Sang Tersangka (Bagian 2)

Sang Tersangka (Bagian 2)

Keesokan harinya, Fatimah segera menghubungi salah satu rekomendasi kenalannya.  Katanya laki-laki itu pandai mencari orang hilang.  Bukan!  Dia bukan paranormal!  Laki-laki itu veteran detektif kepolisian yang saat ini telah pensiun dan sering membantu orang-orang yang memerlukan keahliannya yaitu menemukan orang hilang.  Masalahnya, apakah sama menemukan orang hilang yang identitasnya telah jelas diketahui dengan mencari orang hanya berbekal selembar foto? Tapi Fatimah pantang putus asa.  Segala sesuatu harus dicoba meskipun persentase keberhasilannya tak seberapa.  Ajaib, satu bulan kemudian kabar baik datang ke emailnya.  Fardan Abda Fazayubdina.  Biasa dipanggil Ayub.  Menamatkan pendidikan S1-nya di salah satu universitas luar negeri terkenal dengan nilai memuaskan.  Prestasinya bagus dan saat ini bekerja sebagai pengembang aplikasi di sebuah lembaga.  Kening Fatimah berkerut-kerut saat membacanya.  Hmmm...ini agak melenceng dari asumsi awalnya.  Sepertinya ia harus memikirkan cara lain untuk menginvestigasi laki-laki itu! Hari pertama, ia datang ke tempat Ayub bekerja.  Menggunakan jalan wawancara pada salah satu tokoh di lembaga itu yang sedang gencar mensosialisasikan program kegiatannya.  Harapannya bisa masuk dan...
Read More
Akhir Kisah Kita

Akhir Kisah Kita

Suara-suara histeris berkumandang.  IGD dipenuhi korban kecelakaan mobil didampingi sanak keluarga.  Kabarnya dua orang langsung meninggal di tempat sementara delapan orang lainnya terluka parah, termasuk Ayu.  Kutarik nafas panjang, mencoba memahami semua kenyataan ini.  Perempuan itu pagi tadi masih tersenyum manis ketika aku berangkat kerja.  Masih mencerewetiku agar tak melewatkan makan siang saat ia tak ada.  Masih sempat bertanya padaku, ingin dimasakkan apa saat ia datang nanti?  Masih bisa mengeluh tentangku yang lebih sering memeluk kamera dan membuat berita dibanding memperhatikan dirinya.  Aku hanya menertawakan sepintas dan mengoloknya manja.  Tapi lihat sekarang, ia terbaring kesakitan di ruang operasi.  Tak terasa air mata turun disertai pedih yang menusuk dada.  Rasa takut kehilangan dirinya menyerbuku tanpa ampun. *** Siapa yang menyangka kalau aku justru menghabiskan hari-hariku di rumah sakit dan turut jadi incaran para jurnalis.  Korban meninggal dua orang, tiga kritis dan lima lainnya mengalami luka berat.  Kamusnya, semakin banyak korban maka semakin meriah berita disajikan.  Sebagai bagian dari dunia ini, aku bisa memahami...
Read More