Keesokan harinya, Fatimah segera menghubungi salah satu rekomendasi kenalannya.  Katanya laki-laki itu pandai mencari orang hilang.  Bukan!  Dia bukan paranormal!  Laki-laki itu veteran detektif kepolisian yang saat ini telah pensiun dan sering membantu orang-orang yang memerlukan keahliannya yaitu menemukan orang hilang.  Masalahnya, apakah sama menemukan orang hilang yang identitasnya telah jelas diketahui dengan mencari orang hanya berbekal selembar foto?

Tapi Fatimah pantang putus asa.  Segala sesuatu harus dicoba meskipun persentase keberhasilannya tak seberapa.  Ajaib, satu bulan kemudian kabar baik datang ke emailnya.  Fardan Abda Fazayubdina.  Biasa dipanggil Ayub.  Menamatkan pendidikan S1-nya di salah satu universitas luar negeri terkenal dengan nilai memuaskan.  Prestasinya bagus dan saat ini bekerja sebagai pengembang aplikasi di sebuah lembaga.  Kening Fatimah berkerut-kerut saat membacanya.  Hmmm…ini agak melenceng dari asumsi awalnya.  Sepertinya ia harus memikirkan cara lain untuk menginvestigasi laki-laki itu!

Hari pertama, ia datang ke tempat Ayub bekerja.  Menggunakan jalan wawancara pada salah satu tokoh di lembaga itu yang sedang gencar mensosialisasikan program kegiatannya.  Harapannya bisa masuk dan mencapai tempat terdekat guna mengawasi Ayub.  Sayangnya, tak banyak yang ia dapat karena pengawasan disana cukup ketat.  Hari kedua, Fatimah ngider di sekitar tempat tinggal Ayub yang tercatat di salah satu apartemen elit itu.  Lagi-lagi ia kesulitan masuk karena sistem pengamanannya.  Hari ketiga, ia mulai membuntuti saat laki-laki itu sedang makan siang di sebuah cafe bersama rekan kerjanya.

Fatimah memilih meja yang nyaman baginya untuk memantau mereka tanpa kentara.  Ia ikut memesan makanan demi menyempurnakan penyamaran.  Pura-pura selfie padahal mencuri gambar.  Melihat laki-laki yang selalu tertangkap kamera dengan mata dingin dan waspada itu tertawa lepas, Fatimah seketika menghentikan aktingnya.  Hmmm…ia terlihat seperti laki-laki normal umumnya.  Sebenarnya kenapa ia selalu ada di tempat Fatimah sedang melakukan investigasi?  Apakah ia mengenal pelaku?  Atau korban?  Atau mungkin ia memiliki hubungan dengan dalangnya?  Berbagai pertanyaan berkecamuk dalam benaknya.  Namun ia belum menemukan jawaban dalam penguntitannya.

Begitu terus hingga sebulan lamanya.  Fatimah melacak keluarga dan lingkaran pergaulannya.  Siapa tahu terindikasi berdekatan dengan kelompok separatis.  Nihil!  Ia juga menyusuri media sosialnya, siapa tahu dia tipe laki-laki yang mengumbar kata-kata kasar disana.  Tak ada hasil!  Ia bahkan mengecek data keuangannya, siapa tahu ada sesuatu yang bisa ia temukan disana.  Namun lagi-lagi Fatimah membentur tembok.  Buntu!

Sampai dua hari lalu, ia melihat Ayub keluar pada jam kerjanya dengan terburu-buru.  Fatimah tak membuang waktu, ia segera membuntutinya.  Laki-laki itu menuju bank dan melakukan penarikan tunai.  Kemudian ia singgah di sebuah mall, membeli pakaian baru dan langsung mengenakannya.  Di jalan menuju taksi, laki-laki itu memasang kacamata tebal sebagai tambahan.  Fatimah makin bersemangat.  Inikah saatnya ia menemukan sesuatu dalam investigasinya?

***

Yogya pagi itu dirundung gerimis.  Ayub keluar dari Hotel pagi-pagi buta dan langsung menuju Stasiun Tugu.  Orang-orang setengah berlari saat keluar dari mobil menuju bagian dalam stasiun.  Menghindari basah.  Ayub, entah bagaimana berjalan tenang.  Fatimah yang menguntit di belakang pun akhirnya kebasahan.  Uhhh…Fatimah mengeluh.  Laki-laki ini sebenarnya akan kemana lagi?  Melarikan diri?  Janji temu dengan sang dalang atau kaki tangannya?  Mengapa ia keluar terburu-buru dari kantor hanya demi penampilan tamasya di kota pelajar ini?  Lagi-lagi kepala Fatimah dipenuhi berbagai pertanyaan.

Ayub menuju salah satu restoran dan memesan makanan.  Fatimah yang tak mau kehilangan laki-laki itu dalam pengawasannya pun ikut masuk dan memesan makanan.  Ia memilih duduk di sudut ruangan.  Namun belum sampai lima menit, Ayub berdiri dan keluar.  Fatimah mengumpat dalam hati.  Ia terpaksa bergegas mengikuti laki-laki itu yang terlihat mulai mengecil di hadapannya.  Sepertinya menuju toilet.  Fatimah berjuang memperkecil jarak tanpa membuat curiga.  Banyaknya penumpang kereta setidaknya memberinya keuntungan itu.  Ayub masuk ke toilet.  Lima menit, sepuluh menit, lima belas menit, ia belum keluar.  Fatimah panik.  Aish…jangan-jangan ada dua pintu?  Ia berputar namun tak menemukan pintu lainnya!  Satu pintu?  Dan dia belum keluar?  Pikirannya bergerak cepat!  Ia berlari ke pintu masuk tadi dan langsung menerobos ke dalam.  Seorang bapak yang baru membuka pintu toilet pertama terkejut melihat Fatimah.  Ia melotot dan mengatakan ini toilet pria dengan kasar.  Tapi Fatimah mengabaikannya.  Menyusuri pintu toilet kedua, ketiga, keempat dan kelima yang ternyata kosong melompong.  Fatimah menggeram.  Rupanya laki-laki itu sadar diikuti!  Dan sekarang ia melarikan diri!

***

Fatimah mengepalkan tangan.  Kesal sekaligus marah.  Ini semakin menguatkan kecurigaannya.  Ayub pasti bisa memberikannya jawaban atas kejanggalan-kejanggalan peristiwa itu!  Ia menoleh ke kiri-kanan dan memutuskan mencari di sekitar sana.  Satu jam berputar-putar, lagi-lagi nihil!  Fatimah menduga ia mungkin sudah keluar dari stasiun.  Lelah setelah dua hari terbang dari Jakarta-Yogya, mengikutinya jalan-jalan di seputar Mallioboro dan sekarang mengubek-ngubek stasiun, Fatimah terduduk lemah.  Meneguk air mineralnya dan mulai teringat pertengkarannya dengan Bang Hendra beberapa waktu lalu.

Ia tahu redakturnya orang baik.  Ya, setidaknya dulu pernah jadi orang baik.  Ia telah lama mengenalnya sejak mereka masih tercatat sebagai mahasiswa komunikasi di salah satu universitas bergengsi.   Namun sepertinya dunia kerja sudah melindas idealisme seniornya itu hingga hanya menyisakan seorang pragmatis yang pasrah pada keadaan.   Dan Fatimah merasa lebih gusar pada dirinya sendiri.  Secara ajaib ia bisa memahami mengapa senior panutannya berubah lembek dan menjadikan kode jurnalistik hanya hiasan di atas kertas.  Ini urusan perut.  Urusan hajat besar manusia yang perlu dipenuhi tuntutannya.

“Kamu tahu, jika dalam kacamatamu, laporanmu kemarin layak diberitakan dan media bernaungmu salah sehingga kamu merasa tidak nyaman lagi, pilihannya cuma satu, keluar!  Itu jawaban standar yang akan kamu dengar dariku maupun dari bos.  Tapi jika kemarahanmu itu sampai padanya, kamu masuk black list!  Jadi sebaiknya kamu tenangkan diri”, ujar Mahendra menasehati.

“Tenang?  Bagaimana aku bisa tenang, Bang…mengetahui laporan yang kutulis tiba-tiba menyertakan fakta yang nggak konsisten gitu?  Sejak kapan struk pembelian kuali di minimarket bisa ditemukan dengan mudah di TKP?  Apa Abang pikir teroris begitu dungu hingga harus membawa-bawa hal-hal semacam itu?  Oke, kita anggap dia dungu saja!  Dia beli kuali sekarang lalu dua hari kemudian kuali itu telah berubah menjadi bom?  Wow, betapa terlatihnya si teroris!!  Mungkin aparat perlu belajar dari mereka demi melindungi eksistensi negara kita”, jawab Fatimah dengan sarkasmenya.

“Lagi pula, sejak kapan pemberitaan di media lain bisa muncul sehari sebelum kejadian?  Abang nggak merasa ada yang janggal?  Sebagai jurnalis, Abang nggak ngerasa ada banyak keanehan dalam kasus ini?  Kenapa sih kita harus memberitakan dengan cara yang sama seperti media lain?  Kenapa kita terjebak dalam opini mainstream yang hanya didasari spekulasi?”, cecar Fatimah lagi kemudian ia berhenti sesaat.

“Bayangkan oplah koran kita sehari.  Belum lagi yang diturunkan secara online.  Berapa banyak yang membaca dan terpengaruh dengan opini sesat ini?  Aku nggak sanggup menanggung dosanya, Bang!  Lebih baik aku keluar!”, Fatimah terduduk lalu air matanya pun runtuh.

Mahendra memandangi juniornya itu dan menarik nafas.  “Seperti yang kukatakan, jika kamu bersikeras, silahkan keluar!  Itu pilihan. Itu bentuk idealisme juga.  Tapi coba kamu ukur kembali niat itu.  Apakah dengan keluar dari pekerjaan ini kita bisa menolong lebih banyak korban tertindas dengan berita yang kita bikin. Atau malah kita tak bisa berkontribusi lagi buat masyarakat”, ujarnya lemah.  Itulah yang akhirnya membulatkan tekad Fatimah untuk menginvestigasi kasus ini lebih dalam.  Tapi hanya begitulah kemampuan dirinya.  Ia menarik nafas panjang dan meneguk kembali air mineralnya.

Bersambung… 😉

Catatan :

Jika ada nama tokoh, kejadian maupun alur cerita yang sama atau mirip dengan dunia nyata, maka itu hanya unsur kebetulan.  Semua yang ada dalam cerita ini murni rekayasa belaka 😆

#ODOP

#BloggerMuslimahIndonesia

#Day6

Facebooktwittergoogle_pluspinteresttumblrmail

2 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *