Sang Tersangka (Bagian 3)

Sang Tersangka (Bagian 3)

Fatimah berjalan gontai keluar dari stasiun.  Memutuskan mencari hotel di sekitar stasiun dan tidur.  Ia lelah.  Tangannya melambai lemah pada taksi di depannya.  Namun baru saja masuk, Fatimah langsung terperanjat. “Kamu??”, Ayub duduk di hadapannya sebagai sopir dan langsung menjalankan mobil tanpa komando.  Ia tersenyum lewat kaca spion.  Namun dalam beberapa detik senyumnya hilang dan ia mulai memacu mobilnya. “Dengar, aku tak punya banyak waktu.  Selain kamu, masih ada yang mengikutiku”, ujarnya dengan suara serius sembari memberi kode ke belakang. Fatimah memalingkan kepala dan melihat sebuah mobil mengikuti di belakang mereka.  “Siapa mereka?  Kamu nggak sedang bikin drama kan?”, tuduh Fatimah. “Terserah kamu menganggapnya apa.  Aku sekarang cuma sedang memperingatkanmu.  Kamu sepertinya jurnalis amatiran yang masih polos.  Tak usah terlibat dalam kasus ini jika kamu masih ingin hidup nyaman...”, ujar Ayub sambil berusaha menyalib beberapa mobil di hadapannya semena-mena.  Namun jalanan Yogya di pagi hari jam kerja itu cukup ramai.  Sulit baginya menjauhi mobil yang nyata-nyata mengikuti di belakang.  Bisa dibayangkan akibatnya, tubuh Fatimah...
Read More
Sang Tersangka (Bagian 2)

Sang Tersangka (Bagian 2)

Keesokan harinya, Fatimah segera menghubungi salah satu rekomendasi kenalannya.  Katanya laki-laki itu pandai mencari orang hilang.  Bukan!  Dia bukan paranormal!  Laki-laki itu veteran detektif kepolisian yang saat ini telah pensiun dan sering membantu orang-orang yang memerlukan keahliannya yaitu menemukan orang hilang.  Masalahnya, apakah sama menemukan orang hilang yang identitasnya telah jelas diketahui dengan mencari orang hanya berbekal selembar foto? Tapi Fatimah pantang putus asa.  Segala sesuatu harus dicoba meskipun persentase keberhasilannya tak seberapa.  Ajaib, satu bulan kemudian kabar baik datang ke emailnya.  Fardan Abda Fazayubdina.  Biasa dipanggil Ayub.  Menamatkan pendidikan S1-nya di salah satu universitas luar negeri terkenal dengan nilai memuaskan.  Prestasinya bagus dan saat ini bekerja sebagai pengembang aplikasi di sebuah lembaga.  Kening Fatimah berkerut-kerut saat membacanya.  Hmmm...ini agak melenceng dari asumsi awalnya.  Sepertinya ia harus memikirkan cara lain untuk menginvestigasi laki-laki itu! Hari pertama, ia datang ke tempat Ayub bekerja.  Menggunakan jalan wawancara pada salah satu tokoh di lembaga itu yang sedang gencar mensosialisasikan program kegiatannya.  Harapannya bisa masuk dan...
Read More
Sang Tersangka (Bagian 1)

Sang Tersangka (Bagian 1)

Prolog : Fatimah sudah membuntuti laki-laki itu selama sebulan.  Tanpa sengaja ia tertangkap kamera Fatimah saat menginvestigasi kasus bom kuali tiga bulan yang lalu.  Namun hasilnya nihil!  Ia terlalu bersih.  Tapi justru itulah yang mencurigakan.  Awalnya ia duga matanya lah yang salah mengenali.  Namun foto dikameranya adalah bukti otentik.  Meski laki-laki itu mencoba berkamuflase dengan gaya pakaian berbeda, namun penampilan fisiknya sulit diabaikan.  Dan disinilah Fatimah sekarang.  Putus asa hingga berada pada titik membuntutinya tanpa jeda sejak dua hari lalu dan tiba di stasiun Tugu Yogya.  Aishhh...sebenarnya dia akan kemana?  Melarikan dirikah? *** 28 Februari 2017 Fatimah melempar koran yang terbit hari itu ke atas meja redakturnya sambil menatap nanar.  Mahendra, redaktur senior di sebuah penerbitan terkenal ibukota yang menjadi sasaran kemarahan Fatimah itu hanya balas menatapnya datar.  Ia sudah kenyang menghadapi jurnalis muda seperti Fatimah yang mudah naik darah. “Kenapa berita yang kutulis berubah bentuk begini?  Ini namanya pemutarbalikkan fakta!”, semprot Fatimah dengan nada geram. Mahendra menarik nafas pendek dan menjawab, “Ini kebijakan redaksi!”. “Trus kenapa...
Read More
Akhir Kisah Kita

Akhir Kisah Kita

Suara-suara histeris berkumandang.  IGD dipenuhi korban kecelakaan mobil didampingi sanak keluarga.  Kabarnya dua orang langsung meninggal di tempat sementara delapan orang lainnya terluka parah, termasuk Ayu.  Kutarik nafas panjang, mencoba memahami semua kenyataan ini.  Perempuan itu pagi tadi masih tersenyum manis ketika aku berangkat kerja.  Masih mencerewetiku agar tak melewatkan makan siang saat ia tak ada.  Masih sempat bertanya padaku, ingin dimasakkan apa saat ia datang nanti?  Masih bisa mengeluh tentangku yang lebih sering memeluk kamera dan membuat berita dibanding memperhatikan dirinya.  Aku hanya menertawakan sepintas dan mengoloknya manja.  Tapi lihat sekarang, ia terbaring kesakitan di ruang operasi.  Tak terasa air mata turun disertai pedih yang menusuk dada.  Rasa takut kehilangan dirinya menyerbuku tanpa ampun. *** Siapa yang menyangka kalau aku justru menghabiskan hari-hariku di rumah sakit dan turut jadi incaran para jurnalis.  Korban meninggal dua orang, tiga kritis dan lima lainnya mengalami luka berat.  Kamusnya, semakin banyak korban maka semakin meriah berita disajikan.  Sebagai bagian dari dunia ini, aku bisa memahami...
Read More