Gara-gara Janggut

Gara-gara Janggut

Ikhwan berjanggut? Ehm...ikhwan yang mana nih? Eits, sebenarnya bukan mau ngebahas ikhwan kali ya? Tapi karena janggut itu milik ikhwan, terpaksa deh kita bawa-bawa... :lol: Kisah sebenarnya sih sederhana. Suatu hari saya ngobrol dengan salah satu sahabat. "Eh, gimana kabarnya si ucup?", tanya saya tiba-tiba teringat adiknya yang baru wisuda beberapa waktu lalu. Maka meluncurlah kisah si kakak tentang suka duka si adik melamar pekerjaan dengan latar pendidikan teknik mesinnya. Dari total sekian ratus pelamar di perusahaan tambang itu, hanya puluhan orang yang memenuhi syarat dan mendapat panggilan wawancara. Dan dari sekian orang yang diwawancara, Ucup kelihatannya belum juga memenuhi kriteria. Duh, susah amat ya? Sampai beberapa waktu lalu, Ucup mendadak mendapat panggilan kerja. Memang sih bukan mengisi posisi yang semula dilamar. Tapi justru itu ajaibnya. Ia diminta mengelola cabang usaha lain perusahaan tersebut. Langsung deh saya heboh mendengarnya! "Tahu nggak pas ditanya kenapa dia diterima?", tanya sahabat saya. "Emang apa kata bosnya?", saya penasaran juga akhirnya. "Gara-gara janggut!", jawabnya sambil tertawa geli. Hah?? Nggak salah...
Read More
Sang Tersangka (Bagian 3)

Sang Tersangka (Bagian 3)

Fatimah berjalan gontai keluar dari stasiun.  Memutuskan mencari hotel di sekitar stasiun dan tidur.  Ia lelah.  Tangannya melambai lemah pada taksi di depannya.  Namun baru saja masuk, Fatimah langsung terperanjat. “Kamu??”, Ayub duduk di hadapannya sebagai sopir dan langsung menjalankan mobil tanpa komando.  Ia tersenyum lewat kaca spion.  Namun dalam beberapa detik senyumnya hilang dan ia mulai memacu mobilnya. “Dengar, aku tak punya banyak waktu.  Selain kamu, masih ada yang mengikutiku”, ujarnya dengan suara serius sembari memberi kode ke belakang. Fatimah memalingkan kepala dan melihat sebuah mobil mengikuti di belakang mereka.  “Siapa mereka?  Kamu nggak sedang bikin drama kan?”, tuduh Fatimah. “Terserah kamu menganggapnya apa.  Aku sekarang cuma sedang memperingatkanmu.  Kamu sepertinya jurnalis amatiran yang masih polos.  Tak usah terlibat dalam kasus ini jika kamu masih ingin hidup nyaman...”, ujar Ayub sambil berusaha menyalib beberapa mobil di hadapannya semena-mena.  Namun jalanan Yogya di pagi hari jam kerja itu cukup ramai.  Sulit baginya menjauhi mobil yang nyata-nyata mengikuti di belakang.  Bisa dibayangkan akibatnya, tubuh Fatimah...
Read More
Sang Tersangka (Bagian 2)

Sang Tersangka (Bagian 2)

Keesokan harinya, Fatimah segera menghubungi salah satu rekomendasi kenalannya.  Katanya laki-laki itu pandai mencari orang hilang.  Bukan!  Dia bukan paranormal!  Laki-laki itu veteran detektif kepolisian yang saat ini telah pensiun dan sering membantu orang-orang yang memerlukan keahliannya yaitu menemukan orang hilang.  Masalahnya, apakah sama menemukan orang hilang yang identitasnya telah jelas diketahui dengan mencari orang hanya berbekal selembar foto? Tapi Fatimah pantang putus asa.  Segala sesuatu harus dicoba meskipun persentase keberhasilannya tak seberapa.  Ajaib, satu bulan kemudian kabar baik datang ke emailnya.  Fardan Abda Fazayubdina.  Biasa dipanggil Ayub.  Menamatkan pendidikan S1-nya di salah satu universitas luar negeri terkenal dengan nilai memuaskan.  Prestasinya bagus dan saat ini bekerja sebagai pengembang aplikasi di sebuah lembaga.  Kening Fatimah berkerut-kerut saat membacanya.  Hmmm...ini agak melenceng dari asumsi awalnya.  Sepertinya ia harus memikirkan cara lain untuk menginvestigasi laki-laki itu! Hari pertama, ia datang ke tempat Ayub bekerja.  Menggunakan jalan wawancara pada salah satu tokoh di lembaga itu yang sedang gencar mensosialisasikan program kegiatannya.  Harapannya bisa masuk dan...
Read More