Setiap keluarga punya kebiasaan-kebiasaan unik jelang ramadhan dan lebaran. Saya pun demikian. Mama’ selalu menyediakan kurma, buah dan es sirup sebagai makanan pembuka. Kadang membuat berbagai jenis bubur atau kolak pisang dan labu. Tambah lagi hidangan utama yang beragam. Kebanyakan makanan favorit kami yang beliau masak bergilir. Dulu pernah saya tanya apakah beliau tak lelah memasak sebanyak itu? Pertanyaan ini terlontar sebab sadar tak banyak membantu beliau di dapur. Kala itu beliau mengaku kelelahan tapi juga menyatakan bahwa itulah kewajibannya. Subhanallah, luar biasa yaa sosok ibu itu?

Nah, jelang lebaran lain lagi. Itu saatnya saya yang lebih banyak bereksperimen di dapur. Entah bagaimana, sejak kecil Mama’ dan Ama membolehkan saya bermain tepung jika ramadhan tiba. Sejak itu, saya suka sekali membuat cookies berbagai jenis. Biasanya setiap tahun, ada saja alat baru yang mereka belikan sehingga saya makin senang menguji coba resep. Yah, meskipun hasilnya terkadang tak selalu enak, hehe…. 🙂

Tapi ramadhan kami kali ini berbeda dari yang lalu. Saya meminta Mama’ hanya memasak seperlunya saja seperti hari-hari biasa. Tak ada es sirup dan kurma meski buah tetap selalu ada. Tak ada bubur favorit mereka apatah lagi kue-kue manis nan menggugah selera seperti ramadhan biasanya. Sebagai penggemar kue bingka, kami memecah rekor tak menyantapnya. Gorengan dan kue-kue lain pun tak ada. Alhamdulillah, kami cukup puas berbuka dengan air kelapa muda tanpa gula dan buah-buahan yang banyak mengandung air seperti nanas, semangka dan melon.

Jelang lebaran pun kurang lebih sama. Tentu saja saya masih bereksperimen di dapur. Namun hanya sekedarnya. Saya memilih diantara semua kue yang bisa diolah, mana yang paling bisa dinikmati bersama? Ama, Mama, saudara laki-laki serta keponakan lebih suka putri salju. Saya sendiri lebih suka kue semprit dengan banyak keju, lidah kucing dan nastar. Maka saya putuskan hanya membuat dua, putri salju dan nastar. Sudah saya pisahkan mana yang akan dinikmati tamu dan mana yang akan dibawa pulang para keponakan. Oh iya, tentu saja ditambah kue bolu di malam lebaran.

Kenapa memilih berbeda? Pertama, saya memang sedang mencoba mengubah kebiasaan makan. Kami harus segera move on dari vonis dokter. Dan itu tidak mudah. Perlu kesabaran, terlebih di bulan ramadhan dimana godaan makanan terasa luar biasa. Coba lihat, berapa banyak makanan enak dijual di luar sana? Ah, sepanjang jalan pulang dari kantor terkadang saya harus meneguk liur beberapa kali. *Ups…yang ini nggak usah sambil dibayangin yaa? 😆

Kedua, saya merasa tersindir dengan sebuah film pendek yang dibuat oleh salah satu badan amal. Bukankah ramadhan itu hakikatnya menahan hawa nafsu? Tapi nyatanya, setelah seharian ditahan ketika berbuka malah dilepaskan. Ketika melihat berbagai jenis makanan, sejatinya kita hanya lapar mata sehingga membeli semuanya. Padahal perut tak selalu cukup menampungnya. Disisi lain, masih banyak saudara-saudara kita yang lebih membutuhkan. Demikian kurang lebih isinya. Lagi dan lagi. Saya memutar video bersponsor yang tanpa sengaja muncul ketika membuka instagram itu. Terlebih jika dibandingkan dengan ramadhan yang dialami warga Palestina. Ah, hati pun tertohok.

Ya. Kenapa kita tak fokus pada ibadahnya saja? Bukankah kita berdoa ketika melihat hilal, “Ya Allah, mohon hadirkan awal romadhon kepada kami dengan penuh ketentraman, kekuatan iman (semangat ibadah), sehat, dan selamat.” (HR. Tirmidzi)

Sejak awal ramadhan kita sadar bahwa inilah bulan dimana Allah SWT menyediakan banyak pahala dan ampunan. Jadi tak perlu terlalu menyibukkan diri dengan menu makanan dan peganan lebaran. Secukupnya. Semampunya. Yang penting berkah ramadhannya. Bukankah dulu, para ulama salaf jauh-jauh hari sebelum datangnya bulan ramadhan senantiasa berdoa kepada Allah SWT agar mereka mencapai bulan yang mulia ini, karena mencapai bulan ini merupakan nikmat yang besar bagi orang-orang yang dianugerahi taufik oleh-Nya.

Mu’alla bin al-Fadhl berkata, “Dulunya (para salaf) berdoa kepada Allah Ta’ala (selama) enam bulan agar Allah mempertemukan mereka dengan bulan Ramadhan, kemudian mereka berdoa kepada-Nya (selama) enam bulan (berikutnya) agar Dia menerima (amal-amal shaleh) yang mereka (kerjakan)”. (Dinukil oleh imam Ibnu Rajab al-Hambali dalam kitab “Latha-iful ma’aarif” hal. 174)

Alhamdulillah. Ramadhan telah sampai ke penghujung. Semoga segala lelah kita lillah. Semoga Allah SWT mengampuni dosa-dosa serta menerima semua amal ibadah kita. Semoga pengakhiran hidup kita dalam keadaan husnul khatimah. Semoga kelak pula kita mendapatkan syurga yang dijanjikan-Nya. Aamiin.

*Ditulis bukan dalam rangka mengkritik siapapun. Hanya ingin bercerita tentang dampak iklan luar biasa di awal ramadhan kemaren bagi saya dan keluarga. Semoga yang membuatnya diberi Allah SWT keberkahan atas dakwahnya yang telah mengingatkan sesama… 😉

Facebooktwittergoogle_pluspinteresttumblrmail

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *