Yang namanya rejeki itu memang nggak bakal kemana!  Siang menjelang sore kemaren tiba-tiba dapat info kedatangan Mbak Asma Nadia di kota saya.  Eh, katanya ada jumpa fans?  Nggak boleh disia-siakan ini!  Langsung deh daftar karena informasi awalnya hanya untuk 30 seat aja.  Meski bukan fans berat tapi buku-buku beliau sudah lama menemani saya ketika ingin merubah bacaan menjadi lebih Islami.  Zaman masih unyu-unyu, saya baca Aisyah Putri.  Sekarang favorit saya, Cinta di Ujung Sajadah, haha…

Kemaren merupakan pertemuan pertama saya dengan penulis fenomenal yang telah menerbitkan puluhan buku yang nongkrong di barisan best seller ini.  Beberapa diantaranya bahkan difilmkan ya?  Penghargaan pun berderet-deret didapatkan.  Luar biasa!  Ternyata setelah bertemu langsung, sosoknya lebih luar biasa lagi.  Ramah, murah senyum dan yang paling saya suka adalah motivasi-motivasinya saat mendorong kaum muda menulis.

Di awal beliau menceritakan sekilas pengalaman masa kecilnya bersama buku.  Suka membaca tapi karena keterbatasan maka beliau dan kakaknya, Mbak Helvy Tiana Rosa (nah, kalo beliau ini saya fans berat), tak mampu membeli buku.  Datang ke rental buku dipelototin, habis mandangin buku doang sih!  Ke toko buku nggak diizinkan karena pake sendal butut.  Makanya beliau begitu mengapresiasi keberadaan perpustakaan yang menyediakan buku bagi warga secara cuma-cuma.  Apalagi perpustakaan daerah kami yang buka 7 hari, dari pagi sampai malam.  Tempat nyaman dilengkapi wifi gratis.  Kurang apalagi coba??  Beliau sampai mengatakan, “Saya menjadi penulis buku di usia 27 tahun.  Artinya buku saya terbit di usia itu.  Seandainya saya punya fasilitas seperti ini, mungkin saya sudah jadi penulis di usia 21 tahun”.  Duh, makjleb yang ini!

Buku jika dikatakan sebagai jendela dunia, akan memberi pengaruh luar biasa pada orang yang membacanya.  Mbak Asma Nadia sendiri merasakan hal ini.  Saat tak bisa melanjutkan kuliah,  beliau lari pada aktivitas menulis.  Bermanfaat ya??  Jadi beliau menghimbau agar para gadis yang sedang galau, “Nggak usah ngegalauin Mas Joko.  Udahlah nulis aja.  Jadikan kegalauan kita positif dengan menulis…”.  Sontak gadis-gadis pada tersipu-sipu malu, hehe….

“Saya suka menulis namun seringkali stagnan.  Udah dicoba-coba tapi kok rasanya sulit banget ya menyelesaikan satu cerita?”, ini pertanyaan si Mbak yang katanya sering nulis di situs-situs berita berbayar itu!  Pertanyaan ini pasti bukan yang pertama beliau dapatkan ya?  Maka beliau tersenyum lalu bertanya balik, “sudah berapa cerpen yang kamu buat?”.  Empunya pertanyaan pun menjawab dengan jumlah mini.  Mbak Asma tersenyum lagi lalu mengatakan, “Saya dan kakak saya selalu bertanya balik jika ada yang bertanya begini.  Pertama bikin pasti sulit.  Kedua bikin juga sulit.  Tapi setelah kamu melewati angka dua puluh kali maka berikutnya akan terasa lebih mudah.  Kenapa?  Manusia menulis itu seperti pilot.  Ia perlu jam terbang.  Semakin tinggi jam terbang maka semakin lihailah ia mengendarai pesawatnya.  Penulis pun begitu.  Harus setiap hari membiasakan diri menulis!”.

“Saat kuliah dulu saya suka menulis.  Tapi begitu bekerja, saya mulai tersibukkan dengan pekerjaan sehingga saya melupakan aktivitas menulis.  Adakah tips-tips agar menulis menjadi lebih mudah?”, ini pertanyaan dari bu bidan muda.  Mbak Asma lagi-lagi tersenyum dan mengatakan, “Oke.  Saya punya tugas buat kamu.  Coba nanti kamu tulis cerita yang berkaitan dengan pekerjaan kamu sebagai bidan.  Mungkin ada kejadian-kejadian tertentu yang menarik untuk dikisahkan.  Olah itu menjadi sebuah cerita”.  Beliau lalu menceritakan tentang proses persalinan beliau.  Dua kali sesar.  Saat pertama kali, beliau mengalami 30 jam sakitnya diinduksi.  Dokter tetap menganjurkan agar melahirkan normal.  Namun suami beliau ambil keputusan sesar.  Kenapa??  “Bagi dokter, saya hanya salah satu pasiennya, sementara bagi suami, saya adalah segalanya”, kalimat ini langsung dapat cie cie dari pendengar, hehe….

“Saya menulis cerita namun endingnya entah kenapa malah jadi berbeda!”, pertanyaan Mas Blankon ini ehm…mirip sama saya, wkwk….  Mbak Asma menyarankan agar saat menulis membuat semacam kerangka tulisan.  Untuk novel biasanya beliau hanya membuat poin-poin pokok apa saja yang harus ada dalam setiap bab.  Itu sangat membantu dalam proses menulis.  Meskipun beliau katakan, terkadang tulisan kita itu ada takdirnya juga.  Maunya nulis apa mungkin bisa berkembang kemana.  Tinggal kita pilih, apakah mau tetap memegang konsep awal atau berubah!

Sayang, saya tak ada dalam barisan, hehe….

Yang paling saya suka adalah saat seorang remaja bertanya, bagaimana caranya jika ingin menjadi penulis buku.  Jawabannya sederhana.  Baca, baca, baca!  Jangan jadi kutu buku seperti yang selama ini dilekatkan pada para pecinta buku.  Tapi predator buku.  Melihat buku itu rasanya lapar.  Pengen makan!  Kalau sudah begitu maka jalan menjadi penulis akan terbuka.  Membaca karya orang lain, belajar dari karya-karya mereka dan membuat karya sendiri.

Menjadi penulis itu kerjaan yang prestisius.  Tak hanya di dunia namun juga akhirat jika tulisan itu mengajak pada kebaikan.  Motivasi akhirat berupa pahala yang tak ada habis-habisnya meski kita sudah berada dalam dekapan tanah.  Motivasi dunia pun beliau jabarkan jika tulisan kita diterbitkan, disukai lalu difilmkan, diterjemahkan lagi dalam bahasa asing.  Ini adalah pekerjaan yang dilakukan satu kali, namun manfaatnya berkali-kali.  Dunia akhirat.  Jadi, ayo menulis lagi!

#ODOP

#BloggerMuslimahIndonesia

#Day3

Facebooktwittergoogle_pluspinteresttumblrmail

4 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *