Malam itu kami galau. Saya dan seorang sahabat. Menyadari kehidupan yang singkat. Waktu berlalu demikian cepat. Tanpa sadar usia telah makin meningkat. Namun kualitas diri tetap tak berperingkat.

Keesokannya galau itu bertambah berat. “Aku pilih tidur”, ujarnya. “Aku pilih nonton”, saya menimpali. Bentuk pelarian sesaat dari berbagai problem yang tak pernah istirahat. Pekerjaan, keluarga hingga diri sendiri. Semua menumpuk dan membuat mood berantakan. Labil. Layaknya cuaca yang tak bisa diprediksi. Sebentar cerah namun bisa mendadak hujan badai. Ah, entahlah!

Kami bicara tentang ujian hidup. Menyadari semakin hari semakin kompleks yang kami hadapi. Jauh sekali dari masa lalu yang serba mudah. Kepusingan kami hanya seputar tugas sekolah atau skripsi. Paling banter berantem dengan teman atau saudara. Sekarang? Alamak…semua numplek blek! Bentuknya melingkar bak benang kusut yang tak jelas mana ujung pangkalnya.

Masalah oh masalah. Jika ia merupakan sebuah persoalan yang memerlukan pemecahan, memformulasikan jawaban tepatnya sih mudah. Tinggal tengok syariat Allah, selesai! Al Qur’an punya jawaban atas setiap masalah yang kita hadapi. Allah SWT melalui Rasul-Nya telah memberikan seperangkat aturan bagi manusia. Agar ia bisa menyelamatkan diri dan handai taulan dari pedihnya adzab neraka. Aturan-Nya sempurna!

Nah, yang berat itu ternyata ketika menjalankannya. Istiqomah memegang syariat-Nya. Kita sih mungkin paham bahwa memiliki barang dengan cara riba itu haram. Tapi menahan diri sementara menabung agar barang yang ingin kita miliki (semisal tanah, rumah, motor, mobil, dll) itu ada tanpa riba? Ah, itu berat! Kita mungkin paham bahwa harta haruslah didapat dengan jalan halal. Tapi ketika datang keperluan tak terduga lalu godaan keharaman menghadang di depan mata, akan bagaimana rasanya?? Sungguh berat kan?!

Terlebih kita hidup di sistem yang tak memanusiakan seperti saat ini. Ekonomi ditopang riba. Pinjam uang 100 juta dan mengembalikan 300 juta adalah biasa. Kan harus bayar bunga? Tambah lagi para kapitalis yang berkuasa. Distribusi kekayaan akhirnya makin tak merata. Kepemilikan individu, publik dan negara tak ada kejelasan rasa. Yang punya akses terbesar mengelolanya, dialah raja!

Rakyat bagaimana? Biarlah mereka menikmati menjadi buruh di negeri sendiri. Sementara tenaga kerja asing dan aseng menjadi manajer berjabatan tinggi. Siapa suruh mereka tak mengejar pendidikan tinggi?! Biarlah mereka diet atau mencukupi gizinya dengan keong sawah. Demikian pejabat memberikan solusi. Toh, siapa suruh juga mereka tak mampu berdikari lalu beli daging berprotein tinggi! Biarlah mereka menikmati naiknya tarif listrik, air dan BBM secara sunyi. Sementara pemimpin negeri seolah tak peduli!

“Aku mau lari saja!”, ujarnya.

“Kemana?”.

“Ke Mekkah!”, sahutnya lagi.

“Ya, pergilah. Pergi saja ke rumah Allah. Mengadu dan bersimpuh padanya. Dialah yang punya kunci segalanya”.

Saya menangis. Mungkin benar kata Dilan. Rindu itu berat. Terlebih jika merindu hadirnya pemimpin yang mewujudkan baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur. Sebuah negeri yang mengumpulkan kebaikan dunia dan akhirat bagi warga negaranya.

*Ditulis setelah menggosip semalam bersama sahabat sambil berharap bisa membeli stok sabar… 😉

Facebooktwittergoogle_pluspinteresttumblrmail

2 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *