History ia a people’s memory, and without memory, man is demoted to the lower animals” ~ Malcolm-X

Sejarah?? Oh, no!! Saya dulu paling sebal kalo sudah berurusan dengan pelajaran sejarah! Banyak tahun dihafal, banyak kejadian yang diingat dan banyak pula tokoh harus dikenali. Beuh, rasanya njlimet di kepala. Lagipula apa hubungannya dengan kehidupan saya sekarang??

Ketidakpedulian pada sejarah ini kemudian berubah karena besarnya rasa malu. Suatu hari saya disentil dengan pertanyaan, kenalkah dengan Khalid bin Walid? Hah?? Siapa itu? Saya terheran-heran! Selama ini tokoh Islam yang saya kenal hanya sebatas Abu Bakar, Umar bin Khaththab, Utsman bin Affan dan Ali bin Abi Thalib. Itu pun hanya garis besarnya saja karena mereka pernah masuk dalam pelajaran agama Islam di sekolah. Khulafaur Rasyidin, demikian mereka digelari. Bahkan makna persis sebutan ‘khulafaur rasyidin’ itu pun saya kurang paham.

Bagaimana dengan Panglima Para Syuhada : Hamzah?? Kening berkerut seribu pun percuma karena saya tak punya simpanan data. Benarlah apa yang disampaikan Syaikh Taqiyuddin An-Nabhani bahwa “Berpikir tidak akan bisa terwujud kecuali dengan adanya informasi terdahulu”.

Rupanya kepala ini hanya penuh hafalan biodata anggota boyband favorit. Dari tanggal lahir, hobi, karya sampai gosip teranyarnya semua tersimpan rapi di kepala. Saat itulah saya tersadar, jika diibaratkan dalam permainan catur, saya sedang di-skakmat!

Bagaimana dengan peristiwa-peristiwanya? Heroisme Al Fatih menaklukkan Konstantinopel hingga menyeberangkan kapal melewati gunung? Bagaimana dengan Shalahuddin Al Ayyubi yang membebaskan Al Quds yang sempat terebut? Thariq bin Ziyad yang membawa pasukan Islam menyeberangi selat Gibraltar menuju daratan Eropa lalu menaklukkan Andalusia? Atau Saifudin Qutuz, pahlawan perang Ain Jalut?

Ah, tak terbayang sebelumnya bahwa Islam punya superhero sungguhan! Riil! Nggak pake imajinasi keberadaannya di muka bumi ini. Saat pertama kali membaca kisah mereka, saya merinding! Beberapa kali juga menitikkan air mata haru. Perjuangan yang telah mereka lakukan demi kemuliaan Islam dan kaum muslimin sungguh menyentuh. Lebih indah dari kisah hollywood yang selama ini saya konsumsi.

Ah ah, malu rasanya mengakui bahwa cerita superhero bagi saya itu yaa…Batman, Superman, Spiderman, Wonder Woman dan sebangsanya. Saking ngefans-nya, zaman kecil dulu saya sering melompat dari atas kursi atau meja sambil mengibarkan sarung yang dililitkan di leher, hehe…. 😆

Beruntung, besarnya rasa malu itulah yang mengubah paradigma berpikir saya tentang sejarah. Meski dalam Islam sendiri kedudukannya hanya sebagai fakta (bukan dalil ya?) tetapi ia mempunyai arti penting. Sejarah sesungguhnya tak hanya memberi informasi tentang masa lalu. Sekadar mengetahui kesalahan pendahulu kita sekaligus kunci keberhasilan mereka? Tidak!! Karena sesungguhnya, sejarah juga menyusun cara berpikir seseorang di masa kini dan menentukan langkah apa yang akan dia ambil di masa akan datang. Ia membentuk karakter kita.

Sosok seperti Muhammad Al Fatih bukan ada karena kebetulan semata. Namun ada proses yang dilewatinya. Ulama-ulama yang menjadi gurunya mengajarinya tentang Islam, menanamkan kecintaannya pada jihad fi sabilillah dan membangun karakternya melalui tokoh-tokoh Islam di masa lalu.

Sejarah menjadi topik favorit Muhammad Al Fatih selain bahasa. Dari sejarah beliau belajar tentang kepemimpinan, menganalisis peristiwa dan merancang strategi terbaik di masanya. Sosok Rasulullah SAW jelas menjadi teladan utama. Lalu jajaran para sahabat beliau yang tentunya memiliki banyak keutamaan. Tak luput pendahulu-pendahulu beliau yang telah merintis jalan penaklukan. Wajar jika akhirnya Al Fatih tumbuh menjadi negarawan hebat. Merealisasikan bisyarah penaklukan Konstantinopel sebagaimana sabda Rasulullah SAW ratusan tahun sebelumnya.

Saat ini kita hidup di era dimana Islam dimonsterisasi. Dan sejarah yang tertulis pun didominasi opini deislamisasi. Orang Turki sendiri misalnya bangga dengan sosok Muhammad Al Fatih. Namun mereka enggan mengakui bahwa kebrilianannya berasal dari pemahaman Islam yang sempurna.

Islam yang tak hanya sebatas shalat, puasa, zakat, haji, nikah, talak dan waris. Namun Islam yang dimanifestasikan dalam seluruh kehidupan manusia. Dalam kehidupan pribadi, sosial hingga bernegara. Islam sebagai sebuah way of life!

Tulisan ini diikutsertakan dalam Program One Day One Post Blogger Muslimah Indonesia

#ODOPOKT1

*ditulis sambil menikmati rasa haru setelah melewati satu tahap seleksi. Ya Rabb, mudahkanlah jalan hamba melewati seleksi lainnya. Aamiin… 😉

Facebooktwittergoogle_pluspinteresttumblrmail

10 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *