Bersepeda di Kebun Raya Bogor

“A traveler without observation is a bird without wings.” – Moslih Eddin Saadi

Ada satu hal paling menggelikan ketika saya pertama kali jalan-jalan ke Kebun Raya Bogor. Sebuah tekad mengelilingi kebun raya dan menikmatinya tanpa alat bantu semisal mobil wisata wara-wiri. Buntutnya sudah bisa ditebak! Begitu pulang, kaki dan badan ini letihnya bagaikan tentara sehabis latihan perang, haha… *lebay mode on 😆

Sebenarnya saya sudah diperingati seorang teman. “Kebun raya itu luas, keliling naik mobil wisata wara-wiri aja biar bisa melihat dari ujung ke ujung”, demikian sarannya.

Tapi saya langsung menyanggah, “Ah, nggak asyik! Mau jalan kaki aja!”. Pede!

Tambah lagi teman jalan saya ketika itu anak kehutanan yang memang sudah biasa naik turun gunung. Klop lah tekad kita berdua! Eh eh, ternyata baru seperberapanya kita berdua sudah ngos-ngosan. Yah, tekad kami memang agak berlebihan sih. Menjelajah area sekitar delapan puluh tujuh hektar di siang hari terik dengan berjalan kaki! Fiuhhh….

Meski begitu…ajaibnya kami berdua tetap tak tertarik menaiki mobil keliling wara-wiri itu. Mata kami justru mengerjap takjub ketika melihat beberapa orang bersepeda. “Ih, asyik yaaa bisa naik sepeda!”, isi hati kami berdua nih!

Satu orang lewat, dua orang lewat, lalu ada juga yang seperti berombongan. “Eh, kok sepedanya pakai plat gitu sih?”, komentar teman. Saya sontak penasaran lalu bertanya pada salah satu pengendaranya.

“Ada penyewaan sepeda, Teh disana…”, tunjuknya pada gerbang masuk kami sebelumnya.

“Hah??”. Kaget kan??

“Emang ada ya?”. Kami sama sekali nggak ingat saat melintas tadi. Penasaran deh! Kami pun segera kembali dari petualangan di area kiri peta. Bermuara di main gate menuju area bunga bangkai (yang sedang tak berbunga), hingga mentok area palem dan kuburan belanda. Melewati jalan kenari kami kembali ke garden shop dekat main gate demi mencari sepeda.

Peta Kebun Raya Bogor

“Dimana??”. Serempak kami mengeluh sebab tak nampak tanda-tanda sepeda disana!

Terpaksa akhirnya melanjutkan perjalanan dari monumen lady rafles teruuus ke kanan peta yang kami foto di depan! Jauhhh…melewati berbagai area. Sampai jembatan gantung! Bahkan jembatan surya lembayung! Dan semuanya dengan jalan kaki! Haha…. 😆

Terbayang kan yah akhirnya tampang kami berdua setelah menjelajah dari pukul sepuluh pagi hingga menjelang ashar itu?? Berminyak, bau dan lelah tiada tara! Tak terhitung air mineral yang bolak-balik kami tuang ke botol minuman. Buah-buah, roti dan makanan lainnya yang tersimpan dalam ransel pun ludes!! Disaat paling ngenes itulah, tepat di pinggir monumen lady rafles menuju kolam gunting tetiba sepeda-sepeda berbaris manis.

“Aaaa…”, kami pun histeris. Rupanya ketika kami kembali tadi, semua sepeda sedang disewa, haha… 😆

Pengalaman ini sungguh menggelikan! Kami duduk di dekat sepeda-sepeda itu lalu berkeluh kesah. Salah satunya tentang ketiadaan info penyewaan sepeda! Ehm…padahal sih itu bukan semata karena ketiadaan info tapi kaminya aja yang nggak inisiatif nyari informasi lebih dulu terkait tempat yang akan dikunjungi, wkwk…. 😆

Maklumlah, saat itu saya memang nggak punya rencana jalan-jalan. Agendanya sih dinas luar dengan jadwal padat dari pagi hingga malam. Kebetulan datang sehari sebelumnya dan itulah satu-satunya kesempatan menjelajah kota. Kebetulan lainnya lagi, ada teman kuliah yang baru setahun pindah ke kota hujan ini. Hitung-hitung sekalian reunian kan??

Pusat Konservasi Tumbuhan (PKT) Kebun Raya – Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) atau kerap disebut Kebun Raya Bogor inilah yang terhitung paling dekat dari lokasi sehingga kami melabuhkan tujuan. Lagipula, pusat penelitian dan pusat konservasi ex-situ tumbuhan terbesar di Indonesia ini tentunya menarik bagi anak pertanian dan kehutanan seperti kami. Konon Kebun Raya Bogor memiliki koleksi tumbuhan sejumlah 12.531 spesimen, yang dikelompokkan ke dalam 3.228 jenis, 1.210 marga, dan 214 suku. Wow!

Makanya begitu ada kesempatan singgah di kota hujan, saya masih selalu suka menikmati hijau tumbuhan disana. Dari yang berumur ratusan tahun hingga tanaman langka ada. Apalagi, ehm…kesempatan menaiki sepedanya! Karena tentu saja saya masih diliputi rasa penasaran, hehe…. 🙂

Kali kedua kesana saya pergi bersama rekan kerja. Sayangnya rencana naik sepeda harus kembali ditangguhkan. Hari itu jumat! Dan ternyata sepeda tidak disewakan pada hari jumat! Alamak, kenapa pula saya tak mencari tahu lagi?? Ckck….

Maka kali ketiga singgah, saya lagi-lagi pergi bersama anak kehutanan yang menemani jalan-jalan pertama kesana. Usia kebun raya di kota hujan ini menginjak 200 tahun pada 18 Mei 2017 lalu. Jadi semakin menarik untuk kembali mengunjunginya kan? 😉

Kami pergi cukup pagi pada hari minggu. Dan jeng jeng…di depan garden shop pun berderet manis si sepeda yang membuat penasaran itu. Saya langsung ngantri beli tiket sewa seharga 15 ribu rupiah per jam. Oh iya, ternyata KTP menjadi jaminannya lho!

Setelahnya kami langsung memilih dan menaikinya. Terus terang, mungkin rasa penasaran bersepeda di kebun raya ini akibat kesukaan saya pada sepeda itu sendiri. Pssttt…sejak sekolah dasar, sepeda merupakan salah satu benda kesayangan saya! 😉

Kami mengayuh pedal perlahan melewati rute persis seperti pertama kali kemari. Mengambil arah kiri peta : dari garden shop melalui jalan kenari hingga mentok ke area palem dan kuburan belanda lalu kembali ke garden shop. Kemudian dari depan monumen lady rafles kami terus ke area kanan menuju cafe yang dihiasi kolam berisi teratai ukuran besar. Di area ini kami menemukan jalur-jalur yang asyik ditempuh dengan sepeda.

Sensasi Bersepeda

Langit cerah seperti perkiraan cuaca dan angin bertiup sepoi-sepoi. Teman saya sampai melepaskan sebelah tangannya dari pegangan sepeda. Menikmati momen bersantai di penghujung minggu itu.

“Teh, boleh nggak saya ambil fotonya pas lagi naik sepeda? Kebetulan dikasih tugas harus ngambil foto berupa objek bergerak nih…”, seorang mahasiswi fotografi menghampiri kami.

“Aneh ya? Tiap kita kesini selalu ada mahasiswa yang minta tolong…”, bisik teman saya.

Tapi kemudian, “Oh, boleh…”, kami menyahut serempak sambil tersenyum dan mulai pasang aksi mengayuh sepeda. 😉

Lelah bahagia setelah main sepeda

*Ditulis setelah kembali dari perjalanan singkat ke Kota Hujan… 😉

#ODOPOKT3

Facebooktwittergoogle_pluspinteresttumblrmail

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *