Baru-baru ini saya terheran dengan isi linimasa yang ramai membicarakan sendal jepit dan kaos oblong.  Kebanyakan sih tak menyebut label.  Hanya saja berbagai versi opini ala sendal jepit dan kaos oblong ini makin menjalarkan rasa penasaran!  Oke, fix!  Saya pun langsung nyambangin Mbah Google dan memasukkan kata kunci :  sendal jepit, kaos oblong, salah kostum, siapa?  Jeng jeng jeng…dan berbagai berita bermunculan!

Malam hampir larut, hujan turun lebat dengan suara petir sambat menyambar.  Lalu jleb!!  Listrik padam dan saya pun mengatakan, “Yaelah, ini toh?”.  Haha…maaf, takkan muncul makhluk aneh dalam cerita ini sebab genre-nya bukan horor!  Hanya saja menyadari kekurang update-an terhadap kejadian dahsyat ini membuat saya menyadari sesuatu.  Di era sosmed dimana informasi tersebar cepat, hanya media resmi atau pihak tertentu yang “you know who” lah yang menyebut label.  Pssstt…mungkin netizen waspada terhadap kinerja tim siber yang konon sangat aktif mengawasi jagad persilatan dunia maya itu.  Salah dikit bisa-bisa kena setrap.  Ah, syudahlah!

Opini yang ditulis oleh Hersubeno Arief bertajuk “Sendal Jepit dan Kaos Oblong Pak Presiden” yang diterbitkan oleh Jurnas.com pada rabu (3/1/18) kemaren menurut saya pribadi sangatlah menarik.  Mengapa Mr. President memakai kaos oblong di acara resmi?  Asumsi pertama yang mengarah pada upaya mendobrak tradisi bahkan mendekonstruksi kesakralan lembaga kepresidenan terlihat lemah di mata mayoritas netizen.  Yang terlihat nyata justru asumsi kedua terkait dengan gagalnya pencitraan akibat ketidaktepatan memilih poin diferensiasi (nilai yang membedakannya) di mata konstituen.

Ajang Pilpres makin mendekat.  Dan masa-masa ini merupakan keadaan genting  bagi para kandidat sehingga mereka mulai bergerilya demi meraup suara.  Umum diketahui bahwa ongkos politik di alam demokrasi sangatlah mahal.  Tak mengherankan jika pada akhirnya politisi di negeri ini kebanyakan berasal dari kalangan pengusaha yang memang menguasai sumber daya (bermodal)!  Atau jika pun tidak, dia termasuk tokoh yang mampu menghadirkan pihak ketiga untuk meng-endorse program-program politiknya.

Mungkin banyak yang masih mengingat kekalahan JK di Pilpres tahun 2009.  Saudagar asal Bugis yang saat ini memegang tampuk RI-2 mengaku telah menghabiskan biaya Rp. 120 milyar.  Wow!!  Jika diperkirakan biaya naik sepuluh kali lipat pada pilpres yang membuatnya naik ke kursi kekuasaan kemaren, lalu pertanyaannya…sefantastis apa angka yang akan muncul pada pilpres mendatang?

Political Branding of Sendal Jepit

Dewasa ini kita hidup di era politik abad informasi.  Media massa menjadi salah satu unsur paling mempengaruhi opini publik dan perilaku masyarakat.  Kesaktiannya menyebarkan informasi serentak secara cepat ke berbagai level mengatasi ruang dan waktu.  Faktor strategis inilah yang membuat partai politik dan kadernya giat membangun komunikasi politik di berbagai media massa.

Selain itu, politik sebagai sebuah komoditas meniscayakan agar partai maupun politisinya membangun citra positif demi mendapat dukungan khalayak.  Maka bertumbuhanlah konsultan-konsultan politik bak jamur di musim hujan.  Merekalah yang memoles citra partai dan politisi demi memperoleh suara.  Kita mengenal tagline “Lanjutkan!”, “Lebih cepat lebih baik” atau “Merakyat” itu darimana jika bukan bagian dari branding politik?

“Branding menjadi kebutuhan utama kampanye, karena bisa menciptakan kampanye yang berbeda dengan yang lain, serta efisien dalam penggunaan tools ataupun dana”, ujar Silih Agung Wisesa, penulis buku Political Branding & Public Relation.  Menurutnya Political Branding itu adalah bagaimana melakukan branding sebuah aktivitas politik, baik dalam konteks partai ataupun konteks politik.  “Branding membantu politisi atau partai menentukan positioning yang tepat untuk konstituen mereka, termasuk dalam hal kampanye dan melakukan engagement,” terangnya.

Munculnya sendal jepit dan kaos oblong ke tengah kancah perpolitikan tanah air ini menunjukkan bahwa pemoles citra Mr. President belum melakukan re-branding!  Citra “sederhana” (yang dilekatkan sejak pilpres lalu itu) masih ingin dipertahankan.  Padahal citra tersebut sepertinya tak lagi mengetuk emosi masyarakat.

Menarik jika mengamati pendapat Khalid Zabidi, seorang pengajar Komunikasi Visual Universitas Paramadina dan Peneliti The Independent Society, terkait kesalahan dalam proses branding politik saat ini. Pertama, kekeliruan memahami konsep branding dan personal identity, kedua: ketidakcocokan antara political branding dengan karakter diri, ketiga; political branding yang berubah-ubah mengikuti keinginan khalayak yang hendak dituju demi perolehan suara.

Saya sendiri takkan bicara tentang etika berbusana versi kalangan kontra atau nilai-nilai moral yang terkandung dalam pencitraannya versi kalangan pro.  Sebagai muslim, saya melihat fenomena ini merupakan buah demokrasi yang kita tanam sendiri.  Politik sebagai komoditas membuat kita banyak melakukan jual beli daripada bicara kemaslahatan ummat.  Lihatlah, berapa banyak politisi yang ketika telah naik ke tampuk kekuasaan kemudian mengabaikan tanggungjawabnya terhadap konstituen?

Dicari :  Pemimpin Yang Memikul Sekarung Gandum!

Saat ini jika sudah bicara politik Islam cenderung dipersekusi.  Politik Islam sebagai sebuah kajian intelektual pun “diharamkan”.  Padahal jika kita mau sedikit menengok ke belakang, pemimpin hebat hanya lahir dalam sistem politik Islam.  Sejarah menuliskannya.  Seorang Umar bin Khaththab RA yang menggantikan sahabat-sahabatnya menjadi pemimpin kaum muslim itu sungguh luar biasa!

Suatu ketika di masa pemerintahannya terjadi paceklik.  Hujan tak turun.  Pepohonan mengering.  Binatang ternak banyak mati.  Bahkan tanah tempat berpijak menghitam bagai Abu sehingga tahun itu disebut tahun Abu.  Dalam kondisi demikian, kesulitan pun mendera dimana-mana.  Saat itulah Umar tampil sebagai pemimpin sesungguhnya.  Ia menabukan makan daging, minyak samin dan susu bagi perutnya sendiri.  Sedikit roti dan minyak zaitun sudah dianggapnya cukup.  Jika perutnya terasa pedih, terkadang ditepuk perutnya dengan jari lalu ia berkata, “Berkeronconglah sesukamu dan kau akan tetap menjumpai minyak sampai rakyatku kenyang dan hidup dengan wajar!”.

Suatu malam beliau bersama Aslam blusukan ke kampung terpencil dan terdengar tangisan anak-anak disana.  Bukan tersebab sakit namun lapar.  Umar yang memperhatikan si ibu memasak itu pun terheran, mengapa makanan yang diaduk dalam panci tak jua disajikan??  Oke, ending kisah ini mungkin kamu sudah tahu!  Si ibu yang memasak batu mana tega menyuruh si anak memakannya.  Ia berharap anaknya segera kelelahan lalu tertidur saja sehingga lupa rasa laparnya.

Pertanyaan “kok bisa?” yang diajukan Umar pun dijawab dengan polos bahwa itulah dosa pemimpinnya yang tak mau melihat ke bawah, apakah kesulitan rakyatnya telah teratasi atau belum!  “Sungguh Umar bin Khaththab tidak pantas jadi pemimpin. Ia tidak mampu menjamin kebutuhan rakyatnya”, ujar si ibu.

Mendengarnya, Aslam ingin menegur namun justru dicegah Umar.  Beliau segera bangkit dan mengajak Aslam pulang ke Madinah lalu kembali lagi dengan memikul sekarung gandum.  Saat beliau terlihat keletihan, Aslam berkata, “Wahai Amirul Mukminin, biarlah saya yang memikul karung itu…”.

Dengan wajah merah padam, Umar menjawab, “Jangan jerumuskan aku ke dalam neraka. Engkau ingin menggantikan aku memikul beban ini, apakah kau kira akan mau memikul beban di pundakku ini di hari pembalasan kelak?”.  Dan Aslam pun tertunduk.

Terseok-seoknya Khalifah Umar bin Khaththab RA yang memikul karung gandum menuju ke tempat wanita dan anak-anaknya yang sedang kelaparan itu tentu bukan pencitraan.  Demikianlah karakter asli pemimpin yang lahir dalam sistem Islam.  Menjadi pemimpin berarti mengemban amanah besar sejumlah umatnya.  Jika ada yang merasa terdzalimi di bawah kekuasaannya maka hisab di hadapan Allah SWT sangatlah berat.  Tak heran saat kecemasan kian tebal, dengan hati gentar, lidah kelu Umar senantiasa berujar, “Ya Allah, jangan sampai umat Muhammad menemui kehancuran di tangan ini”.

Penutup

Bagaimana pun masyarakat zaman now berbeda dengan masyarakat lampau.  Kebanyakan telah melek politik dan paham bahwa kemasan produk bisa jadi tak seindah isinya.  Citra hanyalah bungkus yang didesain sesuai selera konsumen.  Upaya membaca kecenderungan konsumen jika tak jeli dilakukan tentu akan membuat partai politik dan politisi mengalami kegagalan.

Tulisan ini tentunya bukan dalam rangka memberi saran agar Mr. President melakukan re-branding sebagaimana JK yang akhirnya menemani beliau ke tampuk kekuasaan di pilpres lalu atau Tony Blair yang konon sukses memperbaiki citra partai buruh berkat memperbaharui citra dirinya.  Yaelah, siapa saya berani ngasih saran?!

Tapi sebagai rakyat yang suara saya diperhitungkan (ehm…tentu saja dalam konteks jelang pilpres), saya cuma mau bilang, “Tren pasar sudah berubah.  Kami ingin pemimpin yang menerapkan syariat Islam!”.  Udah, gitu aja!

 

#ODOP Day 4 of 30

*Ditulis sambil menahan dinginnya hari.  Lalu rindu pun menyeruak.  Rindu pada pemimpin yang memikul sekarung gandum! 😉

Facebooktwittergoogle_pluspinteresttumblrmail

17 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *