Untuk Sebuah Kehilangan

Aku terbangun. Tubuhku tiba-tiba menggigil. Buru-buru kuraih remote di atas meja di samping ranjang. Mematikan AC kemudian langsung menyembunyikan tubuh lagi di balik selimut. Tapi entah bagaimana si kantuk itu menghilang. Aku berguling dari satu sisi ke sisi lainnya. Mencari posisi nyaman. Berharap si kantuk kembali datang. Tapi gagal! Jadi aku menyerah. Tak sanggup lagi memaksakan mata untuk kembali terpejam. Aku bangkit. Mencoba mengingat letak sakelar lampu kamar. Maklumlah, aku baru tiba sekitar pukul 22.00 WIB tadi setelah melalui perjalanan panjang dari Pontianak. Begitu pesawat mendarat, aku buru-buru mencari taksi online. Malas jika harus naik bis atau transportasi umum lainnya lagi. Tubuhku lelah. Pikiranku lebih-lebih lagi. Dan ketika lampu menyala, tanpa sadar aku menghela nafas. Ya Rabb, lihatlah jam baru menunjukkan pukul satu tiga puluh dinihari. Aku meraih jaket yang tergeletak di atas koper kemudian memakainya. Menghidupkan televisi tanpa memilih jenis siaran ataupun saluran. Aku hanya ingin mendengar suara-suara. Dingin udara subuh serta-merta juga mendorongku beranjak menuang air hangat ke dalam gelas...
Read More