Meski tak semua lentera menyala, namun pendar indah itu tetap ada. Seperti kita manusia. Tak ada yang sempurna!

Belakangan ini Reva terlihat mengerikan.  Suasana hatinya mirip cuaca yang tak bisa diprediksi.  Terkadang panas.  Lalu tiba-tiba mendung bahkan muncul badai petir.  Nanti sebentar berhenti, cerah.  Kemudian entah bagaimana kembali menggerimis.  Orang-orang di sekitarnya tak tahu penyebabnya apa.  Mereka bingung.  Enggan pula untuk bertanya.  Kenapa??  Reva galak!

“Mau kemana?”, Rendi, abang Reva bertanya saat melihatnya mengepak barang di tas kecilnya yang biasa dipakai saat bepergian itu.

“Ke Yogya!”, jawabnya singkat.  Tanpa menatap abangnya, ia terus saja memilah barang.

“Kapan?”, tanya Rendi lagi.

“Sore nanti jam limaan”, jawab Reva masih dengan nada datar.

“Hah??  Ada acara apa?”, Rendi terus memburu tanya.

“Mau menggalau kesana!”, lagi-lagi Reva menjawab tanpa mengalihkan perhatian pada aktivitasnya.  Sisa Rendi yang terbengong-bengong melihat adik semata wayangnya ini.  Gemes!  Padahal udah dewasa gini tapi kok kelakuannya itu masih suka seenaknya!  Ditinggalkannya Reva dengan sisa-sisa kekesalan yang sebentar lagi bakal ditumpahkannya pada Ibu.

***

“Bu, tuh Reva mau kabur ke Yogya katanya!”, adu Rendi.  Ibu tertawa mendengarnya.  Sudah hafal kebiasaan anak-anaknya.

“Biarin aja!  Mungkin dia lagi patah hati!”, ujar Ibu.

“Hah??  Patah hati??”, giliran Rendi sekarang yang terkaget-kaget.  Setahunya adiknya ini termasuk makhluk ajaib.  Biarpun cewek tapi mandirinya minta ampun.  Motor kesayangan mogok?  Dia bongkar sendiri!  Lampu kamar tiba-tiba putus?  Dia pun bisa ganti sendiri!  Minta tolong seolah perbuatan langka baginya.  Ehm, kecuali memasak.  Tuh anak emang nggak bisa diharapkan kalau sudah urusan dapur!  Dan satu lagi, cinta.  Dia ini tipikal yang ogah pacaran.  Katanya bikin capek hati.  Nguras isi kantong juga katanya.  Mana hubungan yang dijalanin juga kebanyakan nggak mutu, banyak nipu!  Sampai disini, yang deketin dia bakal keder duluan!  Tapi apa kata Ibu??  Reva patah hati?  Mau tak mau Rendi tergelitik juga.

“Patah hati kenapa sih, Bu?”, tanyanya.

Ibu tersenyum sebelum mengatakan, “Mau tahu atau mau tahu banget??  Kasih tahu nggak yaaa”.  Tak lupa menirukan gaya Rendi dan Reva saat mengucapkannya.  Rendi pun langsung ngakak dibuatnya!

“Ah, Ibu!  Kenapa sih??  Penasaran ini…”, keluh Rendi.

“Udah, biarin aja dia ke Yogya.  Biar dia tenang.  Kalau udah tenang dia pasti cerita sendiri kok…”, ujar Ibu sambil berlalu.  Tinggallah Rendi yang diliputi rasa penasaran!

***

8 Hari Kemudian

“Jadi…bawa oleh-oleh apa nih?”, goda Rendi pada adiknya.

“Ah, buat Abang mah nggak ada kelezzz…”, jawab Reva masih dengan tampang galaknya.

“Ya udah, nggak papa.  Oleh-oleh cerita aja yuk!  Sebenarnya kamu kenapa?”, tanya Rendi tidak sabar.  Ya, dia sudah tak tahan ingin bertanya perihal sesuatu yang dirisaukan saudari kembarnya itu.  Delapan hari ditinggal Reva membuatnya makan tak nyenyak, tidur tak enak.  Eh, kebalik ya?? 😆

“Mau tahu atau mau tahu banget??  Kasih tahu nggak yaaa…”, kali ini Reva yang menggodanya.  Rendi yang tahu suasana hati adiknya sudah balik normal lagi langsung menyeret tangan Reva ke kamar dan mulai mengedip-ngedipkan mata.  Bersikap pura-pura menunggu rahasia terbuka seperti kebiasaan mereka sejak kecil.  Janji diantara mereka itu adalah tak ada rahasia!

“Hmmm…janji nggak akan tertawa?”, buka Reva.  Rendi mengangguk cepat.

“Sebenarnya sih…lagi sentimentil aja!  Kata Ibu, Azzam ngelamar aku ke Ayah..”, lanjut Reva.

“Apa??”, Rendi kaget bukan kepalang.  Azzam kan temannya!

“Wah, awas ya anak itu!!  Kok tiba-tiba langsung ngelamar kamu ke Ayah nggak bilang-bilang aku sih??”, Rendi kesal.

“Udah, biasa aja kali!  Dia takut kamu mngamuk-ngamuk gini nih, makanya langsung ngomong sama Ayah!”, sahut Reva sedikit membela.

“Trus yang bikin patah hati dimana?”, Rendi balik fokus pada rasa penasarannya kemarin.

“Masalahnya aku tuh nggak suka Azzam, Ren!  Aku tuh sukanya orang lain…”, jawab Reva gamblang.  Sekarang Rendi benar-benar terhenyak.  Hah??  Adiknya suka cowok?  Eh, maksudnya ya iyalah adiknya yang cewek ini wajar aja suka cowok.  Tapi dia sebagai saudara kembar kok nggak mudeng ya?

“Siapa??”, Rendi menanti jawaban dengan harap-harap cemas.

“Raka”, jawabnya kalem.  Rendi benar-benar terdiam kemudian.  Ia menarik nafas panjang.  Raka itu teman mereka sekelas pas SMA.  Tapi karena dia anak orang kaya, pinter juga jadinya kuliahnya yaa di luar negeri sana.  Memang sih Raka masih sering komunikasi sama Reva.  Tapi setahu Rendi, beberapa waktu lalu dia main kesini buat nganterin undangan nikah.

“Sejak kapan kamu suka Raka?”, tanya Rendi lemah.

“Sejak lama.  Duluuu banget sampai aku lupa kapan pertama kali suka dia”, sahut Reva sambil tertawa.

“Kok aku nggak tahu sih?”, Rendi sedih menyadari fakta ini.

“Beuh, jangankan kamu!  Aku aja nggak tahu sampai dia ngantar undangan kesini kemaren…”, sahut Reva.

“Hah??  Serius??”, Rendi bingung.  Reva angguk-angguk.

“Kamu tahu kan, dia memang paling deket sama aku.  Pas SMA dia pernah bilang suka gitu!  Tapi akunya males banget pacaran.  Enakan temenan.  Nggak putus, nggak perlu sedih.  Waktu itu gitu aja.  Tapi…”, Reva berhenti sejenak.

“Tapi??”, Rendi mendesak penasaran.

“Mungkin karena dia pernah suka denganku jadi aku yaa ngarepnya dia juga masih suka sampai sekarang.  Makanya aku patah hati banget pas dia nganterin undangan nikahnya kesini…”, ujar Reva sambil tersenyum.

“Kok senyum sih?”, Rendi bingung dengan adiknya ini.

“Tahu nggak dia bilang apa pas kesini?”, tanya Reva.  Rendi geleng-geleng.

“Dia tanya, kapan aku berencana membuka hati buat laki-laki?”, Reva menundukkan kepala.  Satu titik air matanya tiba-tiba tumpah.  Menghilangkan garis senyum yang tadi terhias di bibirnya.

“Waktu itu…entah kenapa hatiku kok rasanya sakit.  Sakiiit banget.  Duh, aku tuh nggak nyangka dia bakal nanya sesuatu yang begitu.  Bahkan ngarepnya dia masih suka aku.  Tapi dia datang kesini malah bawa undangan nikah plus tanya kapan aku berencana membuka hati”, ujar Reva panjang lebar sambil menghapus air matanya canggung.  Rendi agak gagal paham.  Ini beneran patah hati atau cuma ego adiknya saja yang tak rela ditinggalkan mantan fansnya??

“Jadi waktu itu kamu baru sadar kalau kamu suka dia??”, tanya Rendi meyakinkan.

“Hmmm…sebenarnya waktu itu aku juga sadar tentang hal-hal lainnya.  Semisal…ah, rupanya aku sudah semakin dewasa!  Masa putih-abu sudah berlalu, skripsi pun telah lewat.  Sekarang ada karir dan rencana masa depan yang menanti untuk direnungkan.  Dan terutama…banyak hal yang pengen kuhindari ketemu tapi pada akhirnya harus ketemu juga!  Semisal lamaran Azzam itu!”, jelas Reva panjang lebar.

“Kenapa pengen menghindari lamaran Azzam??”, Rendi lagi-lagi gagal paham.

“Karena akhirnya aku tersadarkan.  Oh, aku ini sudah memasuki usia menikah toh??”, sahut Reva dengan tatapan sebal.

“Aku nggak ngerti maksudnya apa…”, Rendi terus-terang.

“Maksudnya…kita ini udah tua, Abang sayang!  Kita udah mesti mikiran pernikahan selain pekerjaan.  Begitu…”, sahut Reva kesal.  Rendi mengangguk-angguk.

“Iya ya??”, ujarnya tersadarkan.  “Aku kok baru kepikiran juga!  Banyak hal terjadi dalam hidup ini sesuatu yang nggak kita duga-duga.  Kamu ternyata suka Raka tapi malah dilamar Azzam, hehe…”, ia terkekeh.  Reva melotot namun Rendi cuek.

“Trus gimana lamaran tuh anak?”, lanjutnya.

“Aku terima aja!”, ujar Reva sambil mengangkat bahunya cuek.

“Hah??”, Rendi syok.

“Ini nih tragedi atau komedi sih, dek??”, keluh Rendi.

“Bukan dua-duanya.  Ini cuma takdir yang Allah tetapkan buat aku, Bang!”, sahut Reva sok bijak.  “Udah kan ni??  Penasarannya udah habis??”, goda Reva pada saudara kembarnya itu.  Yang ditanya masih terdiam sambil memandanginya lama.

“Kenapa?”, tanya Reva.

“Ini pertama kalinya aku lihat kamu nangis karena patah hati.  Baru kali ini kamu kelihatan kayak kembaran cewekku.  Biasanya…”, Rendi langsung pasang ancang-ancang.  Dan benar, tak perlu melanjutkan kalimat pun Reva sudah tahu maksudnya.

“Apa??  Mau bilang apa??”, Reva mulai melayangkan pukulan.  Dan mereka pun mulai mengeluarkan jurus silat masing-masing.

“Aku bakal ingat hari itu…”, ujar Rendi terengah-engah diantara pukulan-pukulan canda mereka.

“Hari apa?”, tanya Reva.  “Hari dimana aku mengepak barang dalam tas kecil, memesan tiket lalu mulai bertualang?”, tebak Reva.  Rendi mengangguk.

“Aku tuh cuma menjauhkan sejenak pilihan sulit yang harus diambil dengan jalan-jalan.  Bukan untuk lari tapi berpikir…”, ujar Reva lagi.  Tapi Rendi menatapnya sinis tak percaya.

“Ehm…beda tipis ya?  Hehe….”, Reva sadar.  “Eh, tapi serius!!  Aku paham kok masalah itu jika ditinggal lari ia akan terus mengejar.  Tak peduli kemanapun destinasi piknik yang membawa gembira, euforianya akan selesai begitu kembali.  Realitas masalahnya memerlukan pemecahan, sebuah solusi konkrit.  Selama belum itu belum ada, ia akan terus memburu…”, tambah Reva.

“Jadi kamu akan menikahi Azzam?”, tanya Rendi.  Reva mengangguk sambil tersenyum manis dan berakting imut.

“Jadi kamu mau melangkahiku??”, ujar Rendi dengan suara galak.  Ah, kali ini rupanya giliran Rendi yang patah hati!  Adiknya yang berusia 23 tahun itu akan segera mendahuluinya menikah.  Padahal kan dia yang lebih dulu lahir ke dunia ini tujuh menit lebih awal.  Ah, emang udah qadha!

#ODOP

#BloggerMuslimahIndonesia

#Day23

Facebooktwittergoogle_pluspinteresttumblrmail

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *