Filosofi Si Bawang Merah

Filosofi Si Bawang Merah

“Kenapa sih dikit-dikit selalu berprasangka begitu?? Kenapa nggak coba dibicarakan dengan ketua tim lalu sampaikan keberatanmu itu!”, perkataan Emma seolah menyengatku. “Kapan aku berprasangka? Aku hanya bertanya dan meminta jawaban.  Kamu salah satu anggota timnya kan? Aku berhak mendapat jawaban jika diminta berperan disana!”, sanggahku dengan suara keras. Entah bagaimana aku tak bisa menahannya. Tanganku tiba-tiba bergetar. Dadaku panas. Dan aku kehilangan minat bicara pada sahabatku. Kalimatnya meremas jantung. *** Malam itu dingin. Alergiku kumat. Namun aku tetap duduk di lobi hotel demi menyelesaikan pekerjaan terakhirku. Besok kami mengadakan sebuah event besar. Meski sudah seharian wara-wiri namun ternyata masih ada yang kurang. Aula hotel masih dipakai hingga pukul 21.00 WIB sehingga tim dekorasi harus bekerja di atas jam tersebut. Sejujurnya ini bukan tugasku. Aku menangani bagian acara. Tapi bagaimana lagi? Anggota tim dekorasi tak bisa standby hingga larut malam. Padahal perannya sangat penting agar acara yang telah kususun berjalan baik. Tanpa pengawasan, bisa saja semua berantakan. Dan disinilah aku, si perfeksionis tim acara yang...
Read More