Filosofi Si Bawang Merah

Filosofi Si Bawang Merah

“Kenapa sih dikit-dikit selalu berprasangka begitu?? Kenapa nggak coba dibicarakan dengan ketua tim lalu sampaikan keberatanmu itu!”, perkataan Emma seolah menyengatku. “Kapan aku berprasangka? Aku hanya bertanya dan meminta jawaban.  Kamu salah satu anggota timnya kan? Aku berhak mendapat jawaban jika diminta berperan disana!”, sanggahku dengan suara keras. Entah bagaimana aku tak bisa menahannya. Tanganku tiba-tiba bergetar. Dadaku panas. Dan aku kehilangan minat bicara pada sahabatku. Kalimatnya meremas jantung. *** Malam itu dingin. Alergiku kumat. Namun aku tetap duduk di lobi hotel demi menyelesaikan pekerjaan terakhirku. Besok kami mengadakan sebuah event besar. Meski sudah seharian wara-wiri namun ternyata masih ada yang kurang. Aula hotel masih dipakai hingga pukul 21.00 WIB sehingga tim dekorasi harus bekerja di atas jam tersebut. Sejujurnya ini bukan tugasku. Aku menangani bagian acara. Tapi bagaimana lagi? Anggota tim dekorasi tak bisa standby hingga larut malam. Padahal perannya sangat penting agar acara yang telah kususun berjalan baik. Tanpa pengawasan, bisa saja semua berantakan. Dan disinilah aku, si perfeksionis tim acara yang...
Read More
Popularitas Clara

Popularitas Clara

“Ini Ridwan ya?”, tanya Clara pada laki-laki di hadapannya itu. Yang ditanya memandangnya lekat-lekat.  Ada gurat terkejut sekaligus penasaran di matanya. “Kok bisa sampai sini?”, tanyanya balik. “Ya bisa lah!  Tapi masalahnya, ingat nggak sama aku?”, tanya Clara lagi dengan senyum jahil. “Hehe...”, laki-laki itu tersenyum malu.  Sungkan untuk mengatakan lupa namun juga tak bisa menyembunyikan ekspresi kejujuran tentang penghapusan memorinya yang telah lalu. “Coba ingat-ingat deh!”, tantang Clara. “Hmmm...”, dia memandangi Clara sambil berusaha keras mengumpulkan ingatannya.  Nihil! “Wah, beneran nggak ingat?”, tanya Clara terkejut. Ridwan tersenyum.  Memamerkan deretan gigi putihnya yang bersinar seperti bintang iklan pasta gigi.  Juga lesung pipinya. “Kalo sudah di atas lima tahun biasanya sudah agak-agak lupa nih...”, ujarnya malu. “Ya ampun, dia beneran lupa sama aku!”, keluh Clara setengah histeris.  Sementara Evi berusaha menyembunyikan tawa geli yang sejak tadi ditahannya. Empat Jam sebelumnya.... Bip bip bip....  Sebuah pesan singkat masuk ke handphone Clara, sementara sang pemilik masih antri di depan kasir pembayaran pajak.  Buru-buru ia meraih galaxi note di dalam kantong jilbabnya. “Cepetan ke siniiii...”, sms Evi...
Read More