Wanita Berhati Cahaya

Wanita Berhati Cahaya

Dua orang wanita duduk di hadapanku.  Satu duduk agak di belakang, wajahnya sembab karena tangis.  Ia tak mau memandangku.  Mungkin juga tak sanggup memandangku.  Atau tak berani??  Sementara satu lainnya duduk tepat di hadapanku.  Sedari awal datang, ia memelukku lama sebelum melepas niqab hitamnya.  Tangannya yang lembut menggenggamku erat sementara suara dalam dan tenangnya mengatakan, “Mbak, maukah menjadi saudariku?  Maukah menikah dengan suamiku?”. *** “Pernah nggak ibu-ibu merasa gelisah?”, aku memulai kajian rutin sore selasa di kompleks perumahan itu. “Pernah, Mbak.  Apalagi kalau sudah akhir bulan...”, sahut seorang ibu yang duduk tak jauh dariku.  Jawaban itu langsung menuai persetujuan sekaligus senyum dan tawa ibu-ibu lainnya. “Jadi mulai tengah bulan sampai akhir bulan itu bawaannya gelisah gitu ya, Bu?”, aku ikut tertawa jadinya sementara mereka mengangguk kuat. “Gelisah disini bukan hanya karena kantong lagi kosong, Bu!  Gelisah yang saya maksud terjadi ketika kita ngerasa kok rasanya hidup ini terasa monoton dan nggak semangat??”.  Aku diam, memperhatikan wajah ibu-ibu peserta kajian hari itu sebelum melanjutkan lagi. “Bisa saja...
Read More
Aku, Kamu dan Dia

Aku, Kamu dan Dia

Aku tercenung lama di depan komputer yang tak digunakan.  Mataku memang memandangi layar di hadapan namun pikiran jelas sedang berkelana.  Berkas yang sejak tadi harus kuperiksa pun tak tersentuh.  Kubaca sekali dua kali pun pikiranku tetap saja tak mau hinggap disana.  Ia kembali beterbangan mengingat pertanyaan seniorku tadi malam.  “Man, kamu itu sudah saatnya menikah.  Gimana kalau kujodohkan dengan Ratih?”, tanya Bang Irfan. “Hah?  Ratih, Bang?”, aku kaget bukan kepalang!  Aku mengenalnya cukup baik.  Ia rekan sekantor Bang Irfan yang dipindahtugaskan kemari beberapa bulan lalu.  Aku memang baru mengenalnya sebentar namun sudah cukup banyak berinteraksi dengannya.  Kami terlibat kepanitiaan bersama dalam kegiatan kantor dan masyarakat.  Lagipula tempat tugas kami ini terpencil.  Aktivitas kecil sekalipun bisa diketahui tetangga di ujung kampung sehingga sepak terjangnya sering mampir di telingaku meski tak kulihat langsung.  Belum lagi kami terhubung kedekatan pada Bang Irfan.  Aku bersahabat dengan seniorku itu sejak pertama kali bertugas sementara gadis itu dekat dengan istri seniorku tersebut karena mereka satu pengajian. “Serius?”, tak...
Read More
Terminal Cinta Alya

Terminal Cinta Alya

Namaku Alya. Aku dua puluh tiga tahun lewat dua bulan. Usiaku sudah bukan mainan dalam memutuskan perkara penting dalam hidupku. Apa yang ingin kulakukan, apa yang benar-benar kuinginkan dalam hidup, aku jelas mengetahuinya dan sedang menuju ke sana. Termasuk cinta. Dalam kepalaku, profil laki-laki impian dan gambaran cinta seperti apa yang ingin kujalani sudah tergambar dengan jelas. Pernikahan dengan seorang laki-laki sholeh yang akan menjadi pemimpin bagiku, juga anak-anakku kelak dengan landasan cinta karena Allah. Pernikahan barokah yang diawali dengan proses yang halal, tanpa melanggar syariah-Nya dari awal hingga akhir. Ya, aku sedang menuju kesana saat tiba-tiba tujuanku terhenti. Aku merasa seperti penumpang bus, sedang berdiri di terminal untuk beberapa lama. Menunggu bus yang akan mengantar ke tujuan dengan selamat. Bus yang searah dengan tujuanku. Tapi tiba-tiba saja aku tergoda untuk menaiki bus lainnya. Bukan hanya satu tapi dua. Oh, kupikir aku gila!!! Hari itu…di bandara Syamsudinnoor semuanya dimulai. Jadwal penerbangan pukul 13.50 Wita telah membuatku berada di sana satu setengah jam lebih...
Read More