Negeri Sakti

Negeri Sakti

Hei...pernahkah kamu mendengar tentang Negeri Sakti? Jika belum, mari saya ceritakan sedikit. Maklumlah, baru-baru ini saya sedang doyan jalan-jalan. Jadi bawaannya pengen cerita tentang kesan-kesan pada sesuatu yang dilihat dan rasakan. Kok yaaa...kalau dipendam itu sayang pake bingits! Lagipula katanya, kalau nggak dikeluarin malah bisa jadi penyakit! Bahaya kan?? Adapun tentang Negeri Sakti ini, saya sudah mendengarnya sejak lama. Ama pernah mendongeng di masa kecil, "Nak, orang bilang negeri yang dipimpin trah para bangsawan itu banyak dzalim. Ia membedakan manusia berdasarkan darah yang sejatinya berwarna merah. Tapi tahukah kamu? Hakikat kekuasaan itu sama saja. Lihatlah Negeri Sakti..." Lalu mengalirlah kisahnya. Bahwa pemimpin negerinya tak disebut raja namun presiden. Tapi kekuasaannya sama, tak mengenal batas dan waktu juga. "Jadi bisa seumur hidup, Ma?", tanya saya yang masih polos. "Teorinya sih nggak bisa, Nak! Tapi namanya juga Negeri Sakti. Siapapun yang berkuasa, dia boleh bikin aturan. Dan aturan itu disetting seolah rakyatlah yang menginginkannya...". Saya manggut-manggut padahal tak terlalu mengerti maksudnya. Beberapa tahun kemudian, kami menyaksikan hal baru....
Read More
Lempari Saja Aku Batu!

Lempari Saja Aku Batu!

Tak ada manusia sempurna. Tak ada manusia yang tak pernah salah. Tapi manusia bisa belajar menjadi sosok yang lebih baik dari kesalahan-kesalahan masa lalunya. "Nih, pegang...", seorang laki-laki menyodorkan toples. Aku yang sedang menikmati pertumbuhan tanaman kedelai di kebun pun agak terheran. Cowok itu sedang apa?? "Ada ulaaat...", dia menangkap satu ulat daun kecil. Kalau mau jujur, aku takut dengan binatang itu!! Hiiiiyyy...rasanya geli dan ingin melarikan diri. Tapi anehnya, aku tak beranjak. Malahan membuka tutup toples dan menyorongkan ke hadapannya dengan santai. Dia tersenyum. Ehm...yang senyum itu si cowok yaa?? Bukan ulatnya! Lalu dia balik ke rumpun tanaman dan kembali berburu serangga. Ya, hari itu kami pengamatan hama dan penyakit tanaman. Cowok ini kesukaanku. Aku bahkan pernah iseng beberapa kali nitip salam padanya melalui teman cowokku yang lain. Tapi tak sekalipun dia membalasnya. Dikenalkan dia adem. Diajak nongkrong bareng dia cool. Tak satu pun sinyalku dibalasnya. Apes banget yaa? :cry: "Kos kamu dimana?", tanyanya dengan nada lembut. Ia tiba-tiba berbalik lalu memasukkan...
Read More
Mencari Sakura di Cibodas

Mencari Sakura di Cibodas

                        Satu hal yang paling saya suka saat membaca komik atau menonton kartun Jepang ketika kecil adalah melihat ilustrasi pohon sakura berbunga. Duh duh, rasanya gimanaaa gitu yah melihat para tokoh itu duduk menggelar tikar di bawah rindang pohon penuh bunga. Putih dengan sedikit pink, kuning muda, pink, hijau muda bahkan merah menyala. Semua mekar bersamaan sementara matahari musim semi bersinar lembut dan angin bertiup sepoi. Pas banget deh buat piknik keluarga sambil bermain juga membaca di bawahnya. Atau lain waktu, tokoh utama sedang jalan kaki. Dari ujung ke ujung, jalanan yang dilaluinya dipenuhi pohon sakura. Beberapa kelopak bunga melayang dan jatuh di bahu atau kepalanya. Mungkin karena tiupan angin atau mungkin juga karena sudah mendekati masa rontoknya. Terkadang jika angin agak kencang, kelopak bunga berjatuhan laksana rintik hujan. Hanya dengan membuka telapak tangan, helaian indah itu pun bisa kita sentuh. Ah, drama banget ya? Haha.... :lol: Itulah sebabnya, salah satu impian masa kecil saya, selain menjelajahi negeri empat musim (karena ehm...pengen nemu...
Read More
Sensasi Bersepeda di Kebun Raya

Sensasi Bersepeda di Kebun Raya

“A traveler without observation is a bird without wings.” – Moslih Eddin Saadi Ada satu hal paling menggelikan ketika saya pertama kali jalan-jalan ke Kebun Raya Bogor. Sebuah tekad mengelilingi kebun raya dan menikmatinya tanpa alat bantu semisal mobil wisata wara-wiri. Buntutnya sudah bisa ditebak! Begitu pulang, kaki dan badan ini letihnya bagaikan tentara sehabis latihan perang, haha... *lebay mode on :lol: Sebenarnya saya sudah diperingati seorang teman. "Kebun raya itu luas, keliling naik mobil wisata wara-wiri aja biar bisa melihat dari ujung ke ujung", demikian sarannya. Tapi saya langsung menyanggah, "Ah, nggak asyik! Mau jalan kaki aja!". Pede! Tambah lagi teman jalan saya ketika itu anak kehutanan yang memang sudah biasa naik turun gunung. Klop lah tekad kita berdua! Eh eh, ternyata baru seperberapanya kita berdua sudah ngos-ngosan. Yah, tekad kami memang agak berlebihan sih. Menjelajah area sekitar delapan puluh tujuh hektar di siang hari terik dengan berjalan kaki! Fiuhhh.... Meski begitu...ajaibnya kami berdua tetap tak tertarik menaiki mobil keliling wara-wiri itu. Mata kami...
Read More
12