Fatimah berjalan gontai keluar dari stasiun.  Memutuskan mencari hotel di sekitar stasiun dan tidur.  Ia lelah.  Tangannya melambai lemah pada taksi di depannya.  Namun baru saja masuk, Fatimah langsung terperanjat.

“Kamu??”, Ayub duduk di hadapannya sebagai sopir dan langsung menjalankan mobil tanpa komando.  Ia tersenyum lewat kaca spion.  Namun dalam beberapa detik senyumnya hilang dan ia mulai memacu mobilnya.

“Dengar, aku tak punya banyak waktu.  Selain kamu, masih ada yang mengikutiku”, ujarnya dengan suara serius sembari memberi kode ke belakang.

Fatimah memalingkan kepala dan melihat sebuah mobil mengikuti di belakang mereka.  “Siapa mereka?  Kamu nggak sedang bikin drama kan?”, tuduh Fatimah.

“Terserah kamu menganggapnya apa.  Aku sekarang cuma sedang memperingatkanmu.  Kamu sepertinya jurnalis amatiran yang masih polos.  Tak usah terlibat dalam kasus ini jika kamu masih ingin hidup nyaman…”, ujar Ayub sambil berusaha menyalib beberapa mobil di hadapannya semena-mena.  Namun jalanan Yogya di pagi hari jam kerja itu cukup ramai.  Sulit baginya menjauhi mobil yang nyata-nyata mengikuti di belakang.  Bisa dibayangkan akibatnya, tubuh Fatimah terguncang-guncang sehingga ia segera mencari pegangan.

“Apa maksudmu?”, tanya Fatimah.

Ayub tak menyahut.  Ia sibuk mencari jalan alternatif menghindari macet hingga berhasil memasuki ring road utara dan langsung menambah lajunya.  Hati Fatimah mulai jeri membayangkan hal-hal aneh sebagaimana yang sering dilihatnya di film.  Rasanya saat itulah adegan horor itu keluar menjelma sebagai salah satu episode hidupnya.  Sebuah taksi berwarna biru dikemudikan seseorang yang ia duga berhubungan dengan tersangka kasus pemboman menjemputnya.  Sementara sekelompok orang tak dikenal mengikuti di belakang sana.  Lalu apa yang akan terjadi selanjutnya pada si wartawati?  Ah, hanya Allah yang tahu! Tangan Fatimah mencoba menahan guncangan badannya di taksi yang melaju kenjang itu.  Ia mulai berkeringat dingin.

“Apa adegan ini tak bisa memberikanmu gambaran?  Oh, ayolah…kamu tak setolol itu kan?”, ujarnya setengah mengejek Fatimah.  Tapi pandangan matanya masih awas berusaha menjauhi mobil yang masih setia membuntuti.  Di depan sana, Fatimah melihat perempatan jalan.  Masih sepuluh meteran jaraknya sementara mobil yang mengikuti mereka semakin mendekat.  Ring road itu memang tak padat karena hujan.  Namun perhitungan Fatimah mengatakan bahwa mereka takkan mampu mengejar jarak tersebut.  Rambu-rambu lalu lintas sudah berwarna kuning dan dalam beberapa detik akan berubah merah.  Ia tak berencana ngebut dengan posisi ini kan? Fatimah membatin ngeri diikuti wajah pucat pasi!  Tapi Ayub justru makin menambah kecepatan dan nekad menerobos!!  Dan begitulah…lampu merah telah menyala sementara mobil mereka berada tepat di tengah perempatan.  Mobil-mobil dari arah kiri yang seharusnya jalan langsung membunyikan klakson.  Rem berdecit-decit bersamaan.  Ribut!  Tak lupa disertai sumpah serapah beberapa sopir angkot.  Juga erangan beberapa orang yang ngeri melihat dari pinggir jalan.  Fatimah pasrah, memejamkan matanya!  Inikah akhir hidupnya?

“Apakah kamu tak malu menerobos toilet pria?”, ejekan Ayub sontak membuat Fatimah membuka mata.

Mereka berlalu dari perempatan dengan selamat dan meninggalkan mobil yang mengikuti di belakang.  Fatimah mendapati Ayub tersenyum geli.  Perasaannya pun campur aduk antara lega dan marah.  Jelas ia merasa dipermalukan!  Bagaimana tidak?  Laki-laki ini sadar 100 % sedang diikuti lalu mempermainkannya!  Sengaja berhujan agar ia basah.  Dan sengaja mengelabuinya di toilet pria untuk menunjukkan pembalasannya dan membuatnya terjebak?

“Sejak kapan kamu tahu?”, tanya Fatimah ketus.

“Apakah itu penting?”, ia balik bertanya.

“Sepertinya ada hal lain yang sangat ingin kamu ketahui dariku”, ujar Ayub.  Fatimah melotot.

“Hei, ayolah!  Seperti yang kubilang, aku tak punya banyak waktu meladenimu.  Jadi dengarkan aku saja.  Oke?”, dia kemudian memarkir taksi itu di sebuah pasar dan menarik Fatimah keluar diantara keramaian.

“Mau kemana kita?”, tanya Fatimah.  Ayub tak menjawab.  Ia terus menarik Fatimah hingga sampai di ujung jalan.

“Dengar, untuk sementara jangan mencariku.  Aku tahu kamu mencurigaiku.  Tapi aku tak ada hubungan apa-apa dengan kasus yang sedang kamu investigasi.  Percayalah!”, ujar Ayub terburu-buru.

“Dan satu lagi, jangan tunjukkan ketertarikkanmu terhadap kasus itu secara terbuka.  Nyawamu bisa jadi taruhannya…”, tambahnya lagi.

“Kamu mengancamku?”, Fatimah geram menanggapi.

“Ini peringatan, nona wartawan!  Aku punya informasi berguna untuk investigasimu”, ujar Ayub sambil mengeluarkan sebuah Flashdisk hitam dan menyorongkannya ke tangan Fatimah.

“Buka data ini saat kamu sampai di Jakarta.  Jangan menyimpannya di rumahmu apalagi kantor.  Jangan mempublikasikannya tanpa persetujuanku.  Aku akan menghubungimu begitu aku punya kesempatan…”, ujar Ayub sambil mengedipkan mata.  Ia mundur lalu berbalik meninggalkan Fatimah yang termangu di pinggir jalan.

“Hei…”, teriak Fatimah.  Ia ingin protes sekaligus mengajukan banyak pertanyaan.  Tapi melihat senyum Ayub yang sepertinya tulus, ia pun menelannya kembali.  Ayub melambai dan menghilang diantara keramaian.

Bersambung… 😉

Catatan :

Jika ada nama tokoh, kejadian maupun alur cerita yang sama atau mirip dengan dunia nyata, maka itu hanya unsur kebetulan.  Semua yang ada dalam cerita ini murni rekayasa belaka 😆

#ODOP

#BloggerMuslimahIndonesia

#Day9

Facebooktwittergoogle_pluspinteresttumblrmail

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *