Mengintip Orang Utan di Habitat Aslinya

Seperti Alice yang menemui hal-hal menarik saat memasuki Wonderland, pengunjung Taman Nasional Tanjung Puting pun akan mengalami hal serupa.  Inilah sebabnya, aktris sekaliber Julia Roberts pun menginjakkan kaki kemari, bahkan jauh sebelum ia terlibat dalam film Eat, Pray and Love di Bali.  Tahun 1992 aktris yang juga populer lewat film Pretty Woman itu mengunjungi Taman Nasional Tanjung Puting, bahkan membuat film dokumenter yang semakin mempopulerkan destinasi wisata ini di mata dunia.

Saat wisatawan asing beramai-ramai kemari ingin menyaksikan primata langka yaitu Orang Utan di habitat aslinya ini, saya seperti sebagian penduduk asli Kalimantan Tengah lainnya malah belum pernah menginjakkan kaki kesana.  Dan saya merasa malu!  Terlebih saat menyadari fenomena seringnya saya bertualang ke kota lain dan melupakan keindahan daerah sendiri.  Itulah yang menyebabkan saya memutuskan salah satu destinasi yang dikunjungi tahun ini adalah Taman Nasional Tanjung Puting.  Yep, saya adalah wisatawan lokal!

Kesempatan berkunjung tiba saat menemukan tanggal merah di Kalender pada hari sabtu, minggu dan senin di bulan April.  Saya pun segera menghubungi agen perjalanan melalui akun instagram yang memang sudah lama diikuti.  Agen pertama ternyata hanya menyediakan kunjungan yang sifatnya private sehingga saya tak bisa bergabung bersama mereka.  Beruntungnya, agen kedua yang saya hubungi menyediakan open trip untuk pengunjung non rombongan.  Maka saya pun mendaftar sebagai peserta open trip satu hari dengan tujuan utama adalah Camp Leakey.  Oke, berangkat!

Pagi itu cuaca dingin menggigit karena semalaman kota Pangkalan Bun diguyur hujan lebat.  Untunglah hujan itu berhenti sekitar jam enam pagi sehingga saya bisa berangkat menggunakan sepeda motor dari rumah.  Perjalanan Pangkalan Bun – Kumai hanya memakan waktu sekitar tiga puluh menit.  Sesuai arahan Mbak Desy selaku tour guide, saya tiba di pelabuhan pariwisata pada pukul 07.30 WIB, mengikuti briefing bersama peserta lain disana lalu berangkat pada pukul 08.00 WIB menggunakan kelotok.  Sejenis kapal atau perahu bermotor yang menggunakan mesin diesel dan biasanya saat berjalan mengeluarkan bunyi tok tok tok.  Itulah sebabnya mengapa disebut kelotok.

Untuk menuju ke Taman Nasional Tanjung Puting, kami harus menyusuri laut kemudian masuk ke Sungai Sekonyer.  Perjalanan biasanya membutuhkan waktu sekitar 4 jam.  Namun karena hari itu kami menggunakan kelotok yang agak lambat, tour guide memperkirakan waktu perjalanan pun bertambah 30 menit sehingga total perjalanan berangkat adalah 4,5 jam.  Hmmm…waktu yang cukup lama bukan?

Tapi jangan dibayangkan perjalanan ini akan membosankan.  Berada di atas kelotok dengan cuaca yang mulai menghangat, ditiup angin sepoi-sepoi dan disuguhi pemandangan hijau dedaunan akan terasa nikmat.  Di awal perjalanan, kita akan disuguhi pemandangan laut dengan separuh kota Kumai di sebelah kanan dan pohon-pohon nipah di sebelah kiri.  Begitu masuk ke muara sungai, nipah-nipah itulah pemandangan utama di kiri kanannya.  Masuk ke dalam lagi kita pun dimanjakan pemandangan sungai yang dikelilingi pohon-pohon tinggi berikut faunanya.  Jangkrik hutan yang bersahutan, burung-burung bercericit seolah berlomba dengan suara kelotok kemudian berpadu decak kagum kami.

foto diambil dari instagram @tylermcave

Taman Nasional Tanjung Puting dan Camp Leakey identik dengan rehabilitasi Orang Utan, Konservasi dan Pusat Penelitian.  Berdiri di atas lahan seluas 45.907 Ha, Camp Leakey  ini sejarahnya takkan pernah bisa dipisahkan dengan Dr. Birute Galdikas, seorang ahli primatologi, aktivis pelestarian alam dan penulis beberapa buku bertema ancaman terhadap kepunahan Orang Utan.  Di usia 25 tahun, ia dan Rod Brindamour, seorang fotografer yang saat itu menjadi suaminya, memulai upaya penelitian terhadap primata kalimantan ini.  Membayangkan Camp Leakey yang berdekatan dengan laut Jawa pada tahun 1971 ini pastilah butuh mental baja bagi orang-orang yang terbiasa hidup di kota.  Menembus belantara yang masih perawan, menemukan berbagai serangga pemakan daging serta lintah penghisap darah.  Namun perempuan berkebangsaan Kanada yang saat ini telah berusia 71 tahun itu, selama puluhan tahun hingga sekarang masih tetap bersemangat melakukan penelitian dan terlibat advokasi serta rehabilitasi Orang Utan di Kawasan Taman Nasional Tanjung Puting ini.

Camp Leakey sendiri diambil dari nama profesor pembimbingnya di Universitas Colombia yaitu Louis Leakey, seorang Paleo-antropolog dan Arkelog dari Kenya.  Louis Leakey dan National Geographic Society-lah yang membantu Dr. Birute mendirikan perkemahan untuk melakukan riset awal di Kalimantan dengan tujuan mempelajari Orang Utan.  Hingga saat ini kita bisa menikmati hasil penelitiannya selama puluhan tahun itu dalam buku-buku Dr. Birute Galdikas.

Saya sendiri sebenarnya sudah lama tertarik dengan Tanjung Puting.  Maklumlah, salah satu goals saya saat kuliah dulu adalah menjadi aktivis Mahasiswa Pecinta Alam.  Qadarullah, saya malah nyemplung di Lembaga Dakwah Kampus.  Tapi ketertarikan saya terhadap alam masih sama besarnya.  Sebesar rasa penasaran pada Dr. Birute Galdikas yang digelari salah satu dari “Trio Bidadari Leakey”, sebutan untuk murid wanita Louis Leakey yang mempelajari ilmu primata di dunia.

Sepanjang perjalanan, Mas Arief, selaku tour guide menemani kami dengan cerita seputar daerah konservasi Orang Utan terbesar dunia dengan populasi lebih dari 3000 orang utan ini.  Misalnya saat melintasi Desa Sekonyer yang fenomenal akibat mahalnya biaya terhadap akses transportasi itu.  Kami disuguhi sekilas info berapa keluarga yang tinggal disana, sekolah, mata pencaharian penduduk, transportasi, adat kebiasaan yang mereka lakukan serta partisipasi mereka dalam rehabilitasi dan perlindungan satwa di kawasan taman nasional.  Ia terkadang menyapa beberapa penduduk yang sedang berada di pelabuhan desa itu dengan akrab.

Kelotok yang terdiri dari dua lantai itu hampir selalu dipenuhi suara riuh rendah penumpangnya.  Rombongan ibu-ibu sosialita terlihat sibuk berfoto-foto dengan berbagai macam pose di belakang sana.  Mereka tak ingin melewatkan pemandangan Sungai Sekonyer yang menawan itu.  Bapak-bapak juga duduk berkelompok, bercerita tentang perjalanan mereka dari daerah asal hingga kondisi terakhir disana.  Anak-anak muda pun bergerombol sendiri, mendengarkan musik, ngemil dan berbagi canda dengan sesama.  Nah, yang paling heboh tentu anak-anak dan balita.  Mereka bermain dengan teman sebayanya dan menumpuk di sekitar saya.  Meskipun tentu saja, ehmmm…saya bukan teman sebaya mereka, hehe….

Kebetulan saja saat itu saya duduk di geladak depan yang terkadang dicurahi panas matahari karena kelotok bergerak mengikuti alur sungai.  Meskipun banyak yang menjauhinya, saya malah tak beranjak meninggalkan karena merasa sayang melewatkan pemandangan di hadapan.  Biarlah merelakan kulit sedikit terbakar namun mata ini rasanya puas merekam.  Dan anak-anak itupun mungkin merasa menemukan teman senasib berdasar hukum keingintahuan yang tinggi tentang apa yang akan ditemui di depan.

Kami sampai di lokasi Camp Leakey sekitar pukul 13.00 WIB, bertambah 30 menit dari asumsi saya karena ternyata kami merapat sebentar di tepi sungai untuk makan siang.  Menu yang nikmat ditambah pemandangan asri membuat kami lupa dengan segala aturan diet, hehe….  Terlebih saat kami menyadari begitu sampai di pelabuhan Camp Leakey, kami akan berjalan kaki lagi sejauh 2 km.  300 meter pertama kami berjalan melewati jembatan dari kayu ulin.  Di bawah jembatan terlihat akar-akar pohon diselimuti air dari tanah gambut berwarna merah.  Setelah melewati gapura Camp Leakey, kami mulai memasuki jalur trekking.  Saya bersyukur sudah diingatkan oleh Mbak Desy sejak awal agar memakai alas kaki yang nyaman.  Jalur trekking-nya sendiri tidak sulit, anak-anak bahkan bisa berjalan sendiri.  Karena banyak juga anggota rombongan kami yang pergi bersama keluarga dan membawa balita.

Jembatan Ulin di Camp Leakey

Dan saat yang kami tunggu pun datang.  Beberapa Orang Utan terlihat bergelantungan di atas pohon.  Yang pertama kami temui sepertinya masih remaja karena badannya tak terlalu besar.  Lalu ada juga induk Orang Utan yang sedang menggendong anaknya dan bergelayutan di satu cabang pohon lalu berpindah ke cabang pohon lainnya.  Pemandangan itu sontak membuat anak-anak berteriak gembira dan lupa peringatan tour guide kami saat briefing di awal agar tak menimbulkan kebisingan.  Tinggallah orangtua mereka yang sibuk menenangkan sementara saya pun sibuk mengabadikan dalam lensa kamera.

Tour guide kemudian mengarahkan kami agar melanjutkan perjalanan sehingga bisa sampai tepat waktu saat Ranger memberi makan tambahan.  Program Feeding yang dilakukan di areal Camp Leakey ini merupakan salah satu aktivitas rutin rehabilitasi Orang Utan.  Uniknya, aktivitas inilah yang menjadi daya tarik utama pengunjung ketika berada di Camp Leakey.  Melihat Orang Utan yang berdatangan dari atas pohon menuju platform feeding yang telah disediakan makanan tambahan itu.  Kebetulan saat kesana sedang high season karena memang jadwal libur sehingga pengunjung pun padat.  Sebelum kami datang, telah ada satu kelotok yang merapat.  Ditambah kami lagi yang berjumlah 40 orang, populasi pengunjung pun membludak dua kali lipat.

Para Ranger mulai mengeluarkan suara panggilan saat makanan tambahan Orang Utan telah ditaruh di atas platform feeding.  Satu per satu mereka muncul dari dalam hutan.  Ada yang kecil, juga besar.  Beberapa kali para Ranger memperingatkan agar kami tak membuat keributan.  Namun saat Orang Utan tersebut datang, anak-anak kembali berteriak nyaring.  Puncaknya ketika ada orang utan yang sengaja turun diantara tempat duduk kami yang letaknya persis di depan platformRanger dengan tangkas memberi perintah agar pengunjung tak panik dan memberi jalan.  Beruntung pengunjung patuh dan Orang Utan tersebut pun melenggang menuju platform dengan aman.  Uniknya, hewan-hewan lain semisal monyet kecil juga ikut ke dalam barisan.  Dan mengantri!  Saat yang besar datang, mereka tak berani mendekat.  Saat yang besar memberi kesempatan, mereka segera memanfaatkan waktunya mengambil makanan.  Begitulah seterusnya bergantian.

Platform Feeding di Camp Leakey

Sayangnya, kami hanya bisa mengamati momen ini sekitar 30 menit karena ternyata hujan tiba-tiba turun.  Pengunjung sibuk menyelamatkan barang-barang terutama kamera dari guruyan air.  Saya sendiri, Alhamdulillah telah bersiap dengan jas hujan sesuai arahan tour guide.  Namun apalah daya jas plastik di tengah lebatnya hujan hari itu.  Kami pun harus rela pulang berjalan kaki sejauh 2 km dalam keadaan basah kuyup.  Anak-anak dibungkus jas hujan, digendong Ibu Ayahnya dan mulai jalan berbalapan ke pelabuhan.  Sementara yang tak punya gendongan seperti kami, justru menikmati momen hujan ini dengan cerita, tawa hingga nekad berfoto di bawah air hujan.

Sampai di pelabuhan kami pun langsung ngantri masuk kelotok.  Air hujan membuat lantai kelotok agak licin namun kami semua bisa mengatasinya.  Tinggal mengganti pakaian yang basah dengan pakaian baru yang memang telah disiapkan seperti saran tour guide.  Kelotok kami hari itu dilengkapi dua toilet yang cukup nyaman di buritannya.  Hei, disana juga tersedia tempat istirahat juga lho di geladak bawah.  Saya ikut mengeksplorasi kesana dan menggunakannya saat shalat.  Ada dapur juga yang langsung saya datangi saat tubuh sudah terbungkus jilbab dan khimar kering.  “Teh atau kopi?”, tanya Mbak Desy.  “Teh aja, Mbak”, saya menyahutinya sambil tersenyum.  Begitulah kemudian saya membawa segelas teh panas dan donat lalu kembali duduk dan bergabung dengan penumpang lain di geladak atas.  Suasana dingin namun perbincangan kami menghangat saat mengulang pengalaman masing-masing dan merangkainya menjadi sebuah cerita utuh.

Begitulah kami menikmati ciptaan Allah SWT di bumi Kalimantan hari itu.  Perjalanan panjang 10 jam pulang pergi harus ditempuh hanya demi 30 menit melihat fauna langka yang cuma ada di pulau ini dan Sumatera.  Namun bagi saya pribadi, 30 menit itu bukanlah yang paling berharga.  Saya senang bertemu teman baru dan mendapat pengalaman baru.  Banyak cerita yang saya bawa dari sana termasuk pengalaman hidup beberapa orang yang bisa menjadi inspirasi.

Kelotok kamipun melaju perlahan.  Aroma teh manis pekat dan sepotong donat cokelat berpadu pemandangan hutan diiringi gerimis sore itu.  Hmmm…syahdu.  Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?

Gambar diambil dari akun IG @lienasatsuki

Seperti Alice yang terheran-heran bertemu dengan berbagai rupa hal di Wonderland dan tertantang untuk kembali mengulang, saya pun merasakannya.  Bagaimana denganmu?  Beranikah kamu turut bertualang mengikuti jejak Pretty Woman sekelas Julia Roberts di Magnificent Land bernama Kalimantan kami ini?

*Ditulis setelah mengkhatamkan buku Travel Writer-nya Yudasmoro.  Udah coba dipraktekkin isinya nih ya Ummu Harits Ghazi?  Semoga nampaklah pengaruhnya hadiahmu itu, hehe…^_^

Facebooktwittergoogle_pluspinteresttumblrmail

8 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *