Aku, Kamu dan Dia

Aku, Kamu dan Dia

Aku tercenung lama di depan komputer yang tak digunakan.  Mataku memang memandangi layar di hadapan namun pikiran jelas sedang berkelana.  Berkas yang sejak tadi harus kuperiksa pun tak tersentuh.  Kubaca sekali dua kali pun pikiranku tetap saja tak mau hinggap disana.  Ia kembali beterbangan mengingat pertanyaan seniorku tadi malam.  “Man, kamu itu sudah saatnya menikah.  Gimana kalau kujodohkan dengan Ratih?”, tanya Bang Irfan. “Hah?  Ratih, Bang?”, aku kaget bukan kepalang!  Aku mengenalnya cukup baik.  Ia rekan sekantor Bang Irfan yang dipindahtugaskan kemari beberapa bulan lalu.  Aku memang baru mengenalnya sebentar namun sudah cukup banyak berinteraksi dengannya.  Kami terlibat kepanitiaan bersama dalam kegiatan kantor dan masyarakat.  Lagipula tempat tugas kami ini terpencil.  Aktivitas kecil sekalipun bisa diketahui tetangga di ujung kampung sehingga sepak terjangnya sering mampir di telingaku meski tak kulihat langsung.  Belum lagi kami terhubung kedekatan pada Bang Irfan.  Aku bersahabat dengan seniorku itu sejak pertama kali bertugas sementara gadis itu dekat dengan istri seniorku tersebut karena mereka satu pengajian. “Serius?”, tak...
Read More
Terminal Cinta Alya

Terminal Cinta Alya

Namaku Alya. Aku dua puluh tiga tahun lewat dua bulan. Usiaku sudah bukan mainan dalam memutuskan perkara penting dalam hidupku. Apa yang ingin kulakukan, apa yang benar-benar kuinginkan dalam hidup, aku jelas mengetahuinya dan sedang menuju ke sana. Termasuk cinta. Dalam kepalaku, profil laki-laki impian dan gambaran cinta seperti apa yang ingin kujalani sudah tergambar dengan jelas. Pernikahan dengan seorang laki-laki sholeh yang akan menjadi pemimpin bagiku, juga anak-anakku kelak dengan landasan cinta karena Allah. Pernikahan barokah yang diawali dengan proses yang halal, tanpa melanggar syariah-Nya dari awal hingga akhir. Ya, aku sedang menuju kesana saat tiba-tiba tujuanku terhenti. Aku merasa seperti penumpang bus, sedang berdiri di terminal untuk beberapa lama. Menunggu bus yang akan mengantar ke tujuan dengan selamat. Bus yang searah dengan tujuanku. Tapi tiba-tiba saja aku tergoda untuk menaiki bus lainnya. Bukan hanya satu tapi dua. Oh, kupikir aku gila!!! Hari itu…di bandara Syamsudinnoor semuanya dimulai. Jadwal penerbangan pukul 13.50 Wita telah membuatku berada di sana satu setengah jam lebih...
Read More
Hujan dan Jas Hujan

Hujan dan Jas Hujan

Aku menyukai hujan.  Begitu menyukainya hingga sering menantikannya.  Semakin lebat, semakin dingin, semakin aku menyukainya.  Tak seperti orang lain yang otomatis berteduh saat tetes-tetes bening itu turun, aku dengan senang hati bermain dengannya.  Tak peduli dengan rasa dingin yang menusuk tulang, tak menghiraukan petir yang kadang menghiasi suasana.  Sejak aku mengenalnya di usia belia, aku selalu mencari cara agar bisa bersamanya.  Menunggu di ujung talang air di samping rumah, agar curahannya bisa menghujaniku semakin deras. Biasanya Ibu akan memberi kesempatan bermain sejenak sebelum beliau menghentikan cengkeramaku bersama hujan, memandikan lalu membungkusku dengan pakaian tebal.  Tak lupa segelas susu cokelat yang mengepul hangat.  Begitu selalu.  Bahkan jika hujan turun saat aku pulang sekolah, aku akan menerobosnya penuh suka cita.  Mungkin itu juga salah satu alasan aku tak menyukai jas hujan. Logikaku begitu sederhana...aku menyukai hujan ini, jadi mengapa aku harus berlindung darinya?  Bukankah takkan menyenangkan jika aku memakainya? “Kriiiiing...”, telfon di ruang tamu membuatku meletakkan gelas berisi teh beraroma melati yang menghangatkan dua telapak...
Read More