Teknologi bertambah maju. Dunia pun berubah. Dulu kalau ingin menyampaikan opini, kita harus mengirimkan tulisan ke berbagai media cetak. Entah itu koran atau majalah. Itu pun belum tentu dimuat! Kalau tidak memenuhi standar media yang dituju, tulisan kita pun berakhir disana.  Tapi sekarang, hanya berbekal gawai saja kita sudah bisa langsung membagikan opini. Baik melalui media sosial maupun blog. Saya sendiri tertarik ngeblog sejak “diracuni” oleh tulisan “seleb kampus” zaman kuliah dulu, wkwk… :lol

Saat membaca tulisan yang bergaya cuek tapi analoginya ngena banget itu, saya pun jatuh cinta. Saya sering menanti-nanti kapan tulisan berikutnya muncul? Tema konyol apa lagi yang ia angkat?? Fakta kekinian, analisis tajam dengan bahasa renyah, jadi deh bikin betah!  Rasanya jadi pengen juga bikin rumah maya, tempat mengeluarkan semua ide di kepala. Terutama ketika saya merasa juga punya banyak kisah ajaib saat menjalani tugas di daerah pedalaman. Anak manja yang terbiasa di kota, demikian keraguan Ama. Apakah anak gadisnya ini akan survive menghadapinya? 😉

Di hari-hari awal, tentu saja syok tak bisa dihindari! Biasa hidup di tengah kota dengan listrik selalu menyala, sementara listrik desa hanya tersedia sejak maghrib hingga pukul 12 malam. Di kecamatan sekalipun, listrik hanya menyala sejak maghrib hingga subuh. Itu pun diwarnai pemadaman bergilir setiap dua atau tiga malam sekali! Siangnya?? Listrik dipadamkan total kecuali di beberapa fasilitas pemerintah yang dekat dengan PLN.

Air?? Di desa menggunakan sumur yang seringkali kering di musim kemarau sehingga harus menghemat air. Sementara di kecamatan, air ledeng memang ada. Tapi mengalirnya senin-kamis sehingga masyarakat tak bisa terlalu mengharapkannya untuk memenuhi kebutuhan. Air ledeng utamanya hanya disimpan sebagai cadangan air minum dan memasak. Sementara untuk mandi dan mencuci, yaa…kudu pakai air sungai yang…ehm, begitulah adanya!

Mau ke kota? Jalur transportasi tercepat yaa melalui jalur sungai dengan menggunakan speedboat.  Kadang macet di wilayah tanpa sinyal sehingga kami mengapung berjam-jam di atas sungai. Pernah juga kejadian saat ramadhan. Sampai waktu berbuka tiba, bantuan belum datang. Padahal tak satupun penumpang yang membawa bekal. Maklumlah, ketika itu kami berangkat pukul 3 sore. Asumsi perjalanan dua jam maka pukul 5 sudah tiba di kabupaten. Apalah daya ternyata harus mengapung sampai lewat maghrib. Saya yang kebetulan membawa sebotol air mineral dan dua butir jeruk pun membaginya dengan penumpang lain. Mana kecutnya tuh jeruk bikin mereka bergidik pula! Untungnya bantuan datang menjelang isya. Namun ketika sampai rumah, jam pun sudah menunjukkan pukul 10 malam. Alhamdulillah yaa sesuatu bingits! Hehe…. 😉

Kadang juga kalau beruntung, sesekali kita bakal berpapasan dengan buaya. Ada satu jalur lintasan yang hanya dilewati saat air pasang namun penumpang dilarang keras menjulurkan tangan ke air. Lain waktu jika air surut, buaya-buaya itu kadang berjejer di pasir pinggir sungai. Ada yang besar juga kecil. Saat teman saya ikut, dia kaget melihatnya. “Tenang, mereka lagi berjemur aja…”, saya mengajaknya bercanda. Padahal sih dalam hati jeri juga melihatnya, wkwk…. 😆

Takut lewat air? Bisa kok jalur darat tapi harus melewati kabupaten lain dulu. Jadi deh total perjalanan itu 4 jam karena memutar. Mana jalanan yang dilalui bukan jalan tol ya? Tapi jalanan (yang harusnya sih beraspal), entah bagaimana hanya menyisakan batu-batunya saja. Memintas melalui jalan milik perusahaan sawit bisa juga. Tapi ya harus siap mental berjibaku dengan jalanan beceeek (gak ada ojek) yang ehm…menguji kesabaran sangatlah pokoknya! 😉

Menjawab keraguan Ama hanya dengan kata sungguh rasanya kurang berguna. Mungkin karena saya sendiri masih sering mengobral tanda tanya dalam menyelesaikan berbagai persoalan disana. Jika saya saja dipenuhi keraguan, apatah lagi orang lain!

Tak menunggu lama, saya membalik semua tanda tanya itu menjadi tanda seru! Bukan apakah saya akan bisa?? Tapi, saya pasti bisa!

Saya belajar menggantungkan harap dan pinta pada pemilik semesta ini saja. Belajar selalu berbaik sangka pada-Nya dalam berbagai keadaan. Belajar memanfaatkan setiap peluang demi memberi manfaat. Hei, bukankah Rasulullah SAW mengatakan bahwa sebaik-baik manusia adalah yang paling besar kemanfaatannya bagi sesama??

Saat itulah saya mulai ngeblog. Menyalurkan unek-unek. Membagi kisah. Banyak yang mengatakan, hijrah di tengah hiruk pikuk kota yang gemerlap itu godaannya besar! Pergaulan menjerumuskan! Fasilitas maksiat dimudahkan! Kalau nggak ikutan ntar dicap nggak gaul! Jadi bagaimana bisa istiqomah memegang Islam?? Dan berbagai alasanpun lalu dikemukakan.

Duhai teman, saat itu saya pengen bilang bahwa bukan kalian yang di kota saja yang sulit menjalankan syariat Allah. Kami yang di desa, daerah pinggiran, terpencil, pedalaman (atau apapun lah istilah yang biasa digunakan) ini pun merasakan kesulitan yang sama. Meski katanya disini belum terpapar banyak keburukan, tapi toh nyatanya hanya asumsi!

Kita saat ini hidup dikungkung sistem sekulerisme yang meniscayakan kebebasan sebagai agama. Mau menutup aurat atau tidak, ya itu hak asasi! Mau berzina atau tidak, itu hak asasi! Mau riba atau tidak, lagi-lagi hak asasi! Termasuk jika memilih murtad karena sekardus mie, itu pun bagian dari hak asasi!

Jadi, entah di kota atau di desa, semua ada ujiannya. Inilah yang ingin saya bagikan ketika pertama kali ngeblog. Saya ingin bercerita pada Ama dan orang terdekat saya bahwa ujian disana sangat besar. Tapi berkat mereka yang tak henti menyebut-nyebut nama saya dalam doa, penuh keyakinan akhirnya saya berkata, “Insya Allah, bisa!”.

 

*Ditulis sambil mengenang tanda seru-tanda seru di belakang kalimat positif yang selalu didengungkan di tengah segala keterbatasan… 😉

Facebooktwittergoogle_pluspinteresttumblrmail

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *