Dalam kepala saya jika mendengar kata luar negeri, maka yang terbayang adalah bule berkulit putih, bermata biru, berambut pirang.  Atau sebaliknya, berambut gimbal dengan kulit hitam nan eksotis.  Atau juga, ehm…bermata sipit cute menggoda seperti idol-idol zaman sekolah saya dulu, hehe….  Ups…. 😆

Tapi ajaibnya pikiran itu terganggu ketika Ama bercerita tentang salah satu upacara adat yang dihadiri dua negara tetangga yaitu Malaysia dan Brunei.  Mengapa hadir disini??  Karena ada beberapa sanak keluarga yang konon menikah dengan keluarga kesultanan mereka.  Udah, nggak usah tanya yang mana!  Saya juga nggak kenal dekat kok, hehe….

Inilah yang kemudian memicu rasa penasaran masa kecil.  Kenapa pulau Kalimantan kami ini harus terbagi menjadi tiga negara??  Sebagian besar masuk dalam wilayah Indonesia, sebagian lainnya masuk dalam Malaysia dan Brunei Darussalam.  Sosok yang sama seperti kami, berkulit sawo matang hingga kuning langsat dengan perawakan sedang dan berambut hitam.   Bahkan satu suku dengan kami yang ada di bagian wilayah Indonesia.  Eta terangkanlah!

Kini, suasana panas kembali melingkupi.  Yah, kalau melihat track record selama ini, ketegangan Indonesia-Malaysia nggak cuma tentang insiden saling klaim kebudayaan tapi juga sudah melingkupi berbagai bidang kehidupan.  Dari masalah tapal batas, tenaga kerja, hingga isu-isu seksi lainnya.  Terakhir, pencantuman bendera pada halaman Past Game Host Countries yang terbaliklah pemicunya.  Berbagai reaksi pun muncul ke permukaan.  Tagar #ShameOnYouMalaysia sontak menjadi trend topik sebagai bentuk luapan kekecewaan masyarakat Indonesia.

Menyaksikan fenomena ini, bukan cuma Hayati yang lelah.  Saya pun lelah.  Sejak era Soekarno sampai sekarang ketegangan selalu muncul.  Kalimat-kalimat provokasi semisal Ganyang Malaysia, Malingsia dan sebagainya memposisikan mereka seperti musuh bebuyutan yang tak mungkin dimaafkan.  Seolah Malaysia selalu mengundang kerusuhan.  Padahal kalau mau dirunut, sejak zaman kerajaan Sriwijaya dulu kita ini berada dalam bingkai satu bangsa.  Terus begitu sampai pada masa Majapahit dan awal Kesultanan Islam.  Trus trus…apa yang menyebabkan kita terpisah dan berjalan sendiri-sendiri?

Ternyata karena penjajahan!  Wilayah semenanjung Malaka dan Kalimantan Utara dijajah oleh Inggris, sementara wilayah Sumatera, Kalimantan, Jawa, Sulawesi dan Papua dijajah Belanda.   Maka bercerailah kita!

Mengutip kata-kata @doniriw yang sedang viral, pada dasarnya orang Indonesia dan Malaysia adalah satu bangsa.  Konsep perbedaan bangsa ini adalah sisa hasil penjajahan.  Bahwa bekas jajahan Belanda mendefinisikan diri sebagai Indonesia sementara bekas jajahan Inggris mendefinisikan diri sebagai Malaysia.  Sebelum kedatangan penjajah, mereka sungguh satu bangsa yang melebur.  Maka tak heran jika produk seni dan budaya mereka saling beririsan.  Konon pernyataan ini ia berikan ketika konferensi pers pada acara Asia Musik Festival di Serawak.

Itulah sebabnya ada hari ini, saudara-saudara!  Fenomena suku Melayu menjadi satu bangsa dengan Papua (padahal ras berbeda, budaya pun berbeda), lalu berhadapan dengan orang Melayu di Malaysia (yang satu rumpun dengannya namun dianggap bukan satu bangsa)!  Miris bukan??

Well, bukannya saya nggak rela bersaudara dengan orang Papua ya?  Tapi saya cuma mau bilang, Malaysia dan Indonesia itu pada dasarnya juga bersaudara lho!  Kita merasa berbeda sekarang dengan mereka tak lain berkat jasa penjajah.  Ikatan nasionalistik ini terkadang memang menimbulkan keabsurdan.  Menumbuh-suburkan konflik akibat dibedakan garis batas imajiner yang dibuat penjajah di atas peta.  Pada akhirnya, siapa yang diuntungkan dari konflik sesama muslim ini?  Ah, entahlah!!

#ODOP

#BloggerMuslimahIndonesia

#Day22

Facebooktwittergoogle_pluspinteresttumblrmail

14 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *