengarnya bercerita.

“Ji Sung Oppa meninggal”, ini kalimat pertama ketika tangisnya sedikit mereda.  Oke, siapakah Ji Sung Oppa ini??  Tapi  pertanyaan ini pastinya akan merusak moodnya jadi aku tak mengeluarkan sepatah kata. Menunggu. Lima menit, sepuluh menit, tak berlanjut.  Harus ditanyakah siapa?

“Aku ingin ikut mati saja…”, Unnie Hae Won kembali histeris.  Astaghfirullah, apa yang terjadi sih??  Aku memeluknya.  Bingung mau mengatakan apa dan bertindak bagaimana sebab tak tahu duduk perkaranya.  Satu jam ia menangis tanpa henti, kelelahan lalu tertidur.  Aku menyelimutinya sebelum keluar kamar.  Udara dingin masih menyapa meski gamisku telah dilapisi jaket tebal.  Beberapa mahasiswi dengan mata sembab berdiri di depan kamar di dekat tangga sambil berpelukan.

“Kenapa?”, tanyaku heran.

“Ji Sung Oppa…”, kalimatnya tak tuntas.  Tak satu pun bicara selain dengan air mata.  Tapi aku masih tak mampu mencerna sebabnya.

Kutinggalkan mereka lalu pergi ke toserba di depan gerbang kampus.  Aku memilih beberapa apel, keripik kentang dan susu.  Suara televisi nyaring.  Beberapa kali nama Park Ji Sung disebut-sebut sehingga aku mendekat.  Layar kaca rupanya ramai memberitakan top star korea yang bunuh diri beberapa jam lalu di kediamannya.  Meski aku kadang menyaksikan drama Korea di televisi tapi jarang mengingat nama para aktor atau aktrisnya.  Wajah Park Ji Sung terlihat tak asing.  Di drama apakah ia kulihat??

Tiba-tiba nafasku tercekat.  Jantungku bergemuruh.  Bukankah dia aktor yang sempat masuk dalam plot drama kehidupanku beberapa waktu lalu?  Pemberi sedekah air, penolong di bus dan orang asing yang pertama kali mengajakku bicara tentang pencarian Tuhan!  Ya Allah, aku bahkan tak sadar dia seterkenal itu!  Tapi ngapain coba selebriti sepertinya berkeliaran di sekitar kampusku??  Aku mengklik profil Park Ji Sung dan ternyata ia kuliah di kampus yang sama denganku.  Ahhh…aku mengerang kecewa!

Park Ji Sung meninggal dunia di usia dua puluh enam tahun.  Satu tahun lebih muda dariku.  Hanya dalam tiga jam sejak kejadian bunuh dirinya berbagai spekulasi bermunculan.  Tentang depresinya.  Sebab depresinya.  Upayanya mengatasi depresi.  Teman-teman yang menyadari depresinya.  Dan seterusnya.

Park Ji Sung, model dan aktor yang konon sangat terkenal sejak kecil.  Ia memulai debut di usia lima tahun sebagai model pakaian anak-anak dari label terkenal di Korea.  Sejak itu tak terhitung iklan yang pernah dibintanginya.  Ia bahkan pernah menerima penghargaan sebagai best actor di beberapa film dan dramanya.  Konon meski masih muda namun bayarannya selangit!  Dan ia pernah singgah ke Indonesia!  Ini menjelaskan kenapa ia tahu sepatah bahasa Indonesia!

Mataku beralih pada informasi iklan-iklan dan filmnya.  Kuklik beberapa video.   Ya, ini memang dia!  Rupanya ia pemuda berparas tampan menawan, kaya juga multitalenta.  Tiba-tiba setitik bening jatuh di sudut mataku.  Aku menyesal.  Bukan karena tokoh utama, yang jika menengok tipologi drama korea, ia akan jatuh hati karena keunikanku itu telah pergi.  Bukan!

Aku menyesal tak bisa mengajaknya bicara lebih baik tentang Tuhan dan bagaimana cara menemukannya.  Keterbatasan bahasa dan pemahamanku terhadap sosial budaya masyarakat Korea mungkin membuat pesanku tak tersampaikan dengan benar.  Parahnya lagi, aku lupa berterima kasih saat terakhir bertemu dengannya.

“Gwenchanayo?  Are you okay?”, suaranya pada empat puluh hari dimana Ayah berpulang pun terngiang.  Saat itu aku hanya mengangguk.  Harusnya aku mengatakan, “Terima kasih karena sudah bertanya.  Kamu adalah orang pertama yang menanyakan apakah aku baik-baik saja.  Aku sedang sedih sebab sebuah masalah.  Tapi aku akan baik-baik saja seiring waktu sebab ada Haneunim, Allah SWT yang punya segalanya”.

 

*Ditulis setelah membaca berita tentang salah satu seleb Korea yang melakukan bunuh diri.  Meski bukan berada dalam barisan fansnya namun saya menyayangkan kejadian tersebut.  Seandainya ia mengenal Allah SWT dan mengerti aturan-Nya!  Seandainya orang-orang sekitar lebih peduli dan bertanya, “apakah kamu baik-baik saja?” sambil sesekali merangkul pundaknya.  Tak perlu bagi kita detail bertanya jika memang yang bersangkutan tak mau terbuka.  Meski begitu, itulah bentuk kepedulian yang menyadarkan bahwa ia tak sendirian saat berkutat dalam masalahnya.  Hei, selalu ada saya disana jika kamu ingin bercerita!

Facebooktwittergoogle_pluspinteresttumblrmail

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *