Duduk di depan notebook. 1 menit, 2 menit. Krik krik krik. Masih belum menemukan ide juga. Atau sudah nulis 1 paragraf, hapus. Nambah 1 kalimat, bingung nerusin! Atau lagi…pas tulisan udah jadi, eh…malah hati ragu buat posting. Pernah ngalamin yang beginian?

Kalau begitu masalah kita sama! FB jamuran, blog debuan. Padahal awalnya saya suka menulis. Menulis dulunya menjadi semacam rekreasi. Hiburan. Tapi sejak diberi beban semacam tuntutan genre atau tema tertentu yang jika boleh jujur tak diminati, saya pun enggan menggerakkan jemari.

Tapi sepertinya saya tak bisa menghindar lama-lama. Amanah sebagai humas skpd mengharuskan profesional mengelola media. Dan…lagi-lagi memproduksi tulisan! Maka buku Free Writing yang ditulis Hernowo Hasim ini pun menjadi sebuah kebutuhan. Tergelitik dengan godaan kalimatnya tentang menulis yang mendatangkan kebahagiaan, padahal dalam prosesnya lebih sering mendatangkan tekanan. (Ini mah curhatan…😂) Maka buku setebal 216 halaman ini pun dibaca pelan penuh penghayatan.

Bagian yang paling saya suka di bab model latihan free writing : proses memadukan pengetahuan, keterampilan dan hasrat. Dibuka dengan quotes Aristoteles, “Kita adalah apa yang kita lakukan secara berulang-ulang. Keunggulan bukanlah perbuatan sekali jadi, melainkan sebuah kebiasaan”. Penulis kemudian menekankan lagi dengan, “Kunci keberhasilan berlatih free writing ada pada pembiasaan. Artinya, latihan-latihan free writing baru akan memberikan dampak yang signifikan pada peningkatan kemampuan menulis jika kita sudah menjalankannya dalam waktu yang cukup lama. Itu pun masih ditambah dengan hal-hal berikut ini : dilakukan secara teratur, terus-menerus dan konsisten”.

Ya, yang kita perlukan tak cukup hanya bakat. Tapi juga kegigihan. Buku ini memberi kita sudut pandang berbeda sehingga menulis tak membuat kita terkekang namun justru terbebaskan. Model latihan free writingnya membuat kita terdorong mempraktekkannya sendiri. Segera!

Oh iya, penulis juga menekankan, jika ingin menuliskan sesuatu yang “bermakna” maka kita pun harus “mengikat makna” dengan banyak membaca. Lalu mengendapkannya dalam benak kita. Sehingga ketika keluar lagi dalam bentuk kata dan kalimat, ia pun jadi cermin pikiran diri.

Ya, apalagi yang lebih membahagiakan dibanding menuliskan pikiran sendiri tanpa tuntutan genre? Kecintaan pada aktivitas menulislah yang membuat kita menggerakkan jemari setiap hari. Dan nanti, ketika keterampilan menulis telah tumbuh, kita bebas mengarahkannya entah jadi cerpen, puisi, esai, artikel koran, novel atau brosur iklan.

“Sekadar menulis pun sudah surga” (Natalie Goldberg)

 

Selamat membaca dan mengikat makna…😁

 

Judul buku : Free Writing

Penulis : Hernowo Hasim

Penerbit : B first (PT. Bentang Pustaka)

Cetakan pertama november 2017

Peresensi : Sinta

 

#resensi 28 Maret 2019 untuk komunitas Baca Yuk!

Facebooktwittergoogle_pluspinteresttumblrmail

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *