Wanita Berhati Cahaya

Wanita Berhati Cahaya

Dua orang wanita duduk di hadapanku.  Satu duduk agak di belakang, wajahnya sembab karena tangis.  Ia tak mau memandangku.  Mungkin juga tak sanggup memandangku.  Atau tak berani??  Sementara satu lainnya duduk tepat di hadapanku.  Sedari awal datang, ia memelukku lama sebelum melepas niqab hitamnya.  Tangannya yang lembut menggenggamku erat sementara suara dalam dan tenangnya mengatakan, “Mbak, maukah menjadi saudariku?  Maukah menikah dengan suamiku?”. *** “Pernah nggak ibu-ibu merasa gelisah?”, aku memulai kajian rutin sore selasa di kompleks perumahan itu. “Pernah, Mbak.  Apalagi kalau sudah akhir bulan...”, sahut seorang ibu yang duduk tak jauh dariku.  Jawaban itu langsung menuai persetujuan sekaligus senyum dan tawa ibu-ibu lainnya. “Jadi mulai tengah bulan sampai akhir bulan itu bawaannya gelisah gitu ya, Bu?”, aku ikut tertawa jadinya sementara mereka mengangguk kuat. “Gelisah disini bukan hanya karena kantong lagi kosong, Bu!  Gelisah yang saya maksud terjadi ketika kita ngerasa kok rasanya hidup ini terasa monoton dan nggak semangat??”.  Aku diam, memperhatikan wajah ibu-ibu peserta kajian hari itu sebelum melanjutkan lagi. “Bisa saja...
Read More