Wanita Berhati Cahaya

Wanita Berhati Cahaya

Dua orang wanita duduk di hadapanku.  Satu duduk agak di belakang, wajahnya sembab karena tangis.  Ia tak mau memandangku.  Mungkin juga tak sanggup memandangku.  Atau tak berani??  Sementara satu lainnya duduk tepat di hadapanku.  Sedari awal datang, ia memelukku lama sebelum melepas niqab hitamnya.  Tangannya yang lembut menggenggamku erat sementara suara dalam dan tenangnya mengatakan, “Mbak, maukah menjadi saudariku?  Maukah menikah dengan suamiku?”. *** “Pernah nggak ibu-ibu merasa gelisah?”, aku memulai kajian rutin sore selasa di kompleks perumahan itu. “Pernah, Mbak.  Apalagi kalau sudah akhir bulan...”, sahut seorang ibu yang duduk tak jauh dariku.  Jawaban itu langsung menuai persetujuan sekaligus senyum dan tawa ibu-ibu lainnya. “Jadi mulai tengah bulan sampai akhir bulan itu bawaannya gelisah gitu ya, Bu?”, aku ikut tertawa jadinya sementara mereka mengangguk kuat. “Gelisah disini bukan hanya karena kantong lagi kosong, Bu!  Gelisah yang saya maksud terjadi ketika kita ngerasa kok rasanya hidup ini terasa monoton dan nggak semangat??”.  Aku diam, memperhatikan wajah ibu-ibu peserta kajian hari itu sebelum melanjutkan lagi. “Bisa saja...
Read More
Popularitas Clara

Popularitas Clara

“Ini Ridwan ya?”, tanya Clara pada laki-laki di hadapannya itu. Yang ditanya memandangnya lekat-lekat.  Ada gurat terkejut sekaligus penasaran di matanya. “Kok bisa sampai sini?”, tanyanya balik. “Ya bisa lah!  Tapi masalahnya, ingat nggak sama aku?”, tanya Clara lagi dengan senyum jahil. “Hehe...”, laki-laki itu tersenyum malu.  Sungkan untuk mengatakan lupa namun juga tak bisa menyembunyikan ekspresi kejujuran tentang penghapusan memorinya yang telah lalu. “Coba ingat-ingat deh!”, tantang Clara. “Hmmm...”, dia memandangi Clara sambil berusaha keras mengumpulkan ingatannya.  Nihil! “Wah, beneran nggak ingat?”, tanya Clara terkejut. Ridwan tersenyum.  Memamerkan deretan gigi putihnya yang bersinar seperti bintang iklan pasta gigi.  Juga lesung pipinya. “Kalo sudah di atas lima tahun biasanya sudah agak-agak lupa nih...”, ujarnya malu. “Ya ampun, dia beneran lupa sama aku!”, keluh Clara setengah histeris.  Sementara Evi berusaha menyembunyikan tawa geli yang sejak tadi ditahannya. Empat Jam sebelumnya.... Bip bip bip....  Sebuah pesan singkat masuk ke handphone Clara, sementara sang pemilik masih antri di depan kasir pembayaran pajak.  Buru-buru ia meraih galaxi note di dalam kantong jilbabnya. “Cepetan ke siniiii...”, sms Evi...
Read More
Aku, Kamu dan Dia

Aku, Kamu dan Dia

Aku tercenung lama di depan komputer yang tak digunakan.  Mataku memang memandangi layar di hadapan namun pikiran jelas sedang berkelana.  Berkas yang sejak tadi harus kuperiksa pun tak tersentuh.  Kubaca sekali dua kali pun pikiranku tetap saja tak mau hinggap disana.  Ia kembali beterbangan mengingat pertanyaan seniorku tadi malam.  “Man, kamu itu sudah saatnya menikah.  Gimana kalau kujodohkan dengan Ratih?”, tanya Bang Irfan. “Hah?  Ratih, Bang?”, aku kaget bukan kepalang!  Aku mengenalnya cukup baik.  Ia rekan sekantor Bang Irfan yang dipindahtugaskan kemari beberapa bulan lalu.  Aku memang baru mengenalnya sebentar namun sudah cukup banyak berinteraksi dengannya.  Kami terlibat kepanitiaan bersama dalam kegiatan kantor dan masyarakat.  Lagipula tempat tugas kami ini terpencil.  Aktivitas kecil sekalipun bisa diketahui tetangga di ujung kampung sehingga sepak terjangnya sering mampir di telingaku meski tak kulihat langsung.  Belum lagi kami terhubung kedekatan pada Bang Irfan.  Aku bersahabat dengan seniorku itu sejak pertama kali bertugas sementara gadis itu dekat dengan istri seniorku tersebut karena mereka satu pengajian. “Serius?”, tak...
Read More