Prolog :

Fatimah sudah membuntuti laki-laki itu selama sebulan.  Tanpa sengaja ia tertangkap kamera Fatimah saat menginvestigasi kasus bom kuali tiga bulan yang lalu.  Namun hasilnya nihil!  Ia terlalu bersih.  Tapi justru itulah yang mencurigakan.  Awalnya ia duga matanya lah yang salah mengenali.  Namun foto dikameranya adalah bukti otentik.  Meski laki-laki itu mencoba berkamuflase dengan gaya pakaian berbeda, namun penampilan fisiknya sulit diabaikan.  Dan disinilah Fatimah sekarang.  Putus asa hingga berada pada titik membuntutinya tanpa jeda sejak dua hari lalu dan tiba di stasiun Tugu Yogya.  Aishhh…sebenarnya dia akan kemana?  Melarikan dirikah?

***

28 Februari 2017

Fatimah melempar koran yang terbit hari itu ke atas meja redakturnya sambil menatap nanar.  Mahendra, redaktur senior di sebuah penerbitan terkenal ibukota yang menjadi sasaran kemarahan Fatimah itu hanya balas menatapnya datar.  Ia sudah kenyang menghadapi jurnalis muda seperti Fatimah yang mudah naik darah.

“Kenapa berita yang kutulis berubah bentuk begini?  Ini namanya pemutarbalikkan fakta!”, semprot Fatimah dengan nada geram.

Mahendra menarik nafas pendek dan menjawab, “Ini kebijakan redaksi!”.

“Trus kenapa nggak konfirmasi?!”, Fatimah masih memburu sadis.

“Seandainya aku suruh kamu mengedit tulisan itu sesuai pesanan, apakah kamu akan melakukannya?”, kali ini suara redakturnya mulai meninggi.  Namun demi dilihatnya kilatan benci dimata Fatimah, ia menarik nafas panjang.  Mungkin teringat dirinya sendiri saat muda.  Saat idealisme terjun ke dunia jurnalistik masih begitu murni sebagai sebuah panggilan jiwa.

“Manajemen redaksi punya trek dan tren sendiri terhadap berita yang diturunkan.  Kamu mau menggerutu atau marah, percuma!  Lebih baik manut!”, intonasi suaranya kembali datar.

“Kecuali kalau kamu sanggup menanggung konsekuensinya!”, tambahnya lagi.

***

27 Februari 2017

Fatimah memandangi TKP pemboman itu dengan teliti.  Hiruk pikuk manusia antara takut dan penasaran membuatnya agak kesulitan bergerak.  Ujung pashmina hitamnya sudah beberapa kali ia gunakan mengusap wajahnya yang dipenuhi keringat.  Meski begitu, tangannya tetap jeli mengeluarkan kamera dslr dari tas lalu mulai membidikkan lensa.  Ia dihubungi bosnya 15 menit lalu dalam perjalanan pulang mencari makan.  Hari ini sebetulnya ia tak bertugas, namun rupanya dialah yang paling dekat dengan lokasi kejadian.  Untunglah, ia selalu membawa peralatan perangnya kemanapun pergi.  Bosnya mengatakan salah seorang rekannya, Jefri, akan segera bergabung dengannya.  Namun melihat suasana di sekitar TKP yang kacau, ia tak mau membuang waktu dan memutuskan bergerak cepat.  Fatimah masih bisa melihat sisa-sisa asap.  Juga bau anyir.  Beberapa polisi mencoba menutupi potongan-potongan tubuh korban dengan segala sesuatu seperti kardus yang ada di sekitar TKP.  Lalu sebuah mobil polisi datang diikuti beberapa orang yang langsung turun membawa peralatan evakuasi.

Fatimah terus membidikkan kameranya.  Beberapa kali ia tergencet diantara orang-orang yang penasaran.  Beberapa kali pula ia dihalau karena mencoba menerobos ke lokasi terlalu dekat.  Tapi ia tak kehilangan akal.  Ia memandang berkeliling dan mulai mendengar celoteh manusia-manusia disana.  Mencari celah agar bisa mendapatkan berita eksklusifnya.

“Fat…”, tiba-tiba suara Jefri terdengar dari belakang.  Ia menoleh.  Benar saja.  Rekannya itu setengah berlari menerobos kerumunan orang.  Posturnya yang tinggi besar menguntungkan sehingga mudah mencapai tempat Fatimah berdiri.  “Aku sudah mendapatkan saksi mata dan mewawancarinya”, ujarnya.  Fatimah mengangguk.

Mereka bekerja cepat mengumpulkan bahan berita.  Satu jam kemudian, Fatimah mengeluarkan netbook dan mulai menuliskan fakta di lapangan.  Ketika selesai ia segera mengirimkan berita pada redaktur, mengkonfirmasi via telfon dan kembali mengitari TKP.  Mencoba mencari sesuatu yang lain.  Ia masih belum puas akan satu dua hal.

***

Seminggu kemudian…

Fatimah duduk memandangi monitor komputer dan melihat foto-foto TKP, rumah tersangka, rumah korban dan beberapa tempat lain yang berhubungan dengan investigasinya.  Laporan terbarunya berujung buntu.  Ia belum bisa menemukan jawaban dari keganjilan-keganjilan peristiwa bom itu.  Praduga umum, kejadian itu adalah rekayasa.  Siapa dalang dan targetnya sebenarnya telah terbaca.  Namun bacaan peristiwa tanpa disertai bukti artinya hanyalah spekulasi semata.  Dan itu artinya sia-sia.

Saat itulah tiba-tiba matanya menangkap sesosok laki-laki.  Tinggi sekitar 175 cm, berkulit putih, berjanggut tipis dengan hidung bangir dan pandangan mata tajam yang dingin.  Ia pernah melihatnya!  Tapi dimana?  Fatimah tercekat.  Ya, pertama kali melihatnya saat tanpa sengaja ia menabrak Fatimah di rumah keluarga korban.  Air mineral membasahi jeans hitamnya.  Fatimah mengibas sisa air yang tertinggal sembari mendongakkan kepala pada laki-laki itu.

“Maaf…”, ujarnya singkat dan kemudian beranjak pergi tanpa basa-basi.  Ia melebur bersama penduduk dengan baju koko putihnya.

Jantung Fatimah berdetak kencang.  Semangat yang meredup tiba-tiba kembali hidup.  Instingnya mengatakan ada sesuatu disini.  Fatimah bangkit dari duduknya dan mulai berjalan mondar-mandir dengan bertelanjang kaki di kamarnya yang lengang.  Sinar rembulan di awal Maret menembus jendela rumahnya dan memberi sentuhan tersendiri pada karpet turkinya.  Ketika ia meraih cangkir kopi dan mulai duduk kembali, ia bisa melihat bayangan dirinya yang terpantul di kaca jendela.  “Kamu harus menemukan identitasnya!”, gumamnya.

***

Keesokan harinya, Fatimah segera menghubungi salah satu rekomendasi kenalannya.  Katanya laki-laki itu pandai mencari orang hilang.  Bukan!  Dia bukan paranormal!  Laki-laki itu veteran detektif kepolisian yang saat ini telah pensiun dan sering membantu orang-orang yang memerlukan keahliannya yaitu menemukan orang hilang.  Masalahnya, apakah sama menemukan orang hilang yang identitasnya telah jelas diketahui dengan mencari orang hanya berbekal selembar foto?

Tapi Fatimah pantang putus asa.  Segala sesuatu harus dicoba meskipun persentase keberhasilannya tak seberapa.  Ajaib, satu bulan kemudian kabar baik datang ke emailnya.  Fardan Abda Fazayubdina.  Biasa dipanggil Ayub.  Menamatkan pendidikan S1-nya di salah satu universitas luar negeri terkenal dengan nilai memuaskan.  Prestasinya bagus dan saat ini bekerja sebagai pengembang aplikasi di sebuah lembaga.  Kening Fatimah berkerut-kerut saat membacanya.  Hmmm…ini agak melenceng dari asumsi awalnya.  Sepertinya ia harus memikirkan cara lain untuk menginvestigasi laki-laki itu!

Hari pertama, ia datang ke tempat Ayub bekerja.  Menggunakan jalan wawancara pada salah satu tokoh di lembaga itu yang sedang gencar mensosialisasikan program kegiatannya.  Harapannya bisa masuk dan mencapai tempat terdekat guna mengawasi Ayub.  Sayangnya, tak banyak yang ia dapat karena pengawasan disana cukup ketat.  Hari kedua, Fatimah ngider di sekitar tempat tinggal Ayub yang tercatat di salah satu apartemen elit itu.  Lagi-lagi ia kesulitan masuk karena sistem pengamanannya.  Hari ketiga, ia mulai membuntuti saat laki-laki itu sedang makan siang di sebuah cafe bersama rekan kerjanya.

Fatimah memilih meja yang nyaman baginya untuk memantau mereka tanpa kentara.  Ia ikut memesan makanan demi menyempurnakan penyamaran.  Pura-pura selfie padahal mencuri gambar.  Melihat laki-laki yang selalu tertangkap kamera dengan mata dingin dan waspada itu tertawa lepas, Fatimah seketika menghentikan aktingnya.  Hmmm…ia terlihat seperti laki-laki normal umumnya.  Sebenarnya kenapa ia selalu ada di tempat Fatimah sedang melakukan investigasi?  Apakah ia mengenal pelaku?  Atau korban?  Atau mungkin ia memiliki hubungan dengan dalangnya?  Berbagai pertanyaan berkecamuk dalam benaknya.  Namun ia belum menemukan jawaban dalam penguntitannya.

Begitu terus hingga sebulan lamanya.  Fatimah melacak keluarga dan lingkaran pergaulannya.  Siapa tahu terindikasi berdekatan dengan kelompok separatis.  Nihil!  Ia juga menyusuri media sosialnya, siapa tahu dia tipe laki-laki yang mengumbar kata-kata kasar disana.  Tak ada hasil!  Ia bahkan mengecek data keuangannya, siapa tahu ada sesuatu yang bisa ia temukan disana.  Namun lagi-lagi Fatimah membentur tembok.  Buntu!

Sampai dua hari lalu, ia melihat Ayub keluar pada jam kerjanya dengan terburu-buru.  Fatimah tak membuang waktu, ia segera membuntutinya.  Laki-laki itu menuju bank dan melakukan penarikan tunai.  Kemudian ia singgah di sebuah mall, membeli pakaian baru dan langsung mengenakannya.  Di jalan menuju taksi, laki-laki itu memasang kacamata tebal sebagai tambahan.  Fatimah makin bersemangat.  Inikah saatnya ia menemukan sesuatu dalam investigasinya?

Bersambung… 😉

Catatan :

Jika ada nama tokoh, kejadian maupun alur cerita yang sama atau mirip dengan dunia nyata, maka itu hanya unsur kebetulan.  Semua yang ada dalam cerita ini murni rekayasa belaka 😆

Baca juga :  Sang Tersangka Bagian 2

#ODOP

#BloggerMuslimahIndonesia

#Day5

Facebooktwittergoogle_pluspinteresttumblrmail

4 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *