Hei…pernahkah kamu mendengar tentang Negeri Sakti? Jika belum, mari saya ceritakan sedikit. Maklumlah, baru-baru ini saya sedang doyan jalan-jalan. Jadi bawaannya pengen cerita tentang kesan-kesan pada sesuatu yang dilihat dan rasakan. Kok yaaa…kalau dipendam itu sayang pake bingits! Lagipula katanya, kalau nggak dikeluarin malah bisa jadi penyakit! Bahaya kan??

Adapun tentang Negeri Sakti ini, saya sudah mendengarnya sejak lama. Ama pernah mendongeng di masa kecil, “Nak, orang bilang negeri yang dipimpin trah para bangsawan itu banyak dzalim. Ia membedakan manusia berdasarkan darah yang sejatinya berwarna merah. Tapi tahukah kamu? Hakikat kekuasaan itu sama saja. Lihatlah Negeri Sakti…”

Lalu mengalirlah kisahnya. Bahwa pemimpin negerinya tak disebut raja namun presiden. Tapi kekuasaannya sama, tak mengenal batas dan waktu juga.

“Jadi bisa seumur hidup, Ma?”, tanya saya yang masih polos.

“Teorinya sih nggak bisa, Nak! Tapi namanya juga Negeri Sakti. Siapapun yang berkuasa, dia boleh bikin aturan. Dan aturan itu disetting seolah rakyatlah yang menginginkannya…”.Β Saya manggut-manggut padahal tak terlalu mengerti maksudnya.

Beberapa tahun kemudian, kami menyaksikan hal baru. Penguasa Negeri Sakti yang bak raja itu harus rela melepas kekuasaannya. Pada siapa??

“Wah, idola saya nih…”, pekik bahagia ketika itu.

“Nak, seorang idealis itu takkan bisa langgeng di puncak kekuasaan Negeri Sakti…”, sahut Ama.

“Kenapaaa??”, saya tak terima. Kecewa!

“Karena seorang idealis tak bisa selalu diajak berkompromi. Padahal lingkaran kekuasaan itu selalu dipenuhi orang-orang yang memperdagangkan kepentingan…”.

“Lalu apa hubungannya dengan langgengnya kekuasaan?”, saya masih tak mengerti.

“Yang menjadi orang nomor satu Negeri Sakti mungkin dia. Tapi yang mendudukkannya disana adalah pihak yang berbeda. Bagaimana dia bisa membayar balas jasa atas kursinya jika tak mau menuruti kepentingan dari pihak yang memberinya kedudukan?”.

Saya terhenyak.

“Benarkah?? Lalu hakekatnya siapa penguasa Negeri Sakti itu?”.

“Para pemilik modal. Para kapitalis. Merekalah yang memiliki akses kunci terhadap semua kebijakan strategis Negeri Sakti. Apa yang terjadi disana, semua dikontrol oleh mereka. Sementara yang duduk di kursi kekuasaan hanya bidak caturnya…”.

Duhai, saat itu saya seolah mendengar dongeng lain dari Ama. Biasanya yang diperdengarkan adalah kisah perseteruan ala Ken Arok-Ken Dedes saja. Kali ini versi Negeri Sakti.

Berpuluh tahun kemudian ketika dewasa, saya menyaksikan Negeri Sakti makinlah sakti! Konon banyak proyek-proyek sakti disana. Skandal keuangan terbesar yang ehm…terindikasi bermuara pada orang nomor satunya itu tak tersentuh hukum. Wuih, sakti kan??

Belum lagi skandal korupsi yang melibatkan orang-orang penting di lini atas kekuasaan. Dari pajak sampai KTP, tak satu pun yang mampu menyentuh pelakunya. Kalau pun ada yang dibuikan, mereka hanyalah martir. Pihak yang dikorbankan demi menenangkan keresahan masyarakat. Sakti kan??

Dan baru-baru ini, kesaktian negeri itu sepertinya makin canggih. Proyek perumahan mewah tanpa izin yang ehm…iklannya masih mendominasi media. Pembangunannya tetap berjalan meski izin belum dikantongi. Ngerinya lagi ketika mengetahui administrasi terkait lahan bisa selesai hanya dalam hitungan hari. Ah, coba administrasi tanah warisan Ama bisa semudah itu prosesnya. Saya pun berandai-andai mendapat perlakuan serupa. Fiuh, memang sakti kan??

Lalu ada juga proyek reklamasi yang seksi itu tuh! Terlihat sekali bagaimana seperti cerita Ama di masa kecil dulu, bahwa hakikatnya penguasa Negeri Sakti bukanlah pemilik negeri sesungguhnya. Ada para kapitalis. Para pemilik modal yang mengatur agar semua yang terjadi disana berjalan sesuai kepentingan mereka.

Dan yang paling mengecewakan adalah ketika mendengar bahwa orang nomor satu Negeri Sakti telah mengeluarkan Peraturan Pengganti Undang-undang. Isinya mengarah pada persekusi pada kelompok yang tak sepaham dengannya. Katanya kelompok itu meresahkan Negeri Sakti. Membuat genting keadaan. Faktanya, menurut para cerdik cendikia dan alim ulama, justru penguasalah yang memaksakan kegentingan itu. Ehm…kesimpulannya sederhana : jika rakyat Negeri Sakti berani menentang kepentingan Tuan yang mulia, maka siap-siaplah masuk bui!

Katanya sih disana diterapkan demokrasi tapi yaa…kalo rakyat berani demo dan dianggap saran dan masukan yang dibawanya ituΒ crazy (aka tak sejalan pendapatnya), yaa bui lagi lah pokok urusannya! Ngeri kan?? Eh, maksudnya sakti kan??

“Jadi Negeri Sakti itu makin parah yaa?”, komentar saya di suatu pagi ketika nonton berita bareng Ama. Di hadapan kami ada kopi panas yang asapnya masih mengepul. Di sampingnya ada pisang goreng jualan tetangga yang memang rasanya pas di lidah kami.

“Begitulah, Nak. Ketika yang berkuasa itu bukan orang hebat seperti Umar bin Khaththab…”.

“Ya, masalahnya pemimpin hebat selevel Umar bin Khaththab yang rela memikul gandum di bahunya sendiri demi umatnya itu hanya lahir dari rahim sistem Islam…”, gumam saya perlahan.

Kami pun menyeruput kopi pahit nikmat itu. Ah, Negeri Sakti memang melegenda saktinya. Sejak dulu hingga sekarang!

——————-

#ODOPOKT6

*Ditulis setelah menyaksikan berbagai kejadian sakti luar biasa di Negeri Sakti… πŸ˜‰

Facebooktwittergoogle_pluspinteresttumblrmail

16 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *